Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Rokok kretek sering disuarakan sebagai warisan budaya takbenda (intangible) Indonesia karena sejarah panjangnya, inovasi lokal tembakau-cengkehnya, dan perannya dalam identitas sosial masyarakat, terutama di Jawa.
Kretek sendiri juga diakui sebagai kreasi asli masyarakat Nusantara, yang memadukan tembakau dengan cengkeh kering. Sementara nama “kretek” muncul dari bunyi khas saat rokok tersebut dibakar. Ramuan saus cengkeh ini membedakan rasa kretek dari rokok tembakau biasa di dunia.
Kretek Dalam Seni

Karenanya Rokok kretek diakui sebagai warisan budaya takbenda Indonesia. Perpaduan tembakau dan cengkehnya, yang berakar dari tradisi Jawa, menjadi simbol sosial-ekonomi, dan kini juga dilestarikan melalui seni pertunjukan seperti Tari Kretek.
Tari Kretek adalah tarian kreasi baru khas Kudus, Jawa Tengah. Tarian ini menggambarkan aktivitas buruh perempuan di industri rokok kretek, mulai dari membatil (merapikan), melinting, hingga mengepakkan, serta peran mandor.

Bahkan ada film yang berjudul “Gadis Kretek”. Ini adalah serial original Netflix Indonesia (2023) garapan Kamila Andini dan Ifa Isfansyah, yang diadaptasi dari novel Ratih Kumala.
Sebuah brand rokok, Wismilak, memproduksi berbagai jenis rokok kretek berkualitas, yang meliputi Sigaret Kretek Tangan (SKT) dan Sigaret Kretek Mesin (SKM). Merek populernya meliputi Wismilak Diplomat (Premium Blend), Wismilak Spesial, Wismilak Slim, serta varian inovatif seperti Diplomat Mild, Evo, dan Galant.

Wismilak dan Kota Surabaya sendiri memiliki ikatan sejarah yang sangat kuat, bukan hanya sebagai tempat berdirinya perusahaan rokok terkemuka tersebut, tetapi juga karena jejak arsitektur dan sejarah sosial di kota tersebut. PT Wismilak Inti Makmur Tbk didirikan di Surabaya pada tahun 1962 dan tumbuh menjadi salah satu produsen rokok utama di Indonesia.
Keterkaitan sejarah lokal itu tervisualkan melalui Graha Wismilak, yang secara historis melestarikan salah satu bangunan cagar budaya penting di Surabaya, yang mencerminkan transformasi sejarah dari masa kolonial, pendudukan Jepang, hingga masa kemerdekaan serta masa depan.
Graha Wismilak, yang terletak di perempatan Jl. Raya Darmo dan Jl. Dr. Soetomo, Surabaya, adalah cagar budaya penting (ber SK Walikota 1996), yang dibangun sekitar tahun 1920-an dengan gaya kolonial Belanda.
Tidak hanya melalui gedung bersejarahnya, melainkan juga melalui produksi kretek legendaris Nusantara dan dukungan terhadap giat giat kebudayaan yang ada di Surabaya. Salah kegiatan itu adalah dukungan terhadap penulisan Buku Sketsa Kota Lama Surabaya yang memang dibuat demi upaya pelestarian warisan budaya yang baik yang bersifat benda (tangible) dan tak benda (intangible).
Dukungan Kegiatan Seni dan Budaya
Dukungan terhadap kegiatan kegiatan pelestarian cagar budaya merupakan upaya kolektif yang tidak hanya dari pemerintah, tetapi juga dari masyarakat, dan pihak swasta untuk melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkan warisan budaya agar tetap lestari dan memberikan manfaat bagi generasi sekarang maupun mendatang.

Wismilak bersama Puri Aksara Rajapatni turut merawat kawasan cagar budaya di Kota Lama Surabaya, yang tidak hanya menyimpan peninggalan bangunan bangunan bersejarah, tetapi ada jejak ruang yang masih menyimpan warisan budaya yang bersifat tak benda (intangible).
Warisan budaya Tak Benda ini meliputi cerita, sejarah, dan nilai budaya yang melekat pada lokasi (intangible) tersebut. Melalui buku Sketsa Kota Lama Surabaya dengan gambar gambar sketsa menerangkan nilai sosial budaya, yang terjadi di masa kini. Buku ini sekaligus upaya pendokumentasian atas dinamika sosial budaya yang terjadi pada masa kini untuk masa depan.
KITLV – Recording the Future
Sebagai perbandingan, pihak KITLV yang datang ke Surabaya justru merekam dan mendokumentasikan Surabaya tidak hanya masa sekarang, tetapi juga masa depan dalam programnya yang bernama “Recording the Future”.
“Recording the Future” (RtF) adalah proyek penelitian dan arsip audiovisual jangka panjang, yang dikelola oleh KITLV (Institut Kerajaan Belanda untuk Kajian Asia Tenggara dan Karibia) bekerja sama dengan PRMB-BRIN (Pusat Riset Masyarakat dan Budaya Badan Riset dan Inovasi Nasional).
Sementara buku Sketsa Kota Lama Surabaya dirancang serial, yang terbitan seri pertamanya adalah bertema Kampung Eropa. Selanjutnya akan ada Kampung Pecinan, Kampung Melayu-Arab dan Kampung Kampung ikonik lainnya di Surabaya.
Surabaya punya beberapa sketcher bertalenta lainnya yang memungkinkan dalam kolaborasi nantinya. Surabaya masih punya banyak cerita. (PAR/nng)
