Menerawang Kota Lama Surabaya 

Sejarah, Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Ada sebuah lukisan super langka. Lukisan itu menggambarkan Surabaya di paruh kedua abad 18. Pukisnya adalah Johannes Rach. Lukisan langka itu menggambarkan wajah Surabaya, yang berdiri di lahan sisi Barat Kalimas, tepatnya di barat jembatan legendaris Jembatan Merah, yang kala itu (dalam lukisan) belum ada jembatannya. Tapi sudah ada sarana penyeberangan yang berupa tambangan (nambang).

Lukisan wajah kota Surabaya oleh Johannes Rach. Foto: ist

Lokasi tambangan itu kini menjadi Jembatan Merah, yang sebelumnya berupa jembatan yang bagian tengahnya bisa diangkat (ophaalbrug). Jadi, kalau ada perahu perahu yang lewat, ophaalbrug nya bisa diangkat. Dulu, di era yang sama, beberapa jembatan lainnya di Surabaya juga bisa diangkat. Demikian diceritakan dalam buku Oud Soerabaia (GH. Von Faber) dan Soerabaja 1900-1950 (Asia Maior).

 

Jembatan Angkat

Sekarang semua jembatan kuno itu tidak ada. Kota Tua Jakarta masih memilikinya, yang sekarang disebut Jembatan Kota Intan. Jembatan Kota Intan adalah jembatan tertua di Indonesia yang dibangun pada tahun 1628 oleh pemerintah Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC, atau masyarakat kita lebih familiar dengan sebutan Kumpeni.

Jembatan Angkat Kota Intan Jakarta. Foto: nng

Jembatan itu kini terletak di Kali Besar kawasan Kota Tua wilayah Jakarta Barat dan berada di bawah pengelolaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta. Jabatan Kota Intan ini menjadi landmark kawasan Kota Tua Jakarta.

Secara teknis, jembatan ini tidak dioperasikan (diangkat ditutup). Tetapi bisa dilalui hanya untuk pejalan kaki untuk merasakan sensasi melewati jembatan yang sudah ada sejak 1628. Mekanik jembatan untuk buka tutup masih ada. Sistemnya sama seperti Magere Brug di Sungai Amstel Amsterdam, Belanda. Jembatan Magere Brug (Skinny Bridge), yang ikonik di Amsterdam, pertama kali dibangun pada tahun 1691. Namun, jembatan yang ada saat ini adalah hasil pembangunan ulang yang dilakukan pada tahun 1934.

Penulis di Magere Brug, Amsterdam. Foto: kol nng

Jika Magere Brug dibuat kali pertama tahun 1691. Sementara Jembatan Kota Intan di Jakarta dibuat tahun 1628. Lantas kapan Jembatan Angkat di Kota Lama Surabaya dibuat? Menurut data Oud Soerabaia, jembatan ini dibangun di era Gubernur Jenderal Hindia Belanda Daendels pada awal abad 19. Yaitu pada kisaran tahun 1808, menggantikan sarana tradisional tambangan.

Justru karena Jasa Tambangan di Surabaya itu, telah menjadikan nama Syurabhaya (ꦯꦸꦫꦨꦪ), sebuah desa di tepian sungai (naditira pradesa) dicatat oleh Raja Hayam Wuruk pada 7 Juli 1358 M. Sekarang nama desa itu Syurabhaya (ꦯꦸꦫꦨꦪ) menjadi Surabaya (ꦱꦸꦫꦧꦪ).

Antara Syurabhaya (ꦯꦸꦫꦨꦪ) dan Surabaya (ꦱꦸꦫꦧꦪ) ada perbedaan makna. Syurabhaya artinya “berani menghadapi bahaya”, sementara Surabaya berarti “dewa buaya”. Lho kok !?

Kembali ke jembatan Ophaalbrug, andai jembatan ini di replika dan ditempatkan di Kota Lama Surabaya, apakah di sisi Utara Jembatan Merah atau di sisi Selatannya, maka sarana ini akan menambah atraksi Kota Lama Surabaya yang legendaris.

Jembatan Angkat di Amsterdam, Belanda. Foto: nng

Manfaatnya adalah: 1) menambah atraksi edukatif bahwa jembatan itu memberi dan mengungkap bukti ramainya Kalimas dengan hilir mudik perahu, 2) menambah sarana pariwisata sehingga pengunjung Kota Lama Surabaya bisa merasakan sensasi berjalan melewati jembatan itu seperti di Jembatan Kota Intan di Jakarta dan Magere Brug di Amsterdam, 3) menambah spot photography Kota Lama Surabaya, 4) mempercantik Kota Lama Surabaya.

 

Wajah Kota Lama Surabaya

Seperti apakah Kota Lama Surabaya pada awal awal Surabaya dibentuk oleh VOC pada abad 17?. Melalui karya pelukis Belanda asal Denmark, Johannes Rach (Copenhagen, Denmark, 1720 – Batavia, 4 Augustus 1783), kita bisa melihat wajah kota yang kala itu masih sebagai kota di tepian Kalimas.

Menurut sumber Wikipedia bahwa Johannes Rach lahir tahun 1720 di Kopenhagen, Denmark, anak seorang pemilik losmen. Setelah berlatih di bawah pengawasan pelukis istana Denmark, yang bernama Wickman, Johannes bekerja sebagai pelukis gedung di Rusia, Swedia, dan istana Denmark.

Selain lukisan topografi, ia juga membuat lukisan perspektif dan lukisan diam. Awal 1750-an Johannes pindah ke Belanda. Ia bekerja sebagai pelukis di Haarlem. Bulan April 1756 ia menikahi Maria Wilhelmina Valentijn. Tahun berikutnya ia mempunyai putri yang diberi nama Christina Maria.

Mungkin disebabkan karena ketidakpuasan atas pekerjaannya di Belanda, maka Johannes pindah ke Asia tahun 1762 dan bekerja sebagai prajurit penembak di bawah VOC. Istri dan putrinya ditinggal di Amsterdam. Dalam perjalanannya dia membuat beberapa lukisan topografis, di antaranya adalah lukisan Tanjung Harapan dan banyak melukis Jakarta.

Selain lukisan-lukisannya menggambarkan daerah sekitar Batavia, termasuk Buitenzorg (Bogor), juga kota-kota pesisir utara Jawa. Diantaranya Surabaya. Surabaya adalah karya tunggalnya.

Wajah kota Surabaya pada pertengahan abad 18. Sebuah replika oleh Budi.Foto: nng

Lukisan Surabaya diambil dari sudut pandang Timur Kalimas dengan menghadap ke arah Barat sehingga tambak tembok Kota Surabaya yang berupa Benteng Belvedere lengkap dengan bangunan di dalam benteng. Benteng ini posisinya sedikit di Utara gedung Jembatan Merah Plaza sekarang. Posisi ini tampak dari lukisan sketsa dimana benteng berada di samping Utara tembok Kota.

Benteng kota terlihat pada posisi kanan bawah pada sketsa ini. Foto: ist

Dari sisi Timur Kalimas, tampak wajah kota Surabaya yang kala itu di pertengahan abad 18 telah berjajar rumah rumah yang menghadap ke sungai Kalimas. Sementara di bantaran Timur Kalimas adalah kamp Pecinan (Si-Shui). Gambar Johannes Rach mempertontonkan beberapa orang dengan pakaian tradisional Tionghoa.

Budi sedang menyelesaikan karya nya. Foto: nng

Satu satunya lukisan Johannes Rach dari pertengahan abad 18 itu digambar ulang oleh pelukis Surabaya, Budi Irawan (Budi AN), sebagai bentuk pemajuan karya seni langka tentang Surabaya, khususnya dalam menyambut peringatan Hari Warisan Budaya Dunia 2026. (PAR/nng).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *