Linguistik: Gesang Adalah Hidup atau Kehidupan

Sejarah Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Peradaban manusia sering kali berkembang di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) karena sungai dapat menyediakan sumber daya penting yang dapat menopang kehidupan dan perkembangan masyarakat.

Contoh nyata, yang sudah ada ribuan tahun, adalah Trinil, yang berada di tepi Bengawan Solo, tepatnya di Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, dan dikenal sebagai lokasi penemuan fosil Pithecanthropus erectus (Java man) oleh Eugene Dubois pada 1891.

Pun demikian dengan desa desa, yang disebut Naditira Pradesa (desa di tepian sungai) di tepian sungai Brantas dan Bengawan Solo. Di tepian Brantas ada 33 Naditira Pradesa. Sementara di tepian Bengawan Solo ada 44 Naditira Pradesa. Disana juga ada kehidupan

Di Surabaya, yang dilewati anak sungai Brantas, ada tiga Naditira Pradesa. Yaitu Pagesangan (Gsang), Bungkul (Bukul) dan Surabaya (śūrabhaya) sebagaimana tertulis pada Prasasti Canggu (1358 M).

Di Gessang sudah ada permukiman selagi disekitarnya belum. Foto: oldmapsonline

Pagesangan selain diberitakan melalui prasasti, dan secara faktual posisinya memang di tepian sungai sebagai Naditira Pradesa, di tempat ini ditemukan batu bata kuno yang berukuran besar.

 

Penemuan batu bata kuno indikasi kehidupan

Pemeriksaan batu bata kuno di kantor kelurahan Pagesangan oleh petugas dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Trowulan. Foto: tp

Penemuan batu bata kuno di Pagesangan ini mengindikasikan bahwa wilayah tersebut telah menjadi lokasi peradaban manusia yang signifikan sejak masa kuno, kemungkinan besar terkait dengan periode kerajaan Hindu-Buddha atau Majapahit.

Pagesangan memang tercatat dalam prasasti Canggu karena disana terdapat jasa penyeberangan sungai atau tambangan untuk mendukung aktivitas masyarakat baik itu untuk tujuan tujuan perdagangan, keagamaan, kebudayaan, sosial dan lain sebagainya.

Penulisan Gsang (Pagesangan) pada prasasti Canggu. Foto: par

Penulisan pada prasasti itu adalah anugerah Raja Majapahit, Sri Hayam Wuruk pada 1358 M. Dalam hal ini patut lah dicatat dan diketahui bahwa di lokasi dimana Pagesangan berada tergambar sebagai sebuah pemukiman penduduk. Sudah ada rumah rumah di peta tua tahun 1700 an sebagaimana disimpan oleh oldmapsonline.

Penulisan Gesang pada peta 1800. Foto: oldmapsonline

Dalam beberapa peta yang ada bahwa nama Gsang sebagaimana ditulis dalam prasasti Canggu (1358), dimana nama tersebut juga masih ditulis Gesang dan Gessang pada peta 1800-an yang juga dikoleksi oleh oldmapsonline. Sekarang tertulis Pagesangan.

Penulisan Gessang pada peta 1890. Foto: oldmapsonline

Ada kontinyuiti (keberlanjutan) penulisan mulai dari Gsang (1358), Gesang (1700), Gessang (1800) dan Pagesangan (2026)

 

Linguistik

Secara linguistik, dalam bahasa Jawa, “Gesang” artinya “Hidup” atau “Kehidupan”, merupakan bentuk krama (halus) dari kata ngoko “urip”. Dapat diduga pada zaman Majapahit, nama Gsang menjadi sebuah petunjuk akan adanya kehidupan dan dinamika masyarakat di tepian sungai di daerah itu.

Sementara itu “bungkul” dalam bahasa Jawa, memiliki beberapa arti, terutama merujuk pada satuan ukuran bawang putih (seperti satu bonggol atau umbi), tetapi juga bisa berarti “bonggol”, “kepala” (bagian atas tongkat, payung). Kata, yang sering dipakai, adalah “sabungkul”, yang artinya “sebungkul” atau “satu bonggol bawang putih”. Sebungkul ringkasnya adalah satu kesatuan siung bawang putih. Se (satu) bungkul bawang putih menyimbolkan satu persatuan dan kesatuan.

Bawang putih, selain dikenal luas sebagai bahan penyedap yang kaya akan manfaat kesehatan, juga memiliki tempat khusus dalam berbagai budaya dan kepercayaan sebagai penangkal setan atau roh jahat. Bungkul memiliki kekuatan tersendiri.

Sedangkan śūrabhaya, yang terdiri dari dua kata “śūra” dan “bahaya”, memiliki arti berani menghadapi bahaya atau tantangan. Dulu Surabaya ini pernah memiliki semboyan śūra-ing-bahaya yang artinya berani menghadapi bahaya. Sekarang semboyannya cukup “wani”.

Dari sudut pandang linguistik ketiga nama Naditira Pradesa Gesang, Bungkul dan śūrabhaya memiliki makna baik dan positif. Mari kita jaga nama nama baik itu. (PAR/nng).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *