Sejarah Arsitekttur
Rajapatni.com: SURABAYA – Setiap bepergian ke Jakarta, tidak lupa selalu mampir ke Kota Tua Jakarta. Salah satu gedung yang tidak jauh dari halte Trans Jakarta di Kali Besar adalah salah satu gedung yang selalu jadi perhatian. Akibatnya saya selalu mampir ke gedung ini. Namanya Toka Merah.

Terakhir kali ke Kota Tua Jakarta adalah pada bulan Juli 2023, ketika transit sehari sebelum berangkat ke Amsterdam Belanda.
Toko Merah

Gedung Toko Merah ini istimewa karena sejarah panjangnya sejak era Belanda. Dibangun pada 1730 oleh Gubernur Jenderal Van Imhoff dengan arsitektur unik yang merupakan perpaduan Eropa Klasik dan Tiongkok dengan tangga gaya Baroque yang merupakan satu-satunya gedung unik di Jakarta.
Sejak 1 November 2023 gedung ini dibuka untuk umum sebagai sebuah cafe, yang bernama Rode Winkel. Pintu dan arsitektur Toko Merah di Kota Tua Jakarta ini adalah perpaduan gaya Klasik Eropa (Belanda) dengan sentuhan gaya Tradisional Cina (Tionghoa). Gaya ini mencerminkan sejarah kepemilikan dan fungsi bangunan yang digunakan oleh tokoh Tionghoa, dengan unsur merah sebagai simbol keberuntungan dan keunikan Tionghoa.

Ketika berada di Belanda di kota Amsterdam dan Rotterdam pada Juli – Agustus 2023, sempat melihat bangunan tua dengan gaya kusen pintu, yang serupa dengan gedung Toko Merah. Maklum gedung Toko Merah memang dibangun dengan gaya arsitektur Eropa (Belanda) kuno.
Sejak kepulangan dari Belanda pada Agustus 2023, belum berkesempatan lagi pergi ke Jakarta dan ternyata gedung Toko Merah sudah terbuka untuk umum sejak 1 November 2023.
Ketika mampir ke Toko Merah pada Juli 2023, pandangan mata hanya tertuju pada fasade bangunan (tampak luar saja), terlebih pada pintu yang megah dengan gaya yang tidak pada umumnya. Pada bagian bahwa kusen itu berbentuk melebar ke samping kiri dan kanan. Sehingga tampak berdiri megah dan kokoh. Ada dua pintu yang saling berdampingan dengan dua jendela di samping kiri dan kanan. Jendela dan pintunya berukuran besar, khas arsitektur VOC. Maklum tahun 1730 Nusantara masih diduduki kongsi dagang VOC.
Masa VOC (1602-1800) adalah periode kongsi dagang yang memonopoli rempah-rempah dengan hak istimewa seperti membuat tentara dan perang. Sementara Hindia Belanda (1800-1945) adalah masa penjajahan resmi pemerintah Belanda setelah VOC bangkrut pada 1799).
Masjid Kuno Muara Angke

Selama di bawah masa VOC, ada gaya arsitektur pintu yang ditinggalkan. Selain pintu di gedung Toko Merah, juga ada pintu sebuah masjid kuno di Muara Angke, yang dibangun pada 1761 M. Namanya Masjid Jami Angke Al Anwar. Masjid ini terletak di Kelurahan Angke, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat.

Langgam Pintu Serupa di Dua Gedung Berbeda. struktur bangunan masjid ini, Masjid Al Anwar memiliki gaya kusen pintu masjid seperti pintu Gedung Toko Merah. Kusen Masjid Angke ini bergaya campuran antara Gaya Eropa, Tionghoa, Jawa dan Bali. Pada kusen pintu ini terdapat ornamen ukiran Jawa, termasuk Soko Guru yang menopang bangunan masjid.

Bentuk dasar bangunan, yang bujur sangkar serta atap limasan yang bersusun dua, memperlihatkan pengaruh Jawa. Ujung-ujung atapnya yang sedikit melengkung ke atas, mengacu pada gaya punggel rumah Bali.

Sementara kusen-kusen pintu, daun pintu ganda, lubang angin diatas pintu, dan anak-anak tangga di depan menampilkan unsur Belanda. Jendela-jendela kayu, dengan teralis kayu bulat torak yang dibubut, dan juga tiang-tiang utama, pun mengesankan pengaruh Jawa.
Masjid ini memberi perlambang harmonisasi dan keserasian di antara lingkungan masyarakat yang memang beragam kala itu. Dua gedung berbeda, tetapi memiliki langgam kusen pintu yang serupa. (PAR/nng)
