Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Etimologi kata “Çūra/Śūra” Vs “Sura” ini sangat menarik karena mengandung makna dasar nama kota Surabaya.
Makna dasar kata Surabaya ini semakin jernih tatkala dilihat (ditelusuri) dari Aksara Jawa, yang kemudian ditinjau dari bahasa Sansekerta dan bahasa Pali.
Menurut penganut agama/ajaran Budha, Hendra Budianto di Kalimantan, bahwa Bahasa Pali itu adalah bahasa asli kitab Tripitaka. Tripitaka (atau Tipitaka dalam bahasa Pali) adalah kitab suci utama agama Buddha, yang berisi kumpulan ajaran, peraturan monastik, dan analisis filosofis Buddha Gautama.

Sebelumnya menurut filolog Setya Amrih Prasaja di Yogyakarta bahwa kata Çūra/Śūra berarti Berani dan kata Sura berarti Dewa dan Minuman Keras.



Makna ini selaras dengan sumber Kamus Pali – English Dictionary by T.W. Rhys David and William Stede, sesuai petunjuk Hendra Budianto di Kalimantan bahwa dalam kamus itu dituliskan: Sura सुर adalah 1). Deva dan 2) liqueur. Yakni Dewa dan minuman keras.

Kamus lainnya adalah Kamus Tidak Lengkap Pali – Indonesia dimana dituliskan bahwa Śūra शूर berarti (1) a. gagah berani; m. pahlawan, orang yang gagah berani; (2) m. matahari. Sedangkan Sura सुर adalah Dewa dan minuman hasil fermentasi.
Sumber lainnya adalah dari google search, yang didapat bahwa dalam bahasa Hindi/Sanskerta, kata Śūra शूर (atau Shura/Sura) secara umum berarti berani, pahlawan, atau pejuang, yang maknanya adalah:
• Arti Dasar: Orang yang berani, gagah berani, atau pahlawan (hero).
• Konteks Bhakti: Sering dikaitkan dengan Śūrabhadra atau tokoh yang berani membela kebenaran.
• Kaitan dengan “Surabaya”: Dalam interpretasi kuno, Śūra dalam Śūrabhaya berarti “berani”.
Sementara kata Sura (सुर) dalam bahasa Hindi/Sanskerta, memiliki arti utama, yaitu:
• Dewa atau Makhluk Surgawi: Sura merujuk pada dewa-dewa atau makhluk ilahi dalam mitologi Hindu.
• Roh Agung/Ilahi: Sura sering dikontraskan dengan Asura (setan/raksasa), di mana Sura mewakili kebaikan atau kekuatan cahaya.
Dari penelusuran etimologi ini maka kata kota Surabaya, yang ditulis SURABAYA memiliki makna yang kurang baik. Yaitu mengandung arti minuman keras yang memabukkan untuk kata Sura dan baya adalah buaya. Jika dirangkai dengan bebas, maka Surabaya berarti “Buaya Mabuk” dan “Dewa Buaya”.
Pemulihan Makna
Jika demikian perlu ada upaya pemulihan makna, yang tidak mungkin merubah penulisan pada kata SURABAYA. Cara yang sangat memungkinkan adalah menggunakan kembali sesanti yang berbunyi Sura ing Baya yang ditulis dengan penulisan asal dan asli sesuai sumber otentik Prasasti Canggu. Yaitu “Çūra ing Bhaya”, yang berarti berani menghadapi bahaya.
Jadi nama kotanya “Surabaya”. Sesantinya “Çūra ing Bhaya”. (PAR/nng).
