Konsul Kehormatan Belanda: “Bagi saya, buku ini mewakili dialog antara sejarah Indonesia dan Belanda”.

Heritage

Rajapatni.com: SURABAYA – Museum masa kini adalah museum yang hidup, dinamis, inklusif dan interaktif. Bukanlah statis dan mati. Ini model lama dimana pengunjung datang dan melihat koleksi serta artefak seperti melihat boneka dari India. Hanya boleh dipandang.

Museum Bank Indonesia di Surabaya, yang bertempat di bekas gedung De Javasche Bank di kawasan Kota Lama Surabaya, sungguh inklusif. Museum yang dikelola oleh Bank Indonesia ini membuka ruang untuk kreativitas masyarakat dalam upaya pelestarian bersama warisan budaya.

Pelibatan masyarakat merupakan elemen krusial dalam proses pelestarian, terutama dalam upaya menjaga dan merawat ingatan kolektif (collective memory) suatu kelompok, daerah, atau bangsa. Masyarakat bukan hanya sekadar objek pelestarian, melainkan subjek aktif, yang memiliki peran sebagai pewaris, pengelola, dan pemilik nilai-nilai budaya.

Museum sebagai ruang interaktif dan dinamis. Foto: nng

Inilah yang kiranya disadari oleh management Bank Indonesia sehingga Museumnya menjadi ruang publik yang inklusif dan interaktif. Misalnya adanya gagasan oleh Komunitas Budaya Puri Aksara Rajapatni dengan agenda penerbitan dan peluncuran buku “Sketsa Kota Lama Surabaya”. Dukungan, yang diberikan tidak hanya dalam hal kontribusi penerbitan bukunya, tetapi juga menyediakan fasilitas sarana dan prasarana (Sarpras).

Apalagi diketahui bahwa penerbitan dan peluncuran buku itu terkait dengan upaya bersama secara global menjaga, melestarikan dan memajukan warisan budaya. Ini merupakan langkah strategis yang sangat krusial. Ini bukan hanya sekadar dokumentasi fisik, melainkan bentuk diplomasi kebudayaan dan edukasi kolektif untuk melawan ancaman kepunahan budaya akibat globalisasi.

Khazanah kepustakaan Surabaya. Foto: nng

Konsul Kehormatan Belanda, Lily Jessica Tjokrosetio, dalam kutipan pengantar buku “Sketsa Kota Lama Surabaya” mengatakan:

Dengan mendokumentasikan, merefleksikan, dan merayakan Kota Lama Surabaya, buku ini memberikan kontribusi yang berarti untuk melestarikan warisan bersama yang menjadi milik kita semua. Bagi saya, buku ini mewakili dialog antara sejarah Indonesia dan Belanda, yang terjalin oleh waktu”.

Tidak hanya buku Sketsa Kota Lama Surabaya sebagai pengingat memori kolektif, tetapi ruang dalam gedung De Javasche Bank juga demikian. Gedung De Javasche Bank (sekarang menjadi museum Bank Indonesia) di Surabaya adalah saksi bisu sejarah ekonomi dan arsitektur yang kuat, beroperasi sebagai ruang memori kolektif yang nyata. Pameran seperti Sketsa Kota Lama Surabaya di lokasi ini semakin memperkuat fungsi ruang fisik sebagai penjaga memori kolektif kota.

Peringatan Hari Warisan Budaya Dunia 2026. Foto: par

Puri Aksara Rajapatni sebagai penggagas penulisan dan penerbitan buku Sketsa Kota Lama Surabaya, yang kemudian memilih Museum Bank Indonesia (De Javasche Bank) sebagai tempat penyelenggaraan peluncuran langsung mendapat sambutan. Sikap Bank Indonesia ini seiring dan sejalan dengan pihak pihak lain dalam wujud kolaborasi pentahelixs yang melibatkan 5 unsur stakeholder utama. Yaitu Pemerintah, Dunia Usaha, Media, Akademisi dan Komunitas.

Salah satu Dunia Usaha adalah PT. Menara Property Development, yang mengelola eks Penjara Koblen. Dari dunia akademisi adalah Universitas 17 Agustus (Untag) Surabaya. Lainnya ada pula Shalimar Boutique Hotel. Dengan kebersamaan (gotong royong) sebuah gagasan akan bisa terwujud nyata. (PAR/nng)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *