Ketika Masyarakat Berperan Dalam Pelestarian Dan Pemajuan Warisan Budaya.

Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Mantan presiden Amerika Serikat Barack Obama, ketika masa kecil, pernah tinggal di kawasan elit Menteng Jakarta Pusat, tepatnya di Jalan Taman Amir Hamzah nomor 22, Pegangsaan. Secara historis kawasan Menteng ini pernah dikembangkan oleh pemerintah Hindia Belanda di awal abad 20 sebagai kawasan pemukiman elit modern pertama (“kota taman” atau tuinstad) untuk warga Eropa dan pejabat kolonial. Kawasan ini dirancang oleh P.A.J. Moojen dan H.F. Tillema, dengan jalan jalan yang tertata rapi, pepohonan rindang, dan taman, yang akhirnya menjadikannya sebagai hunian asri dengan banyak gaya bangunan, yang salah satunya adalah Indische Empire dan Tropische Art Deco. Bangunan itu adalah gedung seni Bataviasche Kunstkring.

Bataviasche Kunstring. Foto: ton

Selanjutnya pernah dipakai sebagai kantor Imigrasi pada pasca kemerdekaan. Gedung ini sempat kosong sampai pada akhirnya digunakan sebagai Tugu Kunstkring Paleis.

Tugu Kunstring Paleis adalah sebuah restoran mewah kekinian yang bernuansa kekunoan (vintage), galeri seni, dan bangunan berstatus cagar budaya bersejarah di Menteng, Jakarta Pusat.

Menurut literasi Tugu Kunstring Paleis, restoran ini dulunya dibangun sekitar tahun 1913 dan dirancang oleh arsitek Pieter Adriaan Jacobus Moojen atau PAJ Moojen, yang sekaligus merancang kawasan Menteng.

Sebuah koleksi klasik prasasti. Foto: nng

Pada saat pertama penggunaan, gedung ini berfungsi sebagai Bataviasche Kunstkring atau Balai Seni Batavia. Meski sekarang berfungsi sebagai restoran kekinian tapi tetap mengusung kesan seni budaya bagai galeri seni.

Sesuai namanya, “Bataviasche Kunstring”, gedung ini awalnya memang merupakan galeri seni yang kerap menampilkan karya-karya dari pelukis terkenal, seperti Vincent van Gogh, Paul Gauguin, hingga Pablo Picasso (Tugu Kunstring Paleis) termasuk replika lukisan Raden Saleh seperti suasana penangkapan Pangeran Diponegoro pada 1830.

Demikian diceritakan oleh salah satu staf pelayan Tugu Kunstring Paleis saat menemani tim Puri Aksara Rajapatni, A. Hermas Thony dan Nanang Purwono pada Sabtu petang, 31 Januari 2026.

Thony dan Nanang melihat peran masyarakat dalam upaya pelestarian budaya. Foto: par

The Tugu Kunstkring Paleis, yang dibuka pada 2013, adalah restoran butik yang sekaligus menjadi etalase seni budaya bangsa Indonesia. Ada koleksi dan narasi tentang warisan budaya bangsa Indonesia. Diantaranya kisah Raja Singasari Kertanegara, ruang Diponegoro, ruang Soekarno dan masih ada lainnya.

Seperti halnya grup Tugu yang ada di Malang, Blitar, Bali, Lombok termasuk Jakarta baik berbentuk hotel maupun restoran, mereka memiliki tema sejarah serta seni Indonesia yang semua didirikan oleh Anhar Setjadibrata, yang mengoleksi ribuan artefak antik, yang menawarkan pengalaman menginap atau makan layaknya di museum.

Artefak dan benda bersejarah di restoran butik Tugu Kunstring Paleis Jakarta. Foto: par

Restoran dan hotel seperti Grup Tugu dapat disebut sebagai butik hotel dan restoran tematik berbasis warisan budaya (heritage boutique hotels & restaurants). Tempat-tempat ini menggabungkan kemewahan dengan pengalaman seni, sejarah, dan nuansa etnik yang kental, sering kali difungsikan sebagai museum hidup (living museum) yang memamerkan koleksi barang antik.

Persembahan hotel dan restoran semacam ini adalah wujud kepedulian pihak masyarakat yang peduli seni budaya dan sejarah bangsa.

Dengan demikian, Tugu Hotels & Restaurants bertindak lebih dari sekadar tempat penginapan dan makan, melainkan sebagai pelindung “jiwa” dan warisan budaya Indonesia. (PAR/nng)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *