Ketika Alam (Nature), Budaya (Culture) dan Manusia (People) Dalam Satu Interaksi.

Aksara Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Indonesia kaya akan kuliner dan di setiap daerah memiliki kekhasan kuliner. Ada pecel di Madiun. Ada rujak soto di Banyuwangi. Ada urap di Jawa.

Sayur urap, mudapan kuno dari Jawa yang menyehatkan. Foto: ist

Urap ini dari Jawa, yang dikenal mengindonesia. Urap adalah hidangan sayuran rebus tradisional asal Jawa, yang sudah dikenal di Indonesia. Sayuran rebus ini dicampur dengan bumbu kelapa parut. Menariknya kata “urap” ꦈꦫꦥ꧀ sendiri berasal dari bahasa Jawa, yang berarti “urip” ꦈꦫꦶꦥ꧀ (atau hidup, sehingga hidangan ini sering dikaitkan dengan filosofi kehidupan yang membaur (komunal)

 

Sumber Prasasti

Prasasti Linggasuntan. Foto: ist

Yang lebih menarik adalah Urap memiliki jejak sejarah, yang tertulis dalam prasasti, tepatnya pada Prasasti Linggasutan, yang berasal dari Kerajaan Medang. Prasasti ini berangka tahun 851 Saka atau 929 Masehi. Dalam larik larik goresan prasasti itu menyebutkan kata “Urap” dalam aksara Jawa Kuna atau Kawi.

Dalam prasasti itu tertulis “Wrak-wrak”, yang diyakini merujuk pada urap-urap dan sekaligus menunjukkan bahwa hidangan ini sudah dikenal dan dikonsumsi pada masa itu.

Dokumen kuno ini juga mencatat berbagai aktivitas agraris, termasuk pemanfaatan sayuran dan kelapa dalam makanan sehari-hari, yang mengindikasikan keberadaan urap pada masa itu. Urap, yang terdiri dari sayuran rebus dan kelapa parut berbumbu, menjadi salah satu bukti penting kehidupan sosial dan budaya masyarakat Kerajaan Medang, khususnya dalam hal kuliner.

Prasasti Linggasuntan, yang ditemukan di Jawa Timur, menjadi saksi sejarah tentang bagaimana masyarakat memanfaatkan hasil bumi untuk menciptakan makanan yang sehat dan lezat, seperti urap. Prasasti ini sekarang disimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta.

Utamanya prasasti ini menceritakan titah Raja Sri Maharaja Rake Hino Mpu Sindok Sri Isanawikramadharmmotunggadewa kepada dua Samgat Momahumah bernama Mpu Padma dan Mpu Kundala. (https://www.kompas.com/stori/read/2022/12/26/170000479/prasasti-linggasuntan–lokasi-penemuan-dan-isinya)

Beberapa sumber memang menyebutkan bahwa urap telah ada sejak abad ke-10 Masehi, dan prasasti tersebut menjadi salah satu bukti tertulis mengenai keberadaan hidangan ini pada masa itu.

Jawa Timur kaya akan peninggalan sejarah. Trowulan adalah ibukota kuno Kerajaan Majapahit. Di wilayah yang tidak jauh dari kota Raja ini, terdapat kawasan kawasan wisata yang bisa dimanfaatkan sebagai wahana wisata sejarah yang terpadu dengan alam.

Di Trawas misalnya, yang agraris dan kaya akan tanaman, bisa menjadi sumber pembelajaran (educational activity) yang memadukan antara alam (nature) dan budaya (culture).

 

Where Nature dan Culture Meet.

Di tempat dan ruang yang terbuka, bisa diaktualisasikan pembuatan urap urap. Ketersediaan bahan urap sudah ada di sekitar. Tentu atas seizin dan sepengetahuan pemilik lahan misalnya, kita bisa memetik sayur atau bisa pula berbelanja di pasar tradisional dengan kontak kontak sosialnya.

Ketika bahan sudah tersedia, maka kita siapkan atraksi membuat urap yang secara naratif bisa disampaikan (dijelaskan) kepada para pembelajar, seperti anak anak SD dalam konsep outbound program, dari mana urap berasal.

Dalam praktek pembuatan urap, pembelajar yang terdiri dari anak anak bisa mengetahui bahwa masakan urap itu sudah ada sejak dahulu kala dari abad 10 di era kerajaan Medang Jawa Timur. Bahwa melalui peninggalan prasasti, kita bisa belajar gaya hidup masyarakat kuno. Yakni pola makanan yang disantap.

 

Urap Makanan Sehat

Urap sayur adalah makanan yang sehat. Urap sayur kaya akan serat, vitamin, dan mineral, serta rendah kalori, sehingga baik untuk menjaga kesehatan tubuh dan membantu menjaga berat badan ideal.

Atraksi memasak di ruang terbuka seperti ala camping akan menyenangkan karena menyajikan interaksi antara anak dan alam. Apalagi bahan masakan bersumber dari alam.

Lokasi serupa adalah di lereng Gunung Penanggungan, yang lebih khusus adalah di PPLH Seloliman. PPLH adalah kependekan dari Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup, dimana di sekitarnya terdapat situs situs peninggalan Kerajaan Airlangga dan Majapahit.

Perpaduan antara budaya dan Alam yang terkemas dalam satu wadah kegiatan wisata budaya dan edukasi sangat menarik bagi kebanyakan orang. Tidak hanya untuk usia anak anak, kegiatan ini juga menarik bagi wisatawan asing.

Dalam wadah itu ada interaksi Alam (natural), Budaya (Culture) dan Manusia (People). Namun semua tergantung pada pelaku. Yaitu manusianya (people) dalam mengelola ketersediaan baik alam dan budayanya.

Urap adalah perpaduan alam (nature) dan budaya (culture) yang manusia (people) sekarang perlu ketahui. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *