Kekuatan Maritim Surabaya Estafet Lintas Masa dan Bangsa.

Sejarah Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Kebesaran Surabaya dapat dilihat dari kekuatan Maritimnya, yang tidak hanya berwujud kekuatan di laut dengan semboyan, “Jalesveva Jayamahe”, yang berasal dari Bahasa Sanskerta, yang berarti “Justru di Lautan Kita Menang” atau “Kejayaan Kita Ada di Laut”, tetapi juga di sungai yang mengalir dari pedalaman Jawa melalui Kediri dan Mojokerto.

Bahkan di era Majapahit di abad 14 dan 15, Surabaya sudah menjadi pintu gerbang Kerajaan Majapahit sebagai pintu lautnya menuju jalur perdagangan dunia dan Nusantara. Surabaya menjadi simpul Jalur laut dan sungai.

Kebesaran, yang sekaligus kekuatan alami Surabaya ini, terwariskan dalam lintas generasi. Sehingga sekarang Surabaya di ujung Utaranya menjadi Candradimuka kekuatan Komando Armada Dua (Koarmada) untuk Indonesia. Bahkan personilnya bukan hanya orang Surabaya atau Jawa Timur, melainkan mereka taruna taruna pilihan dari penjuru negeri. Mereka digembleng dalam satu korsa TNI Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI).

Komando Armada Dua (Koarmada II) adalah salah satu dari tiga Komando Utama di bawah Komando Armada RI (Koarmada RI), yang bertugas mengendalikan wilayah laut Indonesia bagian tengah, berpusat di Surabaya, dan membawahi beberapa Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) serta berbagai satuan tempur laut untuk menjaga kedaulatan dan menegakkan hukum di laut.

Keberadaan Pangkalan Komando Armada Dua ini bahkan sebelumnya menjadi pangkalan Marine Etablissement atau pangkalan angkatan laut Belanda.

Awalnya, daerah tersebut merupakan fasilitas pelabuhan biasa setelah ada sudetan Kalimas pada 1830-an. Namun Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels menetapkan Surabaya sebagai basis utama angkatan laut Hindia Belanda pada tahun 1808 karena lokasinya yang strategis dan terlindungi oleh Pulau Madura.

Namun, pembangunan pangkalan militer Angkatan Laut secara fisik baru dimulai pada tahun 1846. Sejak perpindahan kekuasaan pada pasca kemerdekaan pada 1945, lantas fasilitas militer Angkatan Laut Belanda ini dilimpahkan ke Angkatan Laut Indonesia.

Ada estafet fungsi, yang sampai lintas bangsa. Bermula dari pribumi (di era Majapahit), lantas dibangun sebagai infrastruktur militer (Marine Etablissement) oleh Belanda dan dilanjutkan oleh Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI).

 

Estafet Fungsi

Estafet fungsi tersebut dapat dirinci sebagai berikut:

Era Majapahit (Pribumi):

Kekuatan Armada Laut Nala. Foto: sindonews

Kerajaan Majapahit, sebagai kerajaan maritim yang kuat, memiliki armada laut yang besar untuk menjaga wilayah perairan dan jalur perdagangan. Meskipun tidak ada bukti langsung mengenai lokasi persis galangan kapal modern saat ini, kawasan pelabuhan di Surabaya (dekat muara Sungai Brantas) secara historis telah menjadi pusat aktivitas maritim penting sejak era Majapahit, dengan pelabuhan kali utama, seperti Canggu yang menjadi pusat perdagangan, yang selanjutnya meninggalkan menuju lautan lepas.

 

Era Kolonial Belanda (Marine Etablissement): 

Pangkalan Angkatan Laut Belanda (Marine Etablissement) di Surabaya. Foto: wiki

Pemerintah kolonial Belanda, khususnya di bawah Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels, menetapkan Surabaya sebagai basis utama angkatan laut Hindia Belanda pada tahun 1808 karena lokasinya yang strategis. Mereka mendirikan galangan kapal dan fasilitas militer, yang dikenal sebagai Marine Etablissement (ME). Fasilitas ini diresmikan pada tahun 1939 dan menjadi pusat perbaikan serta pembangunan kapal untuk keperluan angkatan laut kolonial.

 

Era Republik Indonesia (ALRI): 

Pangkalan Armada Dua di Surabaya. Foto: ist

Setelah kemerdekaan Indonesia pada 1945, kompleks Marine Etablissement dinasionalisasi oleh Pemerintah Indonesia. Aset-aset ini kemudian diambil alih dan dikelola oleh Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI), yang kemudian berkembang menjadi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL). Galangan kapal tersebut berubah nama menjadi Penataran Angkatan Laut (PAL), yang kini menjadi PT PAL Indonesia (Persero), produsen kapal perang dan niaga nasional. Kawasan di sekitarnya juga menjadi pangkalan militer utama TNI AL, yang berfungsi sebagai markas komando armada wilayah timur Indonesia.

Itulah sekilas tentang pangkalan militer Angkatan Laut, yang terus berkembang dari zaman ke zaman, yang tetap menetapkan Surabaya sebagai pangkalan Armada/Angkatan Lautnya. (PAR/nng).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *