Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Surabaya sebagai kota global memiliki arah yang jelas. Yaitu dalam mewujudkan Surabaya sebagai Pusat Perdagangan dan Jasa Internasional, yang berkarakter Lokal yang Cerdas, Manusiawi, dan Berbasis Ekologi.
Betapapun Surabaya maju, namun Surabaya tetap berpangku pada kearifan lokal. Betapapun Surabaya menjadi lahan pencakar langit, kampung masih menjadi hamparan permadaninya.
Kampung tidak dipandang sebagai bentukan fisik, tetapi cel cel kehidupan dengan budayanya sebagai karakter dasar. Ini menggambarkan bahwa kampung sebagai entitas sosial dan budaya yang dinamis, bukan sekadar permukiman atau bangunan fisik.

Karenanya, sebagai contoh nyata, sebuah perkampungan di Ketandan dirawat berdampingan dengan kemajuan jalan Tunjungan yang semakin tumbuh dengan bangunan modern pencakar langit. Yang tidak jauh dari Tunjungan adalah perkampungan Genteng.
Kawasan elit Tunjungan memang terasa kontras dengan perkampungan di sekitarnya seperti Ketandan dan Genteng, tetapi itulah keaslian sosial budaya, yang daripadanya bermunculan warga dan pejuang dalam menjaga garda merah putih di menara Hotel Yamato pada 1945.
Ada nilai nilai penting secara sosial budaya dari balik kampung. Dari kata “kampung” misalnya muncul istilah “Tradisi Balik Kampung” atau mudik yang di Indonesia bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah fenomena sosial-budaya yang kaya akan nilai-nilai luhur. Tradisi ini memperkuat ikatan kekeluargaan dan budaya di tengah arus modernisasi.
Perkampungan di Surabaya masih memiliki nilai nilai luhur. Inilah yang menjadikan Surabaya hidup atau masih “ngugemi” cel-cel kehidupan atau urat nadi sosial budaya lokal. Di tengah modernisasi dan julukan sebagai kota industri/dagang, kampung-kampung di Surabaya mempertahankan paguyuban dan gotong royong sebagai identitas utama.
Apalagi sekarang Surabaya, yang juga berjuluk Kota Global, maka nilai nilai luhur yang menjadi identitas utama itu layak dijaga agar warga Surabaya tidak hilang seperti “Bagai layang-layang putus talinya”, yang berarti seseorang yang tidak memiliki arah, tujuan, atau pegangan hidup, sehingga terbawa arus situasi.
Tidak hanya diwakili oleh kampung tapi juga sejarah sebagai sarana dalam menjaga keaslian. Kampung halaman atau adat atau bahkan kawasan cagar budaya bukan hanya sekadar kumpulan bangunan fisik (kampung), melainkan juga “laboratorium hidup” tempat sejarah, nilai-nilai luhur, dan tradisi diwariskan secara turun-temurun dalam menjaga keaslian identitas budaya. Sejarah berfungsi sebagai sarana untuk memahami jati diri, memperkuat kohesi sosial, dan memastikan bahwa praktik adat tetap relevan di tengah modernisasi.

Surabaya punya kampung dan sejarah. Sejarahnya tidak hanya sebatas sejarah kolonial, tapi jauh ke belakang adalah sejarah peradaban. Kampung dengan dinamika sosial budayanya mewarisi jejak peradaban lokal yang sudah ada ratusan tahun lalu, bukannya peradaban kolonial, yang baru masuk di abad 17. (PAR/nng)
