Jejak Sejarah Klasik Vs Sejarah Kolonial. Pilih Mana?

Sejarah Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Terlalu jarang menemukan jejak arkeologis sebagai bukti sejarah klasik Surabaya. Berbeda dengan jejak sejarah kolonial yang jumlahnya sangat banyak.

Di kawasan kota lama Surabaya, begitu membuka mata hamparan bangunan kolonial langsung di depan mata. Sementara jejak sejarah klasik terpendam dalam tanah yang tak mudah dilihat mata.

 

Sejarah Klasik

Jejak sejarah klasik masih ada di Surabaya. Pedulikah Anda? Foto: ist

Sejarah klasik adalah sejarah leluhur Surabaya (Nusantara). Sedangkan Sejarah kolonial bukan sejarah leluhur. Sejarah kolonial adalah sejarah bangsa asing.

Sejarah Klasik (Nusantara) lebih berfokus pada masa kerajaan-kerajaan Hindu-Budha, yang pernah berjaya di Nusantara, seperti Majapahit, Sriwijaya, dan kerajaan-kerajaan di Jawa Timur yang secara langsung berkaitan dengan asal-usul Surabaya, seperti khususnya Majapahit.

Periode ini dianggap sebagai fondasi budaya, politik, dan identitas masyarakat Indonesia modern, termasuk Surabaya. Tradisi, sistem kepercayaan, dan warisan budaya dari era ini sering kali dianggap sebagai “leluhur” dalam artian membentuk akar budaya dan silsilah masyarakat asli.

 

Sejarah Kolonial

Sedangkan Sejarah Kolonial lebih berfokus pada periode dominasi bangsa Eropa, terutama Belanda (VOC dan Pemerintah Hindia Belanda), di Nusantara

Meskipun periode ini sangat berpengaruh dalam membentuk negara modern Indonesia (misalnya dalam hal batas wilayah, infrastruktur, dan sistem hukum), banyak yang memandang periode ini sebagai sejarah “penjajahan” atau sejarah penguasa asing, dan bukan sebagai sejarah “leluhur” yang merepresentasikan kedaulatan atau identitas asli bumiputera.

Di Surabaya, berdasar dan berbekal sumber sumber klasik seperti prasasti, masih dapat ditemukan jejak jejak sejarah klasik itu. Jejak itu adalah Pagesangan, Bungkul, Peneleh, dan Ampel. Keberadaan jejak sejarah klasik di Surabaya ini terhitung langka dan layak segera diperhatikan atau warga Surabaya segera “menghamba” pada jejak kolonial.

Atau sejarah klasik di Surabaya ini masih dianggap terlalu tidak menguntungkan karena secara fisik berupa batu dan makam. Tidak seperti peninggalan sejarah Kolonial yang wujudnya gedung mewah dan megah serta barang barang mewah.

Namun demikian batu bata atau andesit serta makam makam tua adalah bukti bahwa leluhur Nusantara (Surabaya) itu ada. Mestinya peninggalan klasik ini harus diperhatikan atau kita akan terputus dari sejarah leluhur dan sesegera mungkin bukti bukti itu akan hilang.

Sejarah Klasik masih ada di Surabaya. Foto: ist

Warga Surabaya, khususnya di tempat tempat yang didasari akan jejak leluhur, semakin sadar dan berpartisipasi dalam menggali dan mengembangkan potensi sejarah lokalnya. Namun, karena terkait dengan proses administrasi pemerintahan, maka mereka pun hanya bisa mengusulkan adanya gagasan yang dimilikinya.

Harapannya pemerintah sebagai pengayom, tidak hanya secara fisik tetapi juga pengayom gagasan secara non fisik, bisa menjadi penerus dalam realisasi gagasan.

Misalnya membuat duplikat sebuah prasasti tidak diperkenankan, prosesnya harus prosedural melalui pemerintah daerah yang diajukan ke pihak pemilik prasasti Museum Nasional Indonesia. Sebetulnya secara praktis duplikasi bisa dibuat secara mandiri karena ada jasa pembuatan dengan teknik CNC (Computer Numerical Control). (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *