Jejak Kekunoan Wiyung Untuk Surabaya 

Sejarah

Rajapatni.com: SURABAYA – Ada beberapa daerah (kawasan) di Surabaya, yang namanya diduga berasal dari nama pepohonan. Misalnya Sambikerep (pohon Sambi yang lebat), Siwalankerto (pohon Siwalan), Wiyung (pohon Wiyu) dan Klampis Asem (pohon Klampis) serta Kelurahan Jeruk di wilayah Kecamatan Lakarsantri.

Secara geografis, Wiyung merupakan daerah pinggiran Barat kota Surabaya, yang secara alami relatif lebih hijau dan nyaman dibandingkan pusat kota. Kawasan ini menjadi akses strategis keluar masuk Gresik-Surabaya.

Berangkat dari petunjuk bahwa Wiyung diduga berasal dari pohon Wiyu, maka alam (bumi) dimana pohon itu tumbuh diduga terlihat seperti hutan karena pohonnya berkayu dan tingginya dapat mencapai 45 meter.

Pohon yang menghasilkan kayu ini, kayunya disebut kayu kambing. Menurut literasi Wiki bahwa pohon ini memiliki nama lain Garuga floribunda. Daunnya lebar lebar.

Membayangkan daerah Wiyung pada masa lalu dengan banyak pohon wiyu, daerahnya layak seperti hutan. Pandangan ini jika dikomparasikan dengan daerah tetangga seperti Lidah dan Jeruk yang alamnya masih tradisional. Termasuk masih adanya praktik praktik tradisi seperti bersih desa.

 

GKJW

Pada 1840-an misalnya di Wiyung pernah hadir sekelompok orang, yang dipimpin oleh Kyai Dasimah, yang kemudian dibaptis pada 12 Desember 1843 dan disusul dengan pendirian rumah ibadah pada 1937. Meski beragama Nasrani namun secara tradisi, mereka mengenakan pakaian ala warga lokal lainnya. Yakni memakai sarung, berkemeja dan bersongkok.

Adapun makam dari Kyai Dasimah Yohanes ini ada di pemakaman setempat. Kyai Dasimah Yohanes, semasa hidupnya, memberikan pelayanan umat, yang kemudian disebut umat Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW). Inskripsi di makamnya berbunyi “Ngulati Toya Wening” (Mencari Air Kehidupan)”. Tanggal pembaptisan Kyai Dasimah ini menjadi tetenger mulainya pelayanan umat, yang terlembagakan melalui gereja GKJW.

Inskripsi di makam Kyai Dasimah Yohanes. Foto: ist

Karenanya tepat pada 12 Desember diperingati pula HUT GKJW Wiyung, yang bertepatan dengan hari dibaptisnya Kyai Dasimah pada 12 Desember 1843.

 

Makam Tokoh Cikal Bakal Wiyung dan Batu Bata Kuno

Selain ada tokoh Kyai Dasimah, di makam ini juga ada makam dengan nama Ki Ageng Selo atau mbah Buyut Jati, atau Syekh Abdurrahman. Ki Ageng Selo adalah seorang tokoh yang memiliki peran penting dalam sejarah lokal Surabaya, terutama di wilayah Wiyung dan sekitarnya. Keberadaan makam ini terkait erat dengan cikal bakal sejarah daerah Wiyung.

Kekunoan di makam Ki Ageng Selo..Foto: tp

Sementara itu menurut pegiat sejarah klasik Surabaya, Tepe Wijoyo, bahwa di dalam cungkup makam Ki Ageng Selo yang dulu nya bernama Buyut Wiyu, menjadi tetenger cikal bakal Wiyung. Disana terdapat kekunoan berupa fragmen batu bata kuno termasuk fragmen batu lumpang, batu pipisan dan beberapa fragmen bata kuno yang tersebar di area Makam Umum.

Fragmen batu bata kuno. Foto: tp

Makam Ki Ageng Selo ini panjang, sebagai pertanda sosok orang penting, yang dikenal sebagai sosok penyebar Islam di daerah Wiyung.

“Hal menarik adalah keberadaan batu bata kunonya, menurut juru kunci, dulunya banyak dan bertumpuk. Namun banyak yang diambil warga”, pungkas Tepe Wijoyo. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *