Jaringan Lembaga Bahasa Belanda: Erasmus Training Centre dan NINA Dukung Buku Sketsa Kota Lama Surabaya.

Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Buku Sketsa Kota Lama Surabaya yang akan terbit memiliki daya tarik secara edukatif dan estetis. Buku ini mengandung literasi sejarah dan budaya, yang ditampilkan melalui karya seni sketsa. Ada 50 (lima puluh) sketsa yang memvisualkan beragam sudut Kota Lama Surabaya.

Sebuah sketsa kota lama karya Budi Ann. Foto: nng

Kota Lama Surabaya pada masa lalu adalah kamp Eropa, yang dikenal dengan “Benedenstad van Soerabaia”. Kini bekas kampung Eropa, yang disebut Kota Lama Surabaya di zona Eropa ini, diharapkan bisa menjadi wadah pemajuan, yang bersifat kolaboratif dan kooperatif dengan bangsa bangsa lain untuk tujuan baik dalam jaringan global sebagaimana status kota Surabaya sebagai Kota Global yang inklusif.

Penulisan buku Sketsa Kota Lama Surabaya ini diinisiasi oleh komunitas budaya lokal Puri Aksara Rajapatni, yang didukung oleh lembaga pendidikan bahasa Belanda di Surabaya di bawah naungan Netwerk Internationale Neerlandistiek in Asie (NINA) dan Erasmus Training Centre Jakarta.

Erasmus Training Centre, Pusat Pelatihan Bahasa Belanda Erasmus. Foto: ist

Secara linguistik sebagai bagian dari budaya, bahasa Belanda masih membekas di Kota Lama Surabaya. Beberapa gedung masih memiliki prasasti dan name board yang berbahasa Belanda, yang sekarang wujudnya menjadi peninggalan sejarah. Yaitu sejarah perkembangan kota Surabaya, sejarah perindustrian serta sejarah perekonomian. Sehingga kehadiran lembaga bahasa Belanda di Surabaya dan bersama sama bergotong royong dalam penerbitan buku Sketsa Kota Lama Surabaya ini, sangat tepat.

Erasmus Training Centre Jakarta dukung penerbitan buku Sketsa Kota Lama Surabaya. Foto: ist

Bahasa adalah bagian integral dan cerminan budaya yang tak terpisahkan, berfungsi sebagai sistem komunikasi, pembentuk identitas, dan penyimpan nilai-nilai, norma, serta tradisi suatu masyarakat. Bahasa mencerminkan budaya melalui diksi, ungkapan khas, dan norma kesopanan, sementara budaya membentuk bagaimana bahasa digunakan.

Inskripsi berbahasa Belanda di zona Eropa Kota Lama Surabaya. Foto: dok par

Bahasa Belanda pernah ada dan hidup di Kota Lama Surabaya. Buktinya terlihat dari nama-nama jalan lama seperti Dwar Boomstraat (sekarang jalan Mliwis), penggunaan bahasa Belanda pada prasasti gedung, serta jejak administratif dan komersial di kawasan Jembatan Merah Surabaya.

Kala itu masih di era kolonial. Sekarang di era kemerdekaan, kolaborasinya, khususnya antara entitas Belanda dan Surabaya (Indonesia) adalah saling mendukung untuk kebaikan masa depan bersama.

Setelah masa kolonial yang penuh konflik, hubungan kedua entitas kini bertransformasi menjadi kolaborasi saling mendukung dan menguntungkan di era kemerdekaan. Hubungan baik ini telah ditandai seperti pengembalian (repatriasi) artefak yang selama ini tersimpan di Belanda.

Buku Sketsa Kota Lama Surabaya juga menjadi wujud perkembangan kolaborasi mutual untuk masa depan bersama. Buku ini jelas diharapkan berfungsi sebagai kolaborasi mutual strategis, menggabungkan arsip visual sejarah dengan upaya pembangunan pariwisata Surabaya yang berkelanjutan. Melalui pendekatan kolektif, buku ini memadukan gagasan akademisi, komunitas, dan pemerintah untuk mendukung visi pengembangan kota yang lebih tangguh, eksklusif dan kolaboratif.

Perwakilan Netwerk Internationale Neerlandistiek in Asie di Surabaya. Foto: ist

Kiranya langkah Netwerk Internationale Neerlandistiek in Asie dan Erasmus Training Centre Jakarta ini bisa diikuti oleh lainnya demi Surabaya. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *