Sejarah Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Museum Fatahillah Jakarta, yang menempatkan diri sebagai Museum Kota Jakarta, benar benar mengumpulkan jejak historis kotanya dengan cermat. Tidak hanya jejak peninggalan kota kolonial, Batavia, tetapi jejak historis hingga ke era Kerajaan Tarumanegara.

Di wilayah Jakarta Utara, tepatnya di Kampung Tugu, Cilincing, Jakarta Utara, pernah diketemukan sebuah prasasti, yang bernama prasasti Tugu pada 1878.

Selain itu di Kawasan Sunda Kelapa, Jakarta Utara juga pernah ada Prasasti Padrao. Kini replika prasasti itu ada di museum Fatahillah. Aslinya ada di Museum Nasional. Prasasti ini merupakan tanda perjanjian antara Sunda dan Portugal.

Selain replika Prasasti Padrao, replika Prasasti Tugu, juga disimpan di Museum Fatahilla. Prasasti Tugu berisi tentang penggalian Sungai Candrabaga oleh Rajadirajaguru dan penggalian Sungai Gomati oleh Raja Purnawarman.
Selain Replika Prasasti Tugu dan Padrao, masih ada satu lagi sebuah replika prasasti dari masa Kerajaan Tarumanegara. Yaitu Prasasti Ciaruteun. Prasasti aslinya masih ada di lokasi asal hanya sudah diangkat dan ditempatkan poda posisi yang lebih tinggi.
“Karena dikawatirkan batu tulis itu akan bergeser lebih jauh jika terjadi banjir besar”, demikian dikatakan oleh Gunawan Sambodo, seorang arkeolog. Prasasti ini ditemukan di tepi Ci Aruteun, anak sungai Ci Sadane, Bogor.

Yang menarik Prasasti Tugu dan Prasasti Ciaruteun ini ditulis menggunakan Aksara Pallawa dengan Bahasa Sansekerta. Aksara Pallawa dan bahasa Sansekerta ini berasal dari India Selatan. A. Hermas Thony, pembina Puri Aksara Rajapatni melihat prasasti prasasti itu di museum Fatahillah Jakarta.

Sementara prasasti Padrao atau Prasasti Perjanjian Sunda-Portugal tidak menggunakan aksara lokal, melainkan aksara dan bahasa Portugis.
Surabaya Salah Mereplika Prasasti

Surabaya pernah mereplika sebuah prasasti. Sayang prasasti yang direplika salah. Yaitu Prasasti Kamalagyan (959 Saka atau 1037M).
Padahal isi replika prasasti ini adalah tentang dibangunnya sebuah bendungan (dam) di Wringin Sapta oleh Raja Airlangga, yaitu raja dari Kahuripan bersama rakyat. Prasasti ini tidak ada kaitannya dengan Surabaya.
Museum Surabaya Siola, yang dibuka oleh Wali Kota Surabaya saat itu, Tri Rismaharini, pada 3 Mei 2015 dan kemudian dibuka kembali dengan wajah baru pada akhir Juli 2024 setelah revitalisasi, ternyata belum juga mengupdate data historisnya terkait dengan prasasti yang menyebut sejarah Surabaya.
Jika bukan Prasasti Kamalagyan, lantas prasasti apa, yang menyebut keterkaitan dengan Surabaya?

Yaitu Prasasti Canggu (1358 M). Prasasti Canggu berisi aturan dan tata kelola aktivitas penyeberangan dan pelabuhan sungai di masa Kerajaan Majapahit, yang dikeluarkan oleh Raja Hayam Wuruk pada tahun 1358 M. Prasasti ini mengatur 33 desa penyeberangan di sepanjang Sungai Bengawan Solo dan 44 desa di sepanjang Sungai Brantas. Salah satu desa itu adalah Syurabhaya (Surabaya).
Surabaya disebut sebagai naditira pradesa karena merupakan salah satu desa penyeberangan di tepi sungai (terutama Sungai Brantas) yang menyediakan jasa penambangan (transportasi perahu).
Selain itu letaknya yang berada di muara Sungai Brantas, dekat dengan laut, yang membuatnya menjadi titik penting dalam jaringan perdagangan Majapahit antar pulau dan negara.
Desa Syurabhaya adalah Naditira Pradesa penting di era Majapahit. Sekarang Kota Surabaya sebagai kota Pelabuhan (Port City) penting dalam jaringan internasional.
Maka Museum Surabaya seharusnya telah mereplika Prasasti Canggu sebagaimana Jakarta mereplika Prasasti Tugu. (PAR/nng).
