Aksara Jawa, Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Masyarakat di luar wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih memegang pandangan bahwa DIY adalah jantung peradaban dan budaya Jawa. Hal ini didasarkan pada beberapa faktor, misalnya historis, kultural, dan status istimewanya. Yogyakarta dipandang sebagai pusat pelestarian tradisi Jawa klasik yang autentik, di mana nilai-nilai lama masih hidup berdampingan dengan modernitas.

Namun semakin ke era kekinian, dan upaya promosi kepariwisataan, kadang kala pengusung promosi lupa akan nilai penting lokal (local wisdom), yang sangat filosofis dan sepatutnya dibawa untuk dimajukan dalam konsep pemajuan kebudayaan. Local wisdom itu adalah Aksara tradisional Jawa.
Mungkin bagi masyarakat Keraton, Aksara Jawa adalah hal yang biasa karena sudah menjadi bagian dalam keseharian. Namun bagi masyarakat umum di luar keraton Aksara Jawa mencerminkan nilai penting sebagai wujud budaya dan peradaban Jawa.

Aksara Jawa bukan sekadar sistem tulisan, melainkan simbol nilai penting yang merepresentasikan budaya dan peradaban Jawa. Aksara ini berfungsi sebagai identitas budaya, warisan sejarah, serta wujud kearifan lokal yang perlu dilestarikan.
Di lingkungan keraton, pastinya sudah ada penulisan aksara Jawa pada artefak artefak (benda dan struktur kuno/lama) sebagai peninggalan masa lalu. Namun seiring dengan berjalannya waktu dan perubahan zaman, apakah aksara Jawa turut mengiring berjalannya waktu dan perubahan zaman?
Pemajuan Aksara Jawa
Seyogyanya Aksara Jawa dalam pemajuannya turut mengiringi berjalannya waktu dan perubahan zaman sebagai wujud bahwa aksara Jawa tetap digunakan (eksis). Yakni Aksara Jawa digunakan sebagai penambah dari keberadaan aksara pada sejumlah artefak kuno/lama di lingkungan Keraton.

Yaitu aksara Jawa digunakan pada benda dan struktur baru untuk melengkapi sarana Keraton. Misalnya penunjuk jalan, papan informasi dan alat penting lainnya di lingkungan keraton. Supaya dapat dimengerti dan menjadi proses pembelajaran publik, penyertaan aksara Latin sebagai transliterasinya bisa disertakan.

Apalagi jika ini menjadi proses promosi kepariwisataan. Maka, keberadaan akan penggunaan Aksara Jawa secara kekinian (dalam pemajuannya) akan sangat edukatif dan informatif bagi khalayak umum (pengunjung). Upaya ini sekaligus menunjukkan kepada publik pengunjung bahwa Keraton ada upaya pelestarian Aksara Jawa, (bukan memamerkan aksara dalam artefak) bukan hanya menunjukkan aksara Jawa pada artefak artefak kuno.
Smarabawana

Dalam event Smarabawana, yang berlangsung mulai 8 Maret hingga 26 Agustus 2026 (5 bulan penuh), Smarabawana menjadi tajuk pameran temporer di Keraton Yogyakarta yang berfokus pada Tata Ruang Kasultanan Yogyakarta.
Menurut GKR Bendara, Ketua Pameran sekaligus Pengageng KHP Nitya Budaya, sebagaimana dikutip dari vivajogja, mengatakan bahwa Smarabawana mengajak pengunjung memahami perjalanan tata ruang Kasultanan dari masa ke masa. Tidak hanya menampilkan aspek arsitektur, pameran ini juga mengungkap narasi sejarah, pertanahan, hingga perkembangan budaya yang membentuk wajah Yogyakarta.

Salah satu dari wujud budaya dalam satuan ruang di Yogyakarta adalah identitas filosofis, yang berupa Aksara Jawa. Aksara Jawa (Hanacaraka) tidak hanya dipandang sebagai alat tulis, tetapi memiliki nilai historis, spiritual, dan simbolis yang dalam, dan sering kali dikaitkan dengan konsep Ketuhanan dan perjalanan hidup manusia.
Nah, sesungguhnya Aksara Jawa dalam proses pemajuannya ini layak menjadi objek yang diketengahkan dalam ruang Keraton yang hingar bingar dengan event Smarabawana.
Ironis

Ironis ketika di lingkungan dalam keraton justru yang disajikan adalah aksara tradisional bangsa lain. Yaitu aksara Latin dan Tionghoa. Sementara aksara daerahnya sendiri (Jawa) tidak ada. Akan lebih bijak bila aksara Jawa menyertainya: ada Jawa, Latin dan Mandarin (Tionghoa).
Sementara ada keputusan Kongres Aksara Jawa yang berfokus pada standardisasi, digitalisasi, dan penguatan penggunaan aksara Jawa. Jika Keraton dianggap sebagai jantung dan patrun kebudayaan Jawa, lantas tidak memberikan panutan dari hasil Kongres Aksara Jawa (implementasi), bagaimana Marwah pemajuan kebudayaan (aksara Jawa) nya.

Apakah fakta ini bisa disebut bahwa semangat kongres Aksara Jawa sudah luntur, sementara keraton sendiri tidak menjadikan aksara Jawa sebagai identitas kebanggaan dalam pemajuannya di dalam lingkungan Keraton.
Momen Smarabawana, yang berlangsung selama 5 bulan penuh ini, sebetulnya menjadi wadah yang cocok dalam memamerkan Aksara Jawa di lingkungan Keraton yang bisa bersanding dengan aksara Asing. Melihat papan papan petunjuk dan papan informasi yang ada, sebagai tuan rumah justru tidak kelihatan batang hidungnya. Dalam pemajuan yang terlihat justru Aksara Hanzi (Tionghoa) dan Latin.

Aksara Jawa merupakan salah satu bentuk Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage) yang bernilai tinggi. Meskipun aksara ini hanya dituliskan secara fisik (misalnya pada papan, kertas, atau prasasti), nilai budaya, pengetahuan, dan keahlian untuk menggunakannya diwariskan secara turun-temurun, menjadikannya bagian dari ekspresi budaya takbenda. .
Aksara Jawa (Aksara Hanacaraka) memiliki peran sentral dan bernilai sangat penting di dalam keraton, khususnya Keraton Yogyakarta dan Surakarta. Aksara Jawa bukan sekadar media tulisan, melainkan simbol peradaban yang memuat nilai filosofis, spiritual, dan identitas budaya yang luhur. (PAR/nng).
