Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Perjuangan Dalam Pelestarian Kebudayaan memang tidak mudah dan harus menghadapi berbagai tantangan kompleks, terutama di era modernisasi dan globalisasi. Budaya seringkali dianggap kuno oleh generasi muda, sementara arus budaya asing masuk dengan cepat.
Apalagi jika generasi muda itu telah terkooptasi oleh lingkungan dan pemikiran modern. Ini menjadi konsekuensi serius terhadap identitas, budaya, dan struktur sosial. Modernisasi yang tidak difilter seringkali membawa pengaruh westernisasi, hedonisme, dan sikap individualistik yang menggeser nilai-nilai tradisional.
Perjuangan dalam mengenalkan budaya literasi aksara Jawa pun demikian. Ini pada khususnya dalam menghadapi insan insan yang sebetulnya tidak jauh dari budaya itu sendiri. Jika tantangan itu datang dari mereka yang belum kenal budaya dan aksara Jawa tidak masalah. Anggap saja namanya orang belum tau, jadi harus ada upaya ekstra dalam menghadapinya.
Tapi tantangan ini justru datang dari mereka yang sudah akrab dengan budaya dan aksara Jawa. Dengan kata lain jika tantangan dari orang luar adalah wajar, namun tantangan yang datang dari orang yang “sudah akrab” (internal) justru menunjukkan adanya krisis apresiasi, pergeseran paradigma, atau sikap apatis terhadap warisan budaya sendiri.
Ini yang namanya sikap kontradiktif dan tidak kooperatif. Ini adalah inti masalahnya dimana anggota komunitas yang seharusnya menjadi pelindung utama, justru menjadi penghambat.
Ini adalah sikap internal yang terpecah dan dapat melemahkan ikatan komunitas dan mempermudah budaya tersebut diklaim atau hilang disapu modernisasi.
Apakah ada sikap seperti ini?

Jelas ada! Dalam lingkaran suatu komunitas, para anggota pasti bisa memperhatikan siapa yang suportif dan siapa yang konstruktif serta destruktif. Itu adalah dinamika.
Dalam dinamika kelompok, komunitas, maupun organisasi, perbedaan perilaku antara anggota yang suportif, konstruktif, dan destruktif sangat nyata dan biasanya mudah dikenali oleh anggota lainnya. Dihimpun dari beberapa sumber, kita mengenal sikap sikap berikut:
1. Sikap Suportif (Mendukung):
Anggota ini berfokus pada pembangunan hubungan dan semangat bersama.
Ciri-ciri: Menunjukkan empati, mendukung ide orang lain, menawarkan bantuan, dan menghargai kontribusi.
2. Sikap Konstruktif (Membangun/Positif):
Anggota ini fokus pada solusi, perbaikan, dan efektivitas tim.
Ciri-ciri: Memberikan kritik yang membangun (bukan menjatuhkan) dan melemahkan, berfokus pada masalah (bukan personal), aktif mencari jalan keluar, dan terbuka terhadap masukan.
3. Sikap Destruktif (Merusak/Negatif): Anggota ini cenderung menghambat kemajuan dan menciptakan lingkungan yang beracun (toxic).
Ciri-ciri: Egois, mendominasi percakapan, menjatuhkan orang lain, menolak ide baru, menyebarkan gosip, atau pasif-agresif.
4. Sikap Kontradiktif: Anggota ini cenderung berperilaku yang saling bertentangan, tidak konsisten, atau berlawanan antara satu dengan yang lain.
Ciri-ciri: Menunjukkan kualitas yang bertentangan (misalnya, sangat keras kepala namun juga penakut).
Mengapa ini penting?
Komunitas yang sehat akan menghargai perilaku suportif dan konstruktif, serta menyaring atau menindak perilaku kontradiktif dan destruktif demi mempertahankan produktivitas dan keharmonisan. (PAR/nng)

