Historic Urban Landscape (HUL) Cara Cerdas Pelestarian Warisan Budaya.

Heritage

Rajapatni.com: SURABAYA – Ada istilah Historic Urban Landscape (HUL) atau Lanskap Kota Bersejarah. Istilah ini adalah dan menjadi sebuah pendekatan, yang diluncurkan UNESCO pada 2011. Ini adalah pendekatan yang mengintegrasikan pelestarian warisan budaya dengan pembangunan kota berkelanjutan.

HUL pendekatan cerdas dalam pelestarian warisan budaya (tangible dan intangible). Foto: ist

HUL memandang kota sebagai lapisan sejarah (fisik & non-fisik) yang dinamis, mencakup konteks geografis, infrastruktur, hingga identitas komunitas untuk mengelola pusat kota bersejarah.

 

Kota Lama Surabaya

Bahwa di sebuah zona terdapat lapisan sejarah, seperti misalnya zona Kota Lama Surabaya, yang telah resmi dijadikan kawasan wisata bersejarah oleh pemerintah Kota Surabaya. Ini adalah langkah strategis untuk melestarikan identitas kota sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.

Pelabuhan kali . Foto: nng

Untuk itu, perlu ada sikap kolaboratif, edukatif, dan konservatif (menjaga). Dalam menghadapi sikap ini, maka perlu pula pendekatan komprehensif, yang menyeimbangkan warisan masa lalu dengan kebutuhan masa kini. Yaitu perlu adanya pendekatan inovasi budaya, seperti mengintegrasikan nilai-nilai tradisi ke dalam konteks modern.

Tentu ini melibatkan adaptasi elemen lokal seperti desain, bahasa dan nilai ke dalam produk/gaya hidup kekinian, pendidikan generasi muda, penggunaan teknologi untuk edukasi, serta pembangunan ekonomi berbasis pelestarian budaya.

Gaya hidup boleh bergerak dan berubah namun identitas lokal tidak boleh sirna oleh gaya hidup itu sendiri. Hal ini menunjukkan pentingnya keseimbangan antara modernisasi (gaya hidup) dan pelestarian budaya (identitas lokal).

 

Think Globally, Act Locally

Kota lama Surabaya. Foto: ist

Caranya adalah dengan menerapkan prinsip “berpikir global, bertindak lokal” (think globally, act locally). Hal ini dapat diwujudkan melalui edukasi nilai budaya sejak dini, memanfaatkan teknologi digital (media sosial) untuk promosi seni/tradisi, mengintegrasikan elemen tradisional ke dalam produk kreatif modern, serta melibatkan generasi muda secara aktif dalam aksi aksi adat.

Salah satu yang telah dan sedang dilakukan pemerintah Kota Surabaya, dan didukung oleh pelibatan komunitas adalah pengenalan tradisi lokal/daerah, seperti tradisi tulis aksara Jawa melalui pendekatan digital. Pemerintah ambil peran melalui kebijakannya, sedangkan komunitas berperan melalui keterampilan dalam mengenalkan aksara Jawa.

Pengenalan aksara Jawa di kawasan Historic Urban Landscape (HUL) Kota Lama Surabaya adalah niscaya. Sebelum kehadiran bangsa Eropa di kawasan itu pada abad 17, disana telah berdiam bumiputera, yang sudah menggunakan aksara Jawa sebagai bentuk komunikasi tertulisnya. Dari fakta itu, tampak bahwa di kawasan Kota Lama Surabaya terdapat lapisan sejarah secara intangible yang perlu diketahui.

 

Buku Sketsa & Aksara Jawa

Sebuah gagasan konstruktif dan kolaboratif demi Surabaya. Foto: nng

Melalui sebuah buku “Sketsa Kota Lama Surabaya” yang sedang disusun oleh Komunitas Puri Aksara Rajapatni, diperkenalkan lagi penggunaan aksara Jawa dalam penulisan buku. Di sana ada pemakaian dua aksara (Jawa dan Latin) serta tiga bahasa (Indonesia, Inggris dan Belanda).

Selain itu, sebelumnya komunitas Puri Aksara Rajapatni juga pernah mengkampanyekan pengenalan Aksara Jawa lewat penulisan aksara Jawa pada banner lapak lapak di Kota Lama Surabaya dan mengajarkan Aksara Jawa pada warga setempat dari segala usia.

Dari segi fisik tangible adalah peran pihak lain (pengelola cagar budaya dan pemerintah) agar dapatnya menjaga dan melestarikan warisan budaya (heritage) yang bertengger di sana (gedung gedung). Bangunan bangunan heritage adalah bukti sejarah perkembangan kota bagaimana kota (desa) kecil (naditira pradesa) bisa bertransformasi menjadi kota administrasi penting untuk Hindia Belanda kala itu.

Kawasan Kota Lama Surabaya menyimpan warisan budaya (heritage) baik yang bersifat kebendaan (tangible) maupun non benda (Intangible). Jangan sampai dalam perkembangan zaman lantas sifat sifat itu hilang termakan zaman.

 

Pentingnya HUL

Buku panduan HUL. Foto: ist

Inilah pentingnya Historic Urban Landscape (HUL) karena HUL dapat memberikan pendekatan holistik untuk melestarikan warisan budaya perkotaan sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan.

HUL mengintegrasikan perlindungan lingkungan, budaya takbenda, dan ekologi dengan kebutuhan kota modern, memastikan identitas sejarah tetap terjaga di tengah perkembangan dinamis. (PAR/nng).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *