Sejarah Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Sebagai warga Surabaya, siapa yang tidak tahu Tugu Pahlawan sebagai simbol keberanian arek arek Surabaya?
Sebagai warga Surabaya, siapa yang tahu bahwa Tugu Pahlawan memiliki gambar Trisula sebagai senjata Dewa Siwa?
Trisula
Gambar Trisula itu ada pada sejumlah gunungan segitiga berwarna emas pada pangkal Tugu.

Dalam narasi sakral Tugu Pahlawan, senjata Trisula (Siwa) terlahir bersama dengan senjata Cakra (Wisnu), senjata para Dewa, sebagai buah hasil konsepsi sakral Lingga-Yoni. Jika belum pernah melihat, silahkan datang ke Tugu Pahlawan.

Trisula ini sebuah tombak bermata tiga, yang sangat tajam (mematikan dalam menghadapi musuh). Trisula ini bagai Tiga Naditira Pradesa, yang dimiliki Surabaya sebagaimana tersebut dalam prasasti Canggu (1358 M). Yaitu Gsang (Pagesangan), Bukul (Bungkul) dan śūrabhaya (Surabaya).
Gsang

Berdasarkan sudut pandang linguistik bahwa Gesang (Jawa) berarti Hidup atau kehidupan. Adalah fakta bahwa disana, Gsang pada 1358 M, telah ada kehidupan dimana digambarkan oleh Raja Majapahit Hayam Wuruk sudah ada kegiatan penambangan (penyeberangan) sungai untuk mendukung dinamika kegiatan masyarakat, yang terkait dengan urusan urusan perdagangan, perekonomian, keagamaan, kebudayaan dan kegiatan sosial lainnya.

Foto: oldmapsonline.org
Secara fisik berdasarkan peta yang dikoleksi oldmapsonline.org, bahwa di kawasan itu pada tahun 1700 juga dideskripsikan sudah ada pemukiman warga. Sementara di kiri kanannya masih kosong, tidak berpenghuni.
Bukul

Lebih ke Utara lagi, masih di tepian sungai Surabaya (Kalimas), ada Naditira Pradesa Bukul, yang kini bernama Bungkul. Bungkul (Jawa) berarti satu kesatuan (sebonggol) bawang putih. Sebungkul bawang putih adalah satu ikatan utuh alami beberapa siung siung bawang putih. Sebungkul menggambarkan satu kesatuan siung bawang putih. Jadi, se Bungkul adalah satu kesatuan. Apalagi dalam suatu keyakinan kebudayaan tertentu, bawang putih memiliki kekuatan untuk mengusir roh roh jahat.
śūrabhaya

Semakin ke Utara (hilir), mendekati muara sungai, ada śūrabhaya, yang sekarang menjadi ejaan Surabaya. Yaitu Surabaya, yang kita kenal. śūrabhaya, yang berasal dari kata “śūra” dan “bhaya”, berarti berani menghadapi bahaya. śūrabhaya adalah berani menghadapi bahaya atau ringkasnya “wani”.
Jika ketiga Naditira Pradesa dijadikan satu Gsang-Bukul-śūrabhaya, maka menjadi Hidup-Bersatu-Berani. Jika dalam hidup ada rasa kesatuan (gotongroyong), maka lahirlah keberanian. Itulah arek Surabaya dengan slogan gotong royong sebagaimana kerap disampaikan walikota Surabaya Eri Cahyadi.
Gotong royong adalah salah satu karakteristik orang Indonesia., sesuai dengan yang tertuang dalam Pancasila, sila ke 3, yaitu persatuan Indonesia
Prasasti Canggu sendiri bagi Surabaya semakin berarti dengan pemaknaan linguistik seperti itu. Hidup akan semakin berani dengan dasar kegotong-royongan (kesatuan dan persatuan).
Jadi, ketika walikota selalu menyampaikan kegotong royongan (kesatuan dan persatuan) dalam hidup adalah modal untuk berani dan selalu siap bekerja. (PAR/nng).
