Hidup Adaptif Dengan Alam Atau Alam Akan Menelan.

Alam Budaya (Nature Culture)

Rajapatni.com: SURABAYA – Profesor Suparto Wijoyo, dosen Sekolah Pasca Sarjana Unair, dalam sebuah perjalanan menuju Lamongan pada 2022 pernah berkata adaptasi lah dengan alam, termasuk dengan rupa rupa bencananya.

Hal itu ia katakan tatkala melewati suatu daerah di wilayah Lamongan yang sering terdampak banjir.

Banjir di Kalitengah Lamongan. Foto: ist

“Dulu ketika datang banjir, warga sudah siap dengan perahu perahu. Jembatan jembatan di depan rumah dibuat melengkung tinggi sehingga di bawahnya bisa dilalui perahu. Jaring jaring untuk menangkap ikan disiapkan bahwa akan ada momen menangkap ikan dari berkah banjir”, katanya sambil memperhatikan di sekeliling mobil yang melewatinya.

“Sekarang pola pikir dan sikap masyarakatnya berbeda, banjir dianggap bencana dan mereka justru menengadahkan tangan untuk bantuan. Tidak lagi ada suka cita akan datangnya berkah. Tapi duka lara”, lanjut Suparto Wijoyo dalam perjalanan untuk menemui bupati Lamongan Yuhronur Efendi kala itu.

 

Bencana Alam Tidak Dapat Dilawan

Bencana alam tidak dapat dihindari dan juga tidak dapat dilawan sepenuhnya, namun dampaknya dapat dikurangi secara signifikan melalui manajemen bencana dan kesiapsiagaan yang efektif.

Semburan lumpur panas Lapindo Sidoarjo. Foto: ist

Berdasarkan pengalaman yang menjadi guru yang baik adalah ketika semburan lumpur panas lapindo yang mulai terjadi pada 2006, selanjutnya di sana ada upaya menutup lobang semburan dengan memasukkan bola bola beton dengan harapan bisa menutup semburan.

Bola beton. Foto: ist

Metode ini, yang dikenal sebagai High Density Chained Ball (HDCB), yang melibatkan pemasukan untaian bola-bola beton berdiameter besar (sekitar 80 cm) ke dalam kawah semburan utama. Tujuannya adalah untuk menekan dan menyumbat saluran tempat keluarnya lumpur dari bawah permukaan.

Bola bola beton melawan lumpur panas. Foto: ist

Namun, upaya ini tidak berhasil menghentikan semburan secara permanen. Meskipun beberapa rangkaian bola beton berhasil dimasukkan ke pusat semburan. Tekanan lumpur dari dalam sangat kuat sehingga upaya penyumbatan ini tidak efektif dalam jangka panjang.

 

Membangun Tanggul

Akhirnya penanganan semburan lumpur Lapindo dilakukan dengan cara pengendalian aliran lumpur dengan menggunakan tanggul dan pompa, yang dialirkan ke Kali Porong. Upaya ini serupa dengan yang dilakukan oleh Raja Airlangga ketika membuat Dam (tanggul) di Wringin Sapta pada abad 11.

Dengan bendungan itu, Raja Airlangga justru berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Salah satu upaya penting yang dilakukannya adalah pembangunan Bendungan Waringin, yang kemudian dikenal sebagai Bendungan Waringin Sapta di abad ke-11.

Prasasti Kamalagyan di Kelagen. Foto: dok pri

Bendungan ini berlokasi dekat Kelagen, tepat di sepanjang sungai Brantas yang menjadi salah satu sungai terpanjang di Jawa Timur. Pendirian bendungan ini memiliki dua tujuan utama, yaitu untuk keperluan irigasi pertanian dan untuk mengatasi masalah banjir. Kehadiran bendungan itu ditandai dengan pembuatan prasasti yang bernama Kamalagyan (1037 M).

 

Kekuatan Bencana Alam Bervariasi

Memang setiap bencana memiliki ukuran dan kekuatan yang berbeda beda, namun setiap orang dan kelompok masyarakat tentunya memiliki upaya yang arif dalam menghadapi bencana itu. Bencana bersifat alamiah dan penanganannya haruslah bersifat bijak.

Bencana, memang sering kali bersifat alamiah, dan memerlukan penanganan yang bijak dan terencana untuk meminimalisir dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan. Pendekatan ini mencakup berbagai aspek seperti pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat, dan pemulihan pasca-bencana.

Bencana tidak bisa dilawan secara frontal. Tapi bisa dihadapi secara mitigatif (sebelum terjadi bencana) dan pemulihan pasca bencana (setelah terjadi bencana).

Dilansir oleh https://blog.olahkarsa.com/3-tahapan-dalam-manajemen-bencana/ ada dua langkah secara umum dalam menghadapi terjadinya bencana alam. Yakni:

 

Fase Mitigatif (Sebelum Terjadi Bencana): 

Fase ini melibatkan segala upaya untuk mengurangi risiko dan kerentanan terhadap bencana. Contohnya termasuk pembangunan infrastruktur tahan bencana (seperti bangunan tahan gempa atau tanggul), sistem peringatan dini, zonasi tata ruang yang aman, serta pelatihan dan penyuluhan kepada masyarakat.

 

Fase Pemulihan Pasca Bencana (Setelah Terjadi Bencana): 

Ini adalah fokus pada pengembalian kondisi masyarakat dan lingkungan pada pasca bencana seperti semula, atau lebih baik lagi (build back better). Ini mencakup pencarian dan penyelamatan korban, penyediaan bantuan darurat (pangan, tempat tinggal, medis), serta rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur yang rusak.

 

Lantas bagaimana dengan banjir Sumatera?

Dampak banjir Sumatera. Foto: ist

Jawabannya adalah banyaknya gelondongan kayu dan serpihan bekas tebangan yang terbawa arus. Alam telah menunjukkan jawabannya.

Maka, haruslah mengurai dalam mitigasi itu, apa yang perlu dilakukan? Akankah masih akan terjadi hal serupa di hutan hutan lainnya di Indonesia pada pasca banjir dan tanah longsor Sumatra? (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *