Globalize the Locals and Localize the Globals.

Sejarah Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Era baru adalah kolaborasi untuk tujuan bersama dan semua. Konsep ini memandang bahwa ide yang diramu dengan kerja sama, individu dan organisasi dapat mencapai hasil yang lebih signifikan dan bermanfaat bagi seluruh pihak, dibandingkan jika mereka mengejar tujuan secara terpisah. Konsep ini menyangkut berbagai bidang, seperti pembangunan berkelanjutan, inovasi teknologi, dan pemajuan kebudayaan. Kolaborasi semacam ini seringkali didasarkan pada prinsip-prinsip kepercayaan, dan saling menghormati.

Pemajuan kebudayaan perlu dilakukan secara kolaboratif karena sifat kebudayaan, yang melintasi berbagai aspek kehidupan dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Kolaborasi memungkinkan terciptanya pendekatan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.

 

Lembaga Budaya

Sebuah lembaga, yang terkait dengan urusan urusan kebudayaan baik itu warisan budaya (heritage) maupun sejarah (history), tengah mempersiapkan diri untuk hadir di tengah tengah masyarakat.

Melalui riset, kolaborasi, dan storytelling, lembaga ini mentransformasi warisan dari arsip statis menjadi ekosistem budaya yang hidup dan relevan.

Karenanya lembaga budaya, yang berkantor di Jakarta ini, bersifat inklusif dan advokatif demi lancarnya urusan urusan yang memang lintas sektoral.

Dari ekosistem budaya itu, diharapkan lahir refleksi dan narasi yang edukatif yang bertujuan untuk beberapa hal mendasar, yang berakar pada peran budaya dalam membentuk masyarakat. Bahwa budaya adalah modal dalam pembangunan bangsa.

Maka, budaya bukanlah sekadar aspek estetika atau hiburan, melainkan aset strategis, “modal”, dalam proses pembangunan bangsa secara holistik, yang mencakup aspek sosial, ekonomi, dan politik.

Diskusi dalam studio di RRI Surabaya. Foto: ist

Lembaga budaya itu adalah Musee ID, yang bergerak di ranah digital dan manual. Cara cara ini agar dapat menyentuh lokal yang bisa didistribusikan secara global. “Globalize the local” dan juga bisa “localize the global”.

Diskusi di studio siaran Radio Republik Indonesia (RRI) Surabaya. Foto: museeid

Pada kesempatan itu, Direktur Eksekutif Musee ID, yang sekaligus Board of Director ICOM CECA Nova Farida Lestari yang ditemani perangkat ICOM CECA bersama Ketua Puri Aksara Rajapatni Nanang Purwono berdiskusi dalam siaran budaya di RRI Surabaya Pro 4 pada Kamis, 15 Januari 2026 dalam upaya memperkenalkan peran museum di era digital.

Ajang kenalan di Jawa Timur. Foto: museeid

Karenanya lembaga budaya Musee ID ini berjejaring secara lokal, regional, nasional dan internasional. Organisasi ini didirikan atas inisiatif mandiri, yang menunjukkan kepedulian terhadap warisan budaya Indonesia.

Dalam mengawali organisasi budaya ini, Jawa Timur menjadi project awal karena dari Jawa Timur lah, tepatnya Desa Leran, Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik, peradabannya menasional. Berangkat dari lokal menyebar ke nasional. Yaitu peradaban Islam yang ditandai oleh hadirnya Siti Fatimah binti Maimun yang makamnya berada di Desa Leran dengan nisan yang berangka tahun 475 H (1082 M).

Nisan Siti Fatimah binti Maimun yang disimpan di Pusat Informasi Majapahit di Trowulan. Foto; ist

Makam Siti Fatimah binti Maimun merupakan situs bersejarah penting yang menjadi penanda awal masuknya Islam di Nusantara, bahkan disebut sebagai makam Islam tertua di Asia Tenggara.  (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *