Ekspresi Nilai Kejuangan Melalui Karya Literasi.

Budaya Literasi

Rajapatni.com: SURABAYA – Memaknai nilai kejuangan dalam era kekinian bukanlah berarti berjuang memanggul senjata, tetapi berjuang adalah segala daya upaya melakukan sesuatu untuk mewujudkan cita cita. Berjuang (yang didasari semangat ’45) saat ini memang tidak lagi diukur dari kemampuan mengangkat senjata, melainkan pada dedikasi, pengabdian, dan upaya pantang menyerah untuk mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Perjuangan Berbasis Keahlian dan Prestasi masa damai berarti belajar dengan giat, bekerja keras, berinovasi, dan memberikan kontribusi terbaik di bidang masing-masing untuk kemajuan bangsa.

Perjuangan dalam wujud nyata adalah dengan memiliki rasa cinta tanah air, toleransi, gotong royong, jujur, dan rela berkorban demi kepentingan bersama (sosial) di atas kepentingan pribadi.

Saat ini, “medan perang” telah berubah. Kita berjuang melawan kebodohan, kemiskinan, ketidakadilan, penyebaran berita bohong (hoax), dan upaya memecah belah bangsa.

Perjuangan juga berarti memperkenalkan budaya Indonesia atau identitas bangsa ke kancah dunia. Siapa bisa apa, lantas mereka melakukan sesuai kemampuannya dan kapasitasnya. Ini namanya turut membangun ketahanan dan mencerminkan esensi dari Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata). Ketahanan nasional tidak hanya bergantung pada kekuatan militer, tetapi juga partisipasi aktif seluruh komponen bangsa.

Surabaya memiliki banyak komponen dan Surabaya memegang semangat gotong royong sebagai alat perjuangan. Kota ini dikenal memiliki struktur sosial yang majemuk dan memegang teguh semangat gotong royong sebagai alat perjuangan, baik dalam sejarah maupun pembangunan kota saat ini. Semangat “Arek” yang guyub rukun menjadi dasar utama dalam mengatasi berbagai permasalahan kota.

Misalnya sebuah kelompok budaya turut andil membuat karya buku yang mengangkat jejak sejarah perjalanan kota dalam kemasan album sketsa tentang Kota Lama Surabaya. Kota Lama Surabaya tidak hanya berbingkai bangunan kolonial (tangible), tetapi ruang ruang di antara bangunan fisik itu ada dinamika sosial budaya yang menggambarkan perilaku masyarakat (intangible). Selain itu kemasannya adalah karya seni sebagai ekspresi dari upaya pemajuan kebudayaan. Yakni karya seni sketsa yang menjadi alat diplomasi dengan negara lain.

Sebuah gagasan konstruktif demi Surabaya. Foto: nng

Dalam prosesnya, pembuatan buku ini juga mengajak perwakilan lembaga pendidikan negara sahabat, yang tentu saja hasil karya buku ini akan menjadi jendela bagi mitra untuk negaranya. Di dalamnya setidaknya ada negara Belanda, Belgia dan Suriname. Lembaga edukasi ini adalah Netwerk Internationale Nederlandistiek Asie (NINA). Ini sebuah jaringan Internasional Bahasa Belanda di Asia, yang di Indonesia memiliki kantor cabang di Surabaya.

Ini adalah upaya memperkenalkan budaya Indonesia atau identitas bangsa ke kancah dunia, yang sekaligus membangun kerjasama antar negara melalui diplomasi budaya. Hasil dari pembuatan buku ini, tidak hanya bermanfaat secara internal, tetapi juga secara eksternal.

Buku, yang menjadi wujud literasi, menjadi penguat kota Surabaya sebagai Kota Literasi. Surabaya sedang memperkuat posisinya sebagai Kota Literasi melalui aktivasi buku dan budaya baca, didukung inisiatif seperti bedah buku melalui tahapan penerbitan serta peluncuran buku sejarah lokal. Upaya ini bertujuan meningkatkan minat baca, membangun karakter generasi muda, dan menyediakan akses luas terhadap buku, guna menangkal dampak negatif informasi instan yang tidak sesuai.

Dengan demikian, nilai kejuangan adalah tindakan nyata yang membawa manfaat bagi diri sendiri dan orang banyak, yang dilakukan dengan tulus untuk kemajuan Indonesia.

Ekspresi nilai kejuangan melalui karya literasi adalah upaya menanamkan, melestarikan, dan menyebarluaskan semangat kepahlawanan, seperti cinta tanah air, rela berkorban, dan pantang menyerah, menggunakan media tulisan, sastra, dan konten kreatif. Literasi bukan sekadar membaca, melainkan alat untuk memahami sejarah dan membangun kesadaran akan nilai-nilai perjuangan yang masih relevan di masa modern. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *