Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Dua hotel berbintang yang bercitra vintage dukung penerbitan buku “Sketsa Kota Lama Surabaya”. Dua hotel itu adalah Horison Arcadia Heritage Rajawali Surabaya dan Shalimar Boutique Hotel Malang.
Horison Arcadia Heritage Rajawali Surabaya

Bangunan Horison Arcadia Heritage Rajawali Surabaya menjadi landmark Kawasan Kota Lama Surabaya. Bangunan, yang dulu dikenal dengan kantor Geo & Wehry itu, berada di jalan utama Kota Lama Surabaya. Yakni jalan Rajawali, yang dulu dikenal sebagai jalan Heerenstraat.
Jalan ini dari Barat menusuk sate pada lingkungan bangunan Balai Kota Surabaya lama (Oud Stadhuis). Bangunan Balai Kota Surabaya lama ini telah dibongkar untuk akses jalan yang menghubungkan jalan Rajawali (Heerenstraat) dan jalan Kembang Jepun (Handelstraat).
Jalan Heerenstraat kala itu adalah bagian dari jalan Raya Pos atau Jalan Daendels, yang menghubungkan Anyer (Jawa Barat) dan Panarukan (Jawa Timur).
Secara fisik pada facade, hotel Horison Arcadia Heritage Rajawali Surabaya, adalah hasil dari adaptasi bangunan lama (Adaptive Reuse). Adaptive reuse (penggunaan kembali secara adaptasi) adalah strategi arsitektur untuk mengubah fungsi bangunan lama/bersejarah menjadi fungsi baru yang relevan, tanpa menghilangkan fitur sejarah dan struktur aslinya.

Karenanya, hotel ini pun juga tidak sekedar mempertahankan kondisi fisik (facade), tetapi secara non fisik melalui aktivitas hotel juga turut melestarikan nilai nilai budaya yang ada. Misalnya tatanan ruang dan dekorasi interior hotelnya mengekspresikan lingkungan Kota Lama Surabaya.
Dalam rangka peringatan Hari Warisan Budaya Dunia 2026 ini, Horison Arcadia Heritage Rajawali Surabaya akan menjadi tempat pameran sketsa, yang bertema Kota Lama Surabaya. Ini adalah kiat pihak manajemen hotel dalam menguatkan keberadaan hotel yang berada di kawasan Kota Lama Surabaya.
Secara fisik bangunan utama hotel adalah koleksi Kota Lama Surabaya, yang layak sebagai unsur museum hidup Kota Lama Surabaya. Pihak manajemen hotel menyambut warga Surabaya bila ingin melihat interior hotel, terlebih dalam agenda pameran sketsa Kota Lama Surabaya mulai 18 April 2026 mendatang.
The Shalimar Boutique Hotel Malang

Sementara itu The Shalimar Boutique Hotel Malang berada di kawasan jalan Ijen, tepatnya di jalan Cerme 16 Malang. The Shalimar Boutique Hotel Malang adalah hotel bintang lima, yang berkonsep heritage dan boutique, yang menempati bangunan kolonial dari tahun 1930 di kawasan Ijen, Kota Malang. Hotel ini terkenal dengan suasana klasik, dengan kamar kamar yang elegan, serta fasilitas De Hemel Restaurant, pool terrace, dan spa, menjadikannya destinasi istirahat yang tenang dan historis.
Gedung hotel ini dibangun tahun 1930 oleh Ir. Muller, yang awalnya merupakan gedung societeit (tempat dansa/pertemuan) orang orang Eropa (Belanda) dan juga pernah menjadi stasiun RRI sebelum diubah menjadi hotel pada 1994. Kemudian rebranding menjadi The Shalimar pada 2015. Desain arsitekturnya mempertahankan bentuk kolonial asli.

Hotel boutique ini terletak di kawasan elit Ijen/Oro-oro Dowo, dekat dengan Taman Cerme, Perpustakaan Kota Malang, Museum Brawijaya, dan area kuliner populer di kota sejuk ini.
Nilai budaya bersifat universal, yang artinya bahwa ada unsur-unsur, pola, atau institusi kebudayaan tertentu yang juga ditemukan di seluruh masyarakat manusia di dunia, terlepas dari lokasi geografis atau perbedaan spesifik lainnya.
Seperti misalnya penulisan dan penerbitan buku Sketsa Kota Lama Surabaya dalam rangka peringatan Hari Warisan Budaya Dunia di Surabaya, didukung oleh pihak pihak dari lintas geografis. Kota Lama Surabaya di Surabaya, sedangkan The Shalimar Boutique Hotel ada di Malang. Tapi nilai budayanya bisa diapresiasi dimana mana dan bahkan lintas negara dan lintas benua. Tak heran jika project penulisan buku dan peringatan Hari Warisan Budaya ini juga didukung oleh pihak pihak lintas negara. Ada Netwerk Internationale Neerlandistiek in Asie yang berkantor pusat di Belgia. (PAR/nng)
