Sejarah Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Pada Kamis siang (15/1/26), Nanang Purwono, Ketua Puri Aksara Rajapatni, menemani Nova Farida Lestari, Direktur Eksekutif Musee ID, yang sekaligus sebagai Board of Director of The International Council of Museum for the Committee for Education and Cultural Action (ICOM CECA), berkunjung ke Museum Surabaya di gedung Siola di jalan Tunjungan, Surabaya.

Foto: nng
Kunjungan Nova yang ditemani komite lainnya, Wulan, ini ada kaitannya dengan keberadaan museum museum yang ada di tanah air, sebagai bagian dari museum museum di dunia. ICOM CECA memiliki 1.500 anggota profesional dari sekitar 85 negara anggota. Indonesia adalah salah satunya.
Dewan Museum Internasional, ICOM, yang berkantor pusat di Perancis ini, tidak hanya menjadikan museum museum sebagai ajang (etalase) pamer artefak belaka. Tetapi lebih ke pemberdayaan museum agar berdampak pada komunitas melalui kegiatan sosial-museologi.
Sosial-museologi adalah pendekatan dalam studi museum, yang menekankan peran museum sebagai proyek kolektif dan institusi sosial, berfokus pada partisipasi aktif masyarakat, kelompok, dan individu dalam pengelolaan, definisi, serta pemanfaatan warisan budaya dan alam, serta dampaknya terhadap pembangunan berkelanjutan dan konteks sosialnya.
Dalam hal ini ICOM CECA berharap menjadikan museum sebagai alat untuk transformasi sosial dan pembangunan berkelanjutan, sebagaimana disebut dalam sdghelpdesk.unescap.org bahwa museum dapat berperan dalam semua poin SDG’s (Sustainable Development Goals) mulai nomor 1 hingga 17.
Sustainable Development Goals (SDGs)

SDG’s adalah agenda global, yang telah ditetapkan oleh PBB dan museum bisa mengemban untuk mencapai semua tujuan pembangunan berkelanjutan itu. Ini menunjukkan bahwa museum sebagai wadah memori kolektif, yang sangat penting dalam kehidupan.
Wajar, karena museum memiliki potensi besar untuk berkontribusi pada pencapaian 17 Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang ditetapkan oleh PBB. Museum dapat berfungsi sebagai pusat pendidikan, penelitian, dan keterlibatan komunitas yang kuat, mengemban peran penting dalam mengadvokasi dan mengimplementasikan agenda global ini.
Peran Masyarakat
Terkait dengan peran dan keterlibatan komunitas dalam proses pembangunan berkelanjutan sebagaimana diamanatkan dalam SDGs, maka masukan masukan dari komunitas adalah bagian dari proses pembangunan.
Apalagi partisipasi aktif masyarakat tertuang dalam Undang Undang Pemajuan Kebudayaan. Masyarakat, termasuk komunitas-komunitas adat dan budaya, memiliki peran strategis sebagai subjek sekaligus objek dalam upaya pelestarian dan pengembangan kebudayaan nasional.
Kunjungan Mendadak

Dalam kunjungan mendadak di Museum Surabaya, board of director ICOM CECA, Nova Farida Lestari dan Wulan, tertuju pada alur sejarah Surabaya di era klasik, yang ditampilkan melalui sequence gambar gambar sketsa. Ada satu fragmen yang menggambarkan Jasa tambangan sungai, yang menginformasikan tentang aktivitas penambangan (penyeberangan sungai) di sebuah Naditira Pradesa Syurabhaya (ꦯꦸꦫꦨꦪ).
Namun sayang Naditira Pradesa Syurabhaya dengan jasa tambangan ini belum diiringi dengan sumber otentiknya. Yaitu prasasti Canggu, yang tidak hanya menjelaskan dan menuliskan tentang Naditira Pradesa, tetapi sekaligus menyebut nama desa di tepian sungai itu. Yaitu Syurabhaya.
Sumber sejarah otentik ini dapat diminta dari Museum Nasional Indonesia, yang selama ini diketahui menyimpannya. Justru, yang dikoleksi oleh museum Surabaya adalah replika prasasti kamalagyan (abad 11) yang sama sekali tidak menyebut nama Surabaya dan apalagi tentang sejarah Surabaya.
Disana ada memang ada penyebutan nama Hujung Galuh, tetapi apakah Hujung Galuh yang disebut sebagai pelabuhan itu mengacu pada tempat yang bernama Surabaya sekarang?
Berita Prasasti Kamalagyan
Adapun petikan lengkap dari prasasti Kamalagyan itu berbunyi: “maparahu samanghulu mangalap bhanda ri hujung galuh tka”.
Artinya adalah: “…berperahu lah menuju ke hulu untuk mengambil harta benda (barang dagangan) di Hujung Galuh”.
Sementara letak prasasti Kamalagyan berada di Krian dekat hulu. Sedangkan Surabaya berada di hilir sungai, bukan di hulu sungai. Di kawasan hulu sungai hingga saat ini masih ada desa, yang bernama Dusun Pelabuhan, Desa Canggu, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.

Prasasti kamalagyan di Krian ini bercerita tentang kebesaran Raja Airlangga (Raja dari Kahuripan) atas dibangunnya sebuah bendungan di Wringin Sapta, yang berlokasi di Dusun Klagen, Tropodo, Kecamatan Krian Kabupaten Sidoarjo. Narasi ini disematkan untuk keterangan Replika Prasasti Kamalagyan.

Dalam prasasti Kamalagyan itu memang terdapat kata kata Hujung Galuh, yang merupakan tempat berkumpulnya kapal kapal dagang dari pulau sekitar. Tetapi sekali lagi, apakah Hujung Galuh yang dimaksud dalam prasasti itu berada di Surabaya?. Ini masih dalam perdebatan banyak pihak.
Memang ada nama Galuhan di Surabaya di dekat jalan Semarang tetapi nama Galuhan itu adalah nama baru, yang digunakan mulai tahun 1950-an oleh walikota Surabaya Doel Arnowo.
Prasasti Canggu

Di balik perdebatan mengenai Hujung Galuh, sebenarnya sudah ada data yang otentik. Yaitu prasasti Canggu (1359 M). Atas data dan fakta itu, seyogyanya Museum Surabaya melengkapi koleksinya dengan replika Prasasti Canggu, bukan replika Prasasti Kamalagyan.
Setelah mengerti alur sejarah Surabaya klasik, Nova dan Wulan melanjutkan menyimak alur sejarah masuknya Mataram,VOC, Hindia Belanda hingga era pasca kemerdekaan. Nova sebagai organ ICOM CECA memuji Museum Surabaya karena dalam kerangka kerja nya sebagaimana dipresentasikan dalam slide di penghujung rangkaian ruang pamer telah memasukkan poin poin sebagaimana dimaksud dalam SDGs. (PAR/cb nng).
