Sejarah
Rajapatni.com: SURABAYA – Gedung Cerutu Surabaya punya kembaran di sekitar Dam Square di kota Amsterdam, Belanda.
Dam Square adalah alun-alun utama dan paling terkenal di Amsterdam, yang awalnya dinamai dari bendungan pertama di Sungai Amstel yang dibangun pada abad ke-13. Saat ini, Dam Square merupakan pusat kota yang penting dan menjadi lokasi bersejarah dimana Istana Kerajaan (Koninklijk Paleis) dan Monumen Nasional, serta tempat wisata yang ramai dengan toko dan restoran.

Square ini memiliki miniaturnya di Surabaya. Namanya Willemsplein. Sekarang sudah berubah nama lagi menjadi Taman Sejarah. Sebelumnya pernah bernama Taman Jayengrono.
Jayengrono adalah seorang Adipati Surabaya. Sementara Willem adalah nama Raja di Belanda. Penamaan nama Taman Jayengrono adalah upaya mensejajarkan nama seorang pemimpin dimana Surabaya juga punya layaknya Belanda punya seorang raja.
Tidak hanya seorang tokoh pemimpin yang namanya disematkan pada sebuah tempat, tetapi juga ada gedung gedung ikut menandai.
Alun-alun sering kali dibuat di dekat istana karena alun-alun adalah pusat kegiatan masyarakat, pemerintahan, dan agama, sementara istana adalah pusat kekuasaan. Konsep ini ada di Dam Square Amsterdam. Pun juga di Willemsplein atau Taman Willem di Surabaya jaman dulu.

Keberadaan Istana atau di Surabaya adalah Balai Kota (Stadhuiz) dapat dikenali dengan jejaknya (nama jalan Stadhuissteeg) alias Jalan Gelatik. Jalan ini berada di belakang (Barat) Stadhuis (Balai Kota)
Di sekitar Willemsplein, dulu juga ada sebuah gereja protestan. Diantara fasilitas lain yang ada di sekitaran Willemsplein adalah Gedung Cerutu ((1916). Dulunya merupakan Kantoor pabrik Gula NV Maatschappij Tot Exploitatie van Het Bureau Gebroeders Knaud. Kini namanya lebih dikenal dengan nama Gedung Cerutu karena menaranya yang merujuk pada bentuk seperti cerutu.

Bangunan dengan menara yang berbentuk Cerutu ini juga ada di Alun Alun Dam (Dam Square) Amsterdam. Sekarang dikenal dengan nama Hotel Twenty Seven. Bangunan ini didirikan tiga tahun lebih awal dari Gedung Cerutu di Surabaya. Yaitu pada 1913.

Gedung ini sangat ikonik di Dam Square, yang tidak lain secara fisik karena bentuk menaranya yang seperti Cerutu, sebuah tempat, yang penuh kemegahan, karakter, dan sejarah. Di tempat ini dulunya merupakan klub para pria berkumpul dengan kisah-kisah abadi nya, yang kini menjadi ikon kota dalam menyambut tamu dari seluruh dunia.
Kini namanya dikenal dengan nama Hotel Twenty Seven, yang tetap dikenang dalam dunia kemewahan, ketenangan, dan keanggunan. Hotel twentyseven bukan sekadar hotel butik untuk menginap, melainkan sebuah pengalaman di dalam sebuah monumen yang bernapas, hidup, dan menceritakan kisahnya sendiri.
”Dam Square, I see you in love”, itulah kata yang terucap untuk rasa, yang tak terwakili sejuta kata. (PAR/nng).
