Café Schreierstoren, Jejak Tembok Amsterdam

Sejarah Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Di kota Amsterdam, masih banyak peninggalan yang terkait dengan Indonesia (Dutch East Indies) di masa lampau. Terlalu banyak untuk diulik, entah dari mana memulainya.

Setidaknya kata “VOC” bisa menjadi pintu masuk untuk membedah satu sisi saja. Ya, VOC menjadi alur sejarah, yang bersifat kronologis. Tercatat bahwa bangsa Belanda melalui Serikat Dagang VOC nya mengawali jalinan dengan Nusantara, yang kala itu mereka bilang Indies, lalu dilengkapinya menjadi Dutch East Indies atau Hindia Timurnya Belanda.

Di kota Amsterdam, ada dua tempat yang bisa dijadikan patokan adanya koneksi dengan Hindia Timur. Yakni sebuah menara VOC (Schreierstoren) dan replika Kapal VOC.

Bersama Emile Leushuis di atas Gladak kapal VOC. Foto: doc pri

Emile Leushuis, seorang kawan yang memiliki usaha perjalanan “Indotrack”, mengajak jalan jalan di kota Amsterdam yang dimulai pukul 10.00 pagi hingga 19.00 malam. Jalan kaki. Dari sejumlah tempat menarik dimana kami berhenti, dua diantaranya adalah Schreierstoren Café dan Replika Kapal VOC.

 

Schreierstoren Cafe

Bekas Menara Pertahanan kota Amsterdam. Foto: ist

Schreierstoren terletak di Prins Hendrikkade di pusat kota Amsterdam. Schreierstoren sendiri berarti Menara Menangis atau Menara Air Mata. Awalnya menara ini merupakan bagian dari tembok pertahanan kota pada abad pertengahan Amsterdam, Belanda, yang dibangun pada abad ke-15, tepatnya tahun 1487. Sekarang menjadi satu-satunya menara pertahanan, yang masih tersisa di kota Amsterdam.

Bukti peradaban kota Amsterdam. Foto: ist

Dari sanalah Henry Hudson, seorang navigator dan penjelajah Inggris, berlayar dalam perjalanannya ke Amerika Utara. Ekspedisi ini mengarah pada penemuan wilayah metropolitan New York modern, yang meletakkan dasar bagi kolonisasi Belanda di wilayah tersebut.

Tegak menjulang di Hendrikkade Amsterdam, Foto: kol pri

Henry Hudson pernah berlayar sekali untuk Belanda (1609) dan tiga kali untuk Inggris (1607, 1608, 1610-1611) serta penemu informasi baru tentang rute jalur air di Amerika Utara. Ia juga melakukan perjalanan untuk menemukan rute pendek dari Eropa ke Asia melalui Samudra Arktik (wiki).

Menara ini juga menjadi saksi keberangkatan kapal kapal VOC ke Hindia Timur, demikian kata Emile ketika sejenak mampir dan berfoto di menara itu.

Ya, sejak akhir abad 20, Schreierstoren telah menjadi sebuah kafe, VOC Café, sebuah tempat yang menyediakan tempat untuk resepsi, pesta ulang tahun, minuman dan perayaan lainnya. Anda dapat mampir untuk menikmati secangkir kopi atau roti sambil menikmati pemandangan menakjubkan dari teras.

 

Kapal VOC

Replika Kapal VOC di kota Amsterdam. Foto: ist

Dari Schreierstoren Café, tidak lengkap jika tidak mengunjungi replika Kapal VOC, yang bernama Amsterdam (1748). Letaknya di depan museum Maritim Amsterdam (Het Scheepvaartmuseum). Meski replika namun berukuran 1:1 sehingga dapat merasakan sensasi naik kapal VOC.

Sebuah meriam di Gladak buritan. Foto:kol pri

 

Memasuki Gladak kapal, disuguhi beberapa pucuk meriam yang diantaranya berada di anjungan buritan. Di dalam lambung kapal terdapat beberapa ruangan dengan piranti yang melengkapi. Mulai dari sistem persenjataan hingga navigasi. Tidak ketinggalan ruang bagasi atau barang yang menyimpan barang berupa rempah rempah.

Infografis jejak VOC di Nusantara. Foto: kol pri

Sejumlah info grafis yang terpasang terkait dengan Hindia Belanda (Indonesia). Ada sensasi berada di dalam kapal VOC ini dimana pengunjung bisa merasakan betapa besar hasil perkebunan dari Nusantara yang dibawa ke Belanda kala itu. (PAR/nng).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *