Berbagai Unsur Bergerak Bagai Bola Salju Untuk Rumah Radio Bung Tomo

Sejarah

Rajapatni.com: SURABAYA – Sejumlah warga Surabaya menyampaikan dukungan terhadap upaya penelusuran kembali mengapa bangunan cagar budaya rumah Radio Bung Tomo bisa dibongkar habis. Warga Surabaya itu dari berbagai kalangan profesi. Ada pegiat sejarah, guru, lingkungan keluarga, akademisi, hingga pengacara kondang.

Dari semua elemen itu, suaranya merujuk pada satu pernyataan: “diduga ada yang salah ini!”.

Seorang pengacara kondang Surabaya, yang tidak disebutkan namanya mengatakan: “…ayo aku melok mbongkar…”.

Lainnya mengatakan: “kalau lewat gerakan intelektual, misalkan sarasehan atau FGD, ini akan lebih menekan mas. Hasilnya dibuat policy brief ke Pemkot dan kementerian kebudayaan”. Itu pesan dari seorang akademisi dan aktivis pendidikan kota Surabaya.

Sementara masih ada lainnya, yang melakukan gerakan praktis di lapangan. Itu semua merupakan aksi spontan arek Surabaya sebagaimana ketika bangsa asing hendak menjajah kembali Indonesia melalui Surabaya pada 1945.

Ragam lapisan unsur Surabaya ini bersedia maju sebagai garda depan. Ini bagai pesan Bung Tomo melalui radio yang menyebut mereka adalah: “…seluruh lapisan masyarakat, termasuk rakyat jelata, bakul soto, tukang becak, dan pekerja lainnya untuk bersatu melawan penjajah’.

Pidato Bung Tomo. Foto: ist

Bung Tomo pun dengan lantang berucap yang sangat membakar semangat arek arek Surabaya: “…selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah, yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih, maka selama itu tidak akan kita akan mau menyerah kepada siapapun juga…”

Ingat, semangat itu masih ada di hati arek arek Surabaya yang paham arti kedaulatan dan kemerdekaan. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *