Bedanten, Leran dan Surabaya Gerbang Pedalaman Jawa.

Sejarah

Rajapatni.com: SURABAYA – Berdasarkan prasasti Canggu (1358 M), yang dikeluarkan Raja Hayam Wuruk Majapahit, ada sebuah Naditira Pradesa paling hilir di Bengawan Solo. Namanya adalah Bedanten (Madanten). Desa, yang persis berada di tepi Bengawan ini, memiliki kekunoan baik berdasarkan sebaran makam kuno maupun temuan temuan yang berupa pecahan gerabah dan keramik, termasuk temuan koin koin kuno.

Desa di tepian Bengawan Solo. Foto: dok nng

Tidak cuma itu, rumah rumah warga, yang masih asli dari era kolonial, adalah rumah rumah yang berbentuk arsitektur loji tapi terbuat dari bahan dan konstruksi kayu. Unik. Ini mirip konstruksi bangunan bangunan peninggalan Belanda di kota lama Paramaribo (Stad Van Paramaribo) Suriname, Amerika Selatan.

Meskipun mengadopsi gaya arsitektur loji, namun bahan bangunan utama yang digunakan masih tetaplah material lokal yang melimpah dan mudah didapat, yaitu kayu (seperti kayu jati). Penggunaan bahan kayu ini juga disesuaikan dengan kondisi iklim setempat dan teknik konstruksi tradisional Jawa, yang sudah mapan (misalnya, konstruksi knock-down atau pasak kayu).

Bisa jadi materialan kayu ini, pada zaman dulu, didapat dari kayu kayu kiriman dari Bojonegoro, yang dihanyutkan melalui Bengawan dan kemudian dikumpulkan (dipool) di daerah Bedanten. Karenanya di desa Bedanten ada bekas tempat penampungan gelondongan kayu. Namanya Balokan.

Desa kuno Bedanten ini berjarak sekitar 23 km dari Desa Leran, kecamatan Manyar, yang ada di selatan, dekat sungai Manyar. Sebuah Babad Madura (1830) menceritakan sungai Bengawan Solo sebagai lalu lintas air, perjalanan keluarkan kerajaan dari Surakarta ke Madura dan mereka sempat menjadikan Bedanten sebagai tempat persinggahan sebelum melanjutkan menyeberang Selat Madura.

Fragmentasi artefak. Foto:dok nng

Penting diketahui bahwa penggunaan jalur air dan lokasi geografis, yang dijelaskan dalam babad tersebut, mencerminkan kondisi transportasi dan geografi pada masa itu. Bengawan Solo, sebagai sungai terpanjang di Jawa, secara historis memainkan peran krusial sebagai arteri transportasi dan perdagangan utama, yang menghubungkan wilayah pedalaman dengan pesisir utara Jawa.

Babad Madura 1830 ini berasal dari naskah kuno berbahasa Madura, yang berisi sejarah dan legenda Madura, termasuk kisah tentang perjuangan melawan Belanda pada masa Sultan Abdurrahman (sekitar 1830-an), di mana kerajaan-kerajaan Madura seperti Sumenep, Pamekasan dan Bangkalan.

Pegiat sejarah dan budaya mengais serpihan artefak. Foto: dok nng

Bisa dibayangkan bagaimana Desa Bedanten pada masa lalu, yang menjadi tempat pemberhentian perjalanan air dari pedalaman Jawa, utamanya Surakarta, ke pulau Madura. Mereka menampung logistik yang cukup untuk kebutuhan selama mengarungi selat Madura.

Jelas berbentuk. Foto: dok nng

Sementara di selatan Bengawan Solo dengan Naditira Pradesa Bedanten pada bagian hilir Bengawan terdapat Desa Leran yang berada di hilir sungai Manyar. Berdasarkan temuan dan artefak yang ada hingga saat ini, seperti makam Siti Fatimah binti Maimun (abad 11) dan beberapa makam panjang di sekitar nya menunjukkan bahwa di bagian hilir sungai manyar adalah wadah peradaban.

Jarak Leran ke Surabaya. Foto: google

Begitupun di muara sungai Surabaya sebagai anak sungai Brantas, yang jaraknya kira kira 26 kilometer dari Leran di sungai Manyar, juga merupakan kawasan kuno sebagai gerbang masuk ke pedalaman pulau Jawa.

Peta lama Bedanten di masa kolonial. Foto: abi

Gerbang Utara itu adalah Bedanten dan Leran (kabupaten Gresik) dan Kali Surabaya (kota Surabaya). Mereka adalah kawasan pelabuhan maritim pulau Jawa. Jalur Surabaya melalui sungai Brantas. Jalur Gresik melalui Bengawan Solo.

Memang titik Bedanten dan Leran tidak bisa bertahan dan berkembang seperti Surabaya. Ada pergeseran pusat keramaian dari Bedanten dan Leran ke Gresik dengan pelabuhan kuno yang baru.

Dinamika pelabuhan kuno memang seringkali menyebabkan pusat ekonomi berpindah seiring perubahan jalur perdagangan, pendangkalan sungai, atau pembangunan fasilitas yang lebih baik di lokasi lain. Gresik adalah contohnya. (PAR/nng)

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *