Apakah Surabaya Lupa Nilai Luhurnya?

Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Sangat ironis. Pemerintah Hindia Belanda yang notabene bangsa Eropa masih mau menjunjung tinggi nilai budaya lokal, tetapi justru orang lokal sendiri yang mencincang nilai lokal.

Nilai lokal itu adalah sesanti yang berbunyi “Sura ing Baya”. Yaitu sesanti luhur Surabaya. Sesanti yang berangkat dari nama Çūrabhaya itu berarti “berani menghadapi bahaya”. Çūra artinya berani dan Bhaya berarti bahaya. Makna ini lantas dirangkai dalam satu sesanti yang berbunyi Sura ing Baya.

Sesanti Sura ing Baya dalam emblem kota Surabaya di era pemerintahan Hindia Belanda. Foto: ist

Menariknya, sesanti itu secara resmi digunakan di era pemerintah Hindia Belanda. Anehnya, justru sesanti itu dihilangkan di era pemerintahan pasca kemerdekaan.

Sesanti Sura ing Baya hilang dalam emblem Surabaya kekinian. Foto: ist

Diantara emblem beberapa kota di Jawa Timur seperti Malang, Kediri, Blitar, Pasuruan, Kota Mojokerto, hanya Surabaya melupakan sesantinya.

Sesanti adalah semboyan, motto, atau pepatah dalam bahasa Jawa yang berupa rangkaian kata menarik, singkat, dan bermakna dalam. Sesanti berfungsi sebagai pedoman hidup, nasihat, maupun ajaran nilai-nilai budaya dan kebijaksanaan. Seringkali, sesanti digunakan sebagai slogan instansi, wilayah, atau visi hidup agar mudah diingat dan memberikan semangat.

Tapi Kota Surabaya melalaikan sesanti luhurnya. Mengapa tidak ada upaya menggunakan kembali sesanti Sura ing Baya? Lupakah Surabaya terhadap nilai luhurnya dan leluhurnya?

Warga Belanda Berdarah campuran Belanda – Jawa, Michiel Eduard,  mengingatkan melalui lagu ciptaannya Surabaya ku. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *