Anak Perlu Belajar Berempati

Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Setiap daerah di Indonesia memiliki nilai-nilai luhur budaya yang khas, seperti budaya Jawa, yang mengajarkan unggah ungguh ꦈꦔ꧀ꦒꦃꦈꦔ꧀ꦒꦸꦃ (tata krama) dan rasa ꦫꦱ (rasa empati).

Unggah-ungguh dalam bahasa Jawa adalah tata krama atau sopan santun dalam berinteraksi, baik dalam berbicara maupun bersikap.

Sementara rasa empati adalah kemampuan seseorang untuk memahami dan merasakan perasaan, pikiran, dan pengalaman orang lain. Ini melibatkan melihat dunia dari sudut pandang orang lain dan membayangkan diri berada pada posisi mereka.

Empati lebih dari sekadar simpati. Ini adalah upaya aktif untuk benar-benar terhubung secara emosional dengan orang lain. Praktik ini tidak mudah. Namun akan sangat baik ketika kita bisa berempati pada orang lain.

Puasa, terutama puasa pada bulan Ramadhan, sering dianggap sebagai bentuk empati karena mengajarkan seseorang untuk merasakan penderitaan orang lain, yang kurang beruntung, khususnya mereka yang kekurangan makanan dan minuman.

Dengan menahan lapar dan haus, seseorang menjadi lebih peka terhadap kondisi tersebut (sosial dan ekonomi) dan terdorong untuk lebih peduli serta berbagi dengan sesama.

Dulu ketika masih kecil, sudah diajarkan puasa bedug (setengah hari), yang kemudian bisa minum dan makan pada saat adzan sholat dzuhur berkumandang. Ini adalah proses latihan berpuasa bagi anak anak.

Suka menolong adalah bagian dari rasa empati. Foto: ist

Mengajarkan berbagi dengan sesama adalah bagian dari proses empati. Berbagi, terutama dalam bentuk tindakan nyata seperti membantu atau memberikan sesuatu kepada orang lain, merupakan manifestasi dari pemahaman dan kepedulian terhadap perasaan dan kebutuhan orang lain tersebut.

Kita memiliki hari besar, yaitu Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN), yang diperingati setiap tanggal 20 Desember. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan nilai-nilai kebersamaan, solidaritas, dan kepedulian sosial di masyarakat.

Di dalam 18 Nilai Pendidikan Karakter Nasional, disana ada nilai peduli sosial. Yaitu membantu orang lain dan memiliki rasa empati.

Untuk menumbuhkan rasa empati pada anak, orang tua dapat mengajarkan anak mengenali emosi, memberikan contoh berempati, dengan mengajak anak berinteraksi secara sosial dan budaya berinteraksi dengan orang lain, dan melibatkan anak dalam kegiatan amal.

Selain Pendidikan karakter, pendidikan multikultural sejak dini di jenjang sekolah dasar juga menjadi isu yang sangat relevan dalam era globalisasi yang semakin berkembang. Apalagi negeri ini adalah negeri multikultural.

Di tengah dunia, yang semakin berkembang dan terhubung, serta dengan adanya beragam latar belakang budaya, ras, agama, dan sosial, pendidikan multikultural memiliki fungsi yang sangat besar dalam membentuk karakter anak sejak usia dini.

Hal itu penting karena dapat menanamkan nilai-nilai toleransi, penghargaan terhadap perbedaan, dan pemahaman tentang keragaman budaya sejak usia muda. Pada gilirannya hal ini bisa menciptakan generasi yang lebih inklusif dan mampu hidup harmonis di tengah perbedaan. (PAR/nng).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *