Aksara Yang Tercecer (The Missing Script) di Museum Pendidikan Surabaya. Segera Temukan.

Aksara Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Kota Surabaya memiliki banyak museum. Museum museum itu menyimpan sejarah perjuangan, budaya, dan perkembangan kota, mulai dari yang ikonik seperti Museum Sepuluh Nopember (di Tugu Pahlawan), Museum Surabaya (Siola) yang kaya koleksi, hingga museum Pendidikan di jalan Genteng Kali Surabaya.

Museum-museum ini menawarkan pengalaman edukatif dan visual yang kaya, cocok untuk memahami Kota Surabaya lebih dalam. Museum Pendidikan misalnya, menawarkan model pendidikan yang berbasis pada pemahaman aksara.

Museum Pendidikan Surabaya. Foto: ist

Karenanya setelah memasuki ruang reception di Museum ini, pengunjung langsung diterima dengan ruang ruang aksara. Mulai dari ruang pra aksara (zaman Purba), yaitu ketika peradaban belum mengenal aksara tetapi sudah mengenal simbol simbol. Peradaban itu dikenal dengan peradaban manusia purba atau manusia prasejarah. Mereka hidup di goa goa dan di dalam goa itulah ada simbol simbol bahasa, yang berwujud gambar gambar binatang.

Simbol-simbol bahasa itu merujuk pada lukisan gua atau seni cadas. Gambar-gambar ini, seringkali berupa binatang seperti bison, kuda, dan mamut, yang ditemukan di dinding-dinding gua di seluruh dunia. Dalam diorama digambarkan ada manusia purba.

Diorama manusia purba di era Pra Aksara. Foto: ist

Kemudian Museum Pendidikan Surabaya mulai menampilkan ruang sejarah dimana aksara tradisional ditampilkan. Di ruang ini menampilkan artefak artefak yang bertulis aksara Jawa dan Aksara Pegon, sebagaimana tersaji dalam manuskrip kitab dan daun lontar.

Koleksi manuskrip Museum Pendidikan Surabaya. Foto: ist

Ruang ini menunjukkan bahwa proses transformasi ilmu, pengetahuan dan tradisi melewati media aksara (tulis). Ini adalah deskripsi yang sangat tepat mengenai peran fundamental aksara dalam peradaban manusia.

Rombongan mahasiswa Inggris memperhatikan peradaban literasi Nusantara di Museum Pendidikan Surabaya. Foto: dok par

Untuk memperkuat pesan ini, museum juga menampilkan manekin seorang kiai dan santri sedang dalam proses belajar mengajar di ruang berikutnya.

Manuskrip daun lontar menjadi perhatian wisatawan asal Belanda. Foto: IS

Memasuki ruang lanjutan, sudah mulai ada aksara Latin seiring dengan masuknya bangsa Eropa di Nusantara. Di ruang itu ditampilkan beragam buku buku yang tercetak menggunakan aksara latin dan perangkat edukasi lainnya seperti bangku, Sabak dan seragam sekolah.

 

Aksara Yang Luput Dari Perhatian

Ketika mengikuti dan mencermati presentasi Aksara (Jawa dan Pegon serta Latin), ada satu Aksara yang luput dari perhatian pengelola museum. Yaitu Aksara Kawi.

Aksara Kawi atau Jawa Kuna ini terkait dengan era, yang mana Surabaya sudah ada di era Majapahit dimana pada era itu Aksara, yang umum digunakan adalah Aksara Kawi atau Jawa Kuna.

Prasasti Canggu dalam genggaman nyata. Foto: doc

Bukti bahwa nama “Surabaya” tertulis dalam Aksara Jawa Kuna (Kawi) terdapat pada Prasasti Canggu (1358 M) yang keberadaannya ada di Museum Nasional Indonesia di Jakarta. Tidak cuma pada Prasasti Canggu. Di beberapa tempat di Surabaya masih terdapat tulisan Kawi.

Misalnya di komplek Pesarean Agung Botoputih Pegirian dimana aksara itu terdapat pada artefak gentong kuno. Artefak semacam lainnya ada pada Pesarean Bupati Surabaya di Bibis.

Prasasti Wurare beraksara Kawi di Arca Joko Dolog. Foto : nng

Sebagai tambahan ada juga aksara Kawi atau Jawa Kuna di arca Joko Dolog, yang usianya di era sebelum Majapahit (1289).

Melihat fakta faktual ini maka Museum Pendidikan Surabaya sebagai sarana pendidikan, patut dan harus menampilkan Aksara Jawa Kuna (Kawi) di ruang pamer museum sebagai pengisi antara era Pra Aksara (Purba) dan Aksara Jawa (Hanacaraka) dan Aksara Pegon.

Presentasi ini sangat penting sebagai etalase pendidikan sejarah di Surabaya. Secara historis Surabaya memiliki sejarah itu dan memiliki fakta itu.

Peneliti dan ilmuwan asal Belanda Max Meijer dan Petra Timmer memperhatikan koleksi manuskrip Museum Pendidikan Surabaya. Foto: kol par

Pembelajaran ini tidak hanya untuk warga Surabaya saja tetapi juga warga dunia yang berwisata di Surabaya. Museum Pendidikan Surabaya harus bisa memberikan informasi yang lengkap dan akurat. Misalnya seorang wisatawan bertanya mana yang Aksara Jawa Kuna, yang informasinya pernah ada di Surabaya. Melalui Museum Pendidikan yang seharusnya representatif gagal menjawab pertanyaan wisatawan asal Belanda itu.

Pembelajaran tradisional antara kyai dan santri menjadi perhatian pengunjung. Foto: ist

Surabaya menetapkan memiliki Museum Pendidikan, maka Museum Pendidikan, yang dikelola pemerintah daerah ini, harus bertanggung jawab menyajikan fakta dan kebenaran historis.

Jika selama pembukaan museum pendidikan Surabaya (2019) hingga sekarang (2025) masih belum menampilkan dan melengkapi koleksi aksaranya, maka setelah mendapat masukan seharusnya segera melengkapinya.

Koleksi artefak beraksara Jawa Baru. Jawa Kunonya mana? Foto: dok par

Bisa jadi periode waktu 2019-2025 adalah “masa gelap” (ketidaktahuan akan keberadaan aksara Jawa Kuna/Kawi), maka masuk tahun 2026 Museum Pendidikan Surabaya harus mampu memberikan suluh pada warga Surabaya perihal peradaban literasi leluhurnya. (PAR/nng).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *