Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Trowulan Mojokerto dikenal sebagai bekas jejak ibukota Kerajaan Majapahit. Hal iniditunjukkan oleh banyaknya temuan artefak dan situs purbakala yang tersebar di wilayah tersebut. Sebagai bekas pusat pemerintahan Majapahit pada abad ke-13 hingga 15 Masehi, Trowulan merupakan lokasi penting, yang menyimpan bukti sejarah dan peradaban besar kerajaan tersebut.
Persebaran situsnya sangat luas, bahkan ada yang berada di luar wilayah Trowulan. Selama ini sudah ada Pusat Informasi Majapahit (PIM) di Trowulan, yang sering dianggap sebagai Museum Majapahit. Pusat ini sifatnya mengumpulkan artefak artefak yang berhasil dikumpulkan dan diselamatkan.
Pusat ini tujuannya untuk memberikan informasi tentang berbagai aspek kehidupan di zaman Majapahit, termasuk pertanian, irigasi, arsitektur, perdagangan, dan kesenian.

Karena belum ada sebuah museum, maka dengan temuan artefak yang jumlahnya banyak dan masih banyaknya benda dan bangunan yang masih in-situ di berbagai tempat dan berjarak jauh, maka digagas lah sebuah museum yang diharapkan bisa menjadi one stop preview dan sekaligus starting point wisata arkeologi dan budaya.
Hal ini merujuk pada peran museum, yang nantinya sebagai pusat informasi komprehensif tentang warisan budaya dan arkeologi, memberikan gambaran menyeluruh bagi pengunjung sebelum mereka mendalami lebih lanjut situs-situs terkait, sehingga museum menjadi titik awal yang ideal untuk eksplorasi lebih mendalam.
Sebagai titik awal dan preview bekas Ibukota Majapahit, maka Museum Majapahit diharapkan dapat memberi gambaran yang bisa dijangkau dalam waktu yang singkat dan praktis. Jika pengunjung masih punya waktu yang cukup, mereka bisa mengeksplorasi lebih lanjut ke situs situs yang ada di wilayah Trowulan dan sekitarnya.
Karenanya, apa yang ada di Museum yang lokasinya dalam satu area dengan Pusat Informasi Majapahit (PIM) ini, bisa dirancang dengan mengkombinasikan indoor museum dan outdoor museum.
Untuk indoor dan outdoor ini tentu menyesuaikan dengan artefak yang layak dikoleksi dan dipamerkan secara natural baik secara indoor atau outdoor. Penempatan secara outdoor tidak lain dimaksudkan dalam rangka memanfaatkan lingkungan alam sekitar. Pun sebaliknya dengan penempatan indoor juga dalam rangka tujuan tujuan pengamanan.
Museum Sebagai Potret
Museum Majapahit menjadi potret Majapahit mulai yang bersifat intangible hingga tangible. Nilai nilai yang menjadi corak dan kekhasan Majapahit perlu ditampilkan, terlebih yang sudah disimbolkan pada benda benda.
Nilai-nilai corak dan kekhasan Majapahit meliputi toleransi beragama (Hindu-Buddha hidup berdampingan), persatuan dan kesatuan (konsep Triloka dan wilayah Nusantara), ekonomi maritim dan agraris, dan kekuatan diplomasi yang membangun hubungan dengan kerajaan lain, serta keunggulan seni dan arsitektur yang kaya akan spiritualitas dan filosofi.

Arca arca Budha dan Hindu menjadi ciri khas kepercayaan kerajaan Majapahit, yang berbentuk benda yang bisa ditampilkan. Konsep Triloka, yang bisa direpresentasikan pada tata ruang komplek museum: Njaba, Tengah dan Njero. Serta gaya gapura khas Majapahit dengan dua modelnya: Gapura Bentar (Split Gate) dan Gapura Paduraksa. Satu lagi yang menjadi ciri adalah materialan bangunan yang berupa batu bata merah.
Bentuk tangible lainnya yang jarang dikenal dan disadari oleh kebanyakan orang adalah literasi tradisi. Yakni huruf (aksara) dan bahasa. Dalam beberapa prasasti, yang dikoleksi PIM sudah ada contoh bagaimana simbol simbol tulis yang digunakan oleh orang orang Majapahit dan bahasa apa yang digunakan kala itu. Melalui prasasti yang menjadi koleksi kita bisa tahu aksara dan bahasa apa yang digunakan sebagai alat komunikasi mereka.
Oleh karena itu museum harus bisa menjadi cara dalam memajukan Aksara dan bahasanya. Yaitu dengan menggunakan dalam berbagai tanda informasi yang dipadukan dengan bahasa Indonesia dalam aksara latin.
Menarasikan nilai nilai kemajapahitan dalam bentuk arsitektur dan bangunan adalah cara cerdas memperkenalkan sifat Majapahit mulai dari filosofi hingga keyakinan.
Gagasan pembangunan museum Majapahit ini telah diperkenalkan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur. (PAR/nng)
