Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Klenteng Hong Tiek Hian di jalan Dukuh Surabaya adalah bukti Sejarah Surabaya. Posisinya menghadap ke Timur, yang dulu langsung ke arah sungai Pegirian. Keberadaan Klenteng Hong Tiek Hian ini adalah salah satu dari dua Klenteng tua di Kawasan Pecinan Surabaya, Sìshuǐ. Lainnya adalah Klenteng Hok An Kiong di jalan Coklat, yang tidak jauh dari sungai Kalimas.
Pecinan Surabaya, Sìshuǐ, memang kawasan yang dikelilingi Empat Air (Sungai). Di Timur ada Kali Pegirian, di Barat ada Kalimas, di Utara pernah ada sungai, yang sekarang menjadi jalan Kalimati Wetan-Kalimati Kulon-Kalimalang dan di Selatan berubah menjadi jalan Waspada. Kedua jalur jalan itu menghubungkan Kalimas dan Kali Pegirian.
Empat Air atau Sungai ini bukan sembarang air tetapi air radikal. Karenanya dalam penulisan Empat Air dalam aksara Mandarin ada penambahan tanda pada depan aksara Si (四), diberi tanda coretan tiga sehingga menjadi (泗). Maka jadilah Sìshuǐ (泗水), bukannya (四水). Demikian kata dosen sastra Tiongkok, Herwiratno.
Radikal ini, yang ditandai dengan tiga titik ( 氵), menyerupai tetesan air, secara khusus menandakan hubungan suatu karakter dengan air. Tanda (氵) menunjukkan bahwa sesuatu berjumlah empat itu berkaitan dengan air. Jadi ada suatu kawasan yang dikelilingi dengan air/sungai. Tempat ini adalah Kampung Pecinan yang dulu memang berkalang air (sungai).
Radikal ini sering ditemukan pada karakter Hanzi yang berhubungan dengan air atau cairan.
Karena keberadaan kekayaan peradaban Tionghoa di Surabaya, maka ada upaya membingkai peradaban dan budaya Tionghoa itu melalui pembuatan film dokumenter yang bernama “Sìshuǐ, Membingkai Budaya Tionghoa Surabaya”.

Pada Selasa pagi (26/8/25) tim produksi mensurvei spot spot penting akan keberadaan peradaban itu. Salah satunya di Klenteng Hong Tiek Hian, yang menurut beberapa literasi dan Ketua Seni Budaya Nusantara, Rasmono Sudarjo, menjadi jejak kedatangan Tentara Tartar di akhir abad 13.
Secara fisik kala itu tidaklah seperti apa yang kita lihat sekarang. Pun demikian dengan Klenteng Hok An Kiong, yang tidak jauh dari Kalimas, yang hingga sekarang masih memiliki tanda sepasang tiang kapal, kapal yang pernah digunakan berlayar dari Tiongkok ke tanah Jawa.
Moda transportasi para pelaut Tiongkok mulai Tartar (Mongol), rombongan Cheng Ho, hingga rombongan imigran Tiongkok adalah menggunakan kapal kapal yang mengarungi jalur laut mulai Tiongkok – Champa – Karimata – Tuban – Gresik – Surabaya – Canggu – Majapahit.
Diantara bangunan bangunan fisik di kawasan Pecinan, Sìshuǐ, ini, yang masih bertahan tidak hanya fisiknya (tangible) tapi juga tradisinya (intangible) adalah praktik kepercayaan di tempat peribadatan Klenteng. Fakta ini ada di Klenteng Hong Tiek Hian dan Hok An Kiong.
Di salah satu Klentengnya, Hong Tiek Hian, di jalan Dukuh masih memiliki wayang Potehi. Wayang Potehi ( Pe̍h-ōe-jī atau pò͘-tē-hì) merupakan salah satu jenis wayang khas Tionghoa, yang berasal dari Tiongkok bagian selatan. Kesenian ini dibawa oleh perantau etnis Tionghoa ke berbagai wilayah Nusantara pada masa lampau dan telah menjadi salah satu jenis kesenian tradisional Indonesia.

Di Surabaya, Wayang Potehi hanya dapat disaksikan di Kelenteng Hong Tiek Hian, yang terletak di Jalan Dukuh. Pertunjukan ini rutin digelar sebagai bagian dari aktivitas di klenteng dan merupakan daya tarik Klenteng Hong Tiek Hian.

Seperti halnya pada Selasa pagi (26/8/25) jam 10.00, meski dengan penonton yang terbatas pertunjukan terus digelar. Bagaimanapun, pertunjukan ini menjadi hiburan bagi masyarakat setempat dan bagi pengunjung yang datang ke klenteng. (PAR/nng)