Budaya Indian Amerika Ajarkan Nilai Nilai Luhur 

Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Tahun 2006 saya berkesempatan mengikuti program IVLP (International Visitor Leadership Programme) di Amerika Serikat untuk pelaku TV lokal yang tergabung dalam ATVLI (Asosiasi Televisi Lokal Indonesia).

Karena sebagai pelaku TV lokal di Indonesia maka dalam program yang disponsori oleh pemerintah Amerika Serikat itu, kami berkunjung dari stasiun TV lokal satu ke stasiun TV lokal lainnya mulai dari pantai Barat hingga ke pantai Timur Amerika. Dari ujung Barat ke ujung Timur benua Amerika ini bagai seluas wilayah Indonesia dari Sabang hingga Merauke.

Di salah satu negara bagian, kami yang berasal dari TV TV lokal Indonesia ini (Metro TV, SCTV, TV7 dan JTV) berhenti di satu konservasi suku Indian Amerika.

Empat peserta IVLP 2006. JTV, TV7, SCTV dan Metro TV. Foto: doc pribadi

Konservasi suku Indian ini merujuk pada upaya pelestarian budaya, tradisi, dan lingkungan hidup, yang dilakukan oleh satu suku Indian di Amerika Utara. Ini mencakup perlindungan terhadap tanah adat, pengetahuan tradisional tentang pengelolaan sumber daya alam, serta praktik-praktik budaya yang berkelanjutan.

Selama dalam preservasi itu saya sempat tinggal di tenda tradisional yang umum disebut Tipi. Tenda tipi, atau juga disebut teepee atau tepee, adalah tenda berbentuk kerucut yang secara tradisional digunakan oleh penduduk asli Amerika, terutama di Great Plains.

Tenda ini terbuat dari rangka kayu yang ditutup dengan kulit binatang atau kulit kayu, dan dirancang agar mudah dibongkar pasang untuk mendukung gaya hidup nomaden.

Selain itu, di sebuah gelaran acara budaya, digelar tari tarian khas Suku Indian. Kebetulan group leaders saya adalah warga kulit putih keturunan Indian (atau umum disebut Native American.

Tari tarian khas Indian yang mereka persembahkan ini semuanya bertema alam. Ada tarian angin, tarian rumput, aturan serigala dan tarian hujan serta lainnya yang berbau alam. Alam yang dibalut budaya.

Tarian Hujan sebagai permintaan untuk bersih bumi (bersih desa). Foto: ist

Tarian Hujan misalnya dipercaya sebagai tarian asli suku Indian yang biasa dipakai memanggil roh para dewa agar membersihkan bumi dengan hujan.

Dalam kepercayaan Jawa memang terdapat keyakinan bahwa hujan memiliki kekuatan untuk membersihkan bumi dari roh-roh jahat. Hujan dianggap sebagai sarana pembersihan spiritual, yang mampu menghilangkan energi negatif dan pengaruh buruk yang mungkin ada di sekitar.

Ada kesamaan keyakinan antara keyakinan orang orang Indian (First Nation Amerika) dan orang orang Jawa. Hal itu dirasakan oleh koordinator program yang ketika itu bertanggung Jawab kepada peserta IVLP dari Indonesia.

Menurutnya bahwa tarian suku Indian Amerika memiliki nilai edukasi yang signifikan, terutama dalam konteks pendidikan karakter. Tarian tarian ini tidak hanya sekedar hiburan, tetapi juga merupakan media untuk menyampaikan nilai-nilai budaya, sejarah, dan spiritualitas dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Karenanya dalam gelaran budaya Indian Amerika ini dihadiri oleh hadirin dari segala lapis usia. Orang tua sepertinya punya kewajiban mendampingi dan menjelaskan kepada anak anak usia dini dan itu dilakukan di saat atraksi tari sedang berjalan.

Ada kedewasaan dalam praktik praktik itu dan ini sama ketika kami berkunjung dari satu stasiun TV ke stasiun TV lainnya. Ada satu penyelenggara siaran yang bernama SCAN (Seattle Community Access Network) di kota Seattle.

SCAN tidak memiliki pekerja sebagaimana umumnya yang bersifat massal (padat karya). Dia hanya memiliki 7 petugas, tapi bisa menyelenggarakan siaran 24 jam nonstop.

Ini karena SCAN menjadi sarana untuk kebebasan dalam berekspresi. Masyarakat berkarya dan karyanya disiarkan di SCAN dimana jenis jenis konten dalam setiap program diatur dalam programming nya. Ada program anak hingga program dewasa (adult program plus plus).

Kunjungan ke Gedung Putih..Foto: doc ptibadi

SCAN tidak menolak dan melarang tetapi mengatur pada jam tayang sesuai konten program. Khusus konten dewasa ditayangkan pada jam jam tengah malam yang jauh dari jangkauan anak. Meski ada program program anak, para orang tua masih berkewajiban mendampingi.

Program anak yang masih membutuhkan Bimbingan Orang Tua umumnya diberi. Label “BO”, yang menunjukkan bahwa program tersebut mungkin mengandung konten, yang kurang sesuai untuk anak-anak di bawah usia tertentu dan memerlukan bimbingan orang tua untuk memahami dan menyaring tayangan tersebut. Itulah program program televisi yang sempat menjadi perhatian dalam kunjungan ATVLI ketika itu.

Kembali ke India Reserve dimana budaya (culture) lekat dengan alam (nature) yang tentunya bermanfaat buat masyarakat (people). Sekarang kebermanfaat itu juga tergantung pada masyarakat (people) nya sendiri.

Agar masyarakat dapat memetik manfaat dari alam dan budaya, mereka perlu berperan aktif dalam menjaga, melestarikan, dan memanfaatkan secara berkelanjutan. Ini termasuk menjaga kelestarian lingkungan, menghargai keberagaman budaya, serta mengembangkan potensi ekonomi dan sosial yang ada.

Adalah para orang tua, lingkungan dan sekolah serta pemerintah atau secara keseluruhan adalah stakeholder di lingkungan itu yang harus berperan. (PAR/nng).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *