Budaya Aksara
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – “I am pleased that ICANN published the announcement of the Javanese Script reference LGR and updates the Arabic Reference LGR on October 5, 2026.” begitulah bunyi kabar dari pejabat ICANN kepada PANDI.
Ini kabar yang sangat menggembirakan bahwa aksara daerah Nusantara (Jawa dan Pegon) sudah mulai dikenal dunia melalui Internationalized Domain Names (IDN). Pencapaian itu tidak lepas dari fakta bahwa masih digunakannya aksara daerah, termasuk di Surabaya.
Reference LGR sendiri sebagaimana disebut di atas adalah sekumpulan aturan, yang dapat dibaca oleh mesin (dalam format XML) yang menetapkan karakter (titik kode), varian, serta aturan evaluasi label menyeluruh (whole-label evaluation/WLE) mana saja yang sah untuk skrip atau bahasa tertentu dalam pembuatan Nama Domain Internasional (Internationalized Domain Names/IDN), seperti nama domain tingkat kedua (second-level domain).
Reference LGR ini menyediakan pedoman yang konsisten, aman, dan kompatibel secara teknis bagi operator registry domain (seperti PANDI di Indonesia) untuk mendukung sistem penulisan non-Latin, seperti dalam aksara tradisional.
Bila di Indonesia, kita mengenal .id, selanjutnya bisa saja segera ada .ꦗꦮ. Selain ranah tingkat atas (TLD) .id yang sudah sangat umum, penggunaan aksara daerah seperti Aksara Jawa (.ꦗꦮ) merupakan bagian dari inisiatif yang dikenal sebagai Internationalized Domain Name (IDN).
IDN memungkinkan sebuah nama domain menggunakan karakter non-Latin, seperti aksara Arab, Hanzi (Cina), Kiril (Rusia), dan tentu saja aksara Nusantara seperti Jawa.
Jika domain tersebut aktif secara penuh, alamat situs web nantinya bisa ditulis utuh menggunakan aksara daerah, misalnya ꦫꦴꦗꦥꦠ꧀ꦤꦷ.ꦗꦮ (sebagai padanan dari rajapatni.jawa).

Aksara Nusantara (tradisional) kini sudah semakin dekat dengan panggung digital dunia. Ini tentu saja berkaitan dengan ICANN yang telah resmi menerbitkan Second-Level Reference LGR untuk Aksara Jawa pada 5 Oktober 2026, sekaligus memperbarui LGR untuk kelompok aksara berbasis Arab. Langkah ini menjadi perkembangan penting agar aksara Nusantara semakin siap digunakan dalam sistem nama domain dan ekosistem internet global.
Pembaruan tersebut juga membuka peluang lebih luas bagi aksara berbasis Arab seperti Jawi, Pegon, Serang, Buri Wolio, dan Arab Melayu untuk hadir dalam pemanfaatan nama domain.
Adalah Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) yang mendorong pemanfaatan aksara lokal ini agar bisa digunakan secara nyata di ruang digital global, termasuk mengusulkan aksara lain seperti Batak, Bugis, dan Sunda
Gerakan gerakan nyata seperti lomba menulis aksara Jawa adalah salah satu wujud nyata. Meski bukan satu satunya.
Perjalanan belum berhenti di sini. PANDI terus mendorong Aksara Batak, Bugis, dan Sunda menuju proses Reference LGR berikutnya, agar semakin banyak identitas lokal Indonesia dapat hadir dan digunakan secara nyata di ruang digital. (PAR/nng)
