Budaya, Aksara
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Kurang 5 orang dari target 200 orang, yang dapat masuk ke dalam Bangsal Panca Walika, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya dalam agenda Lomba Menulis Aksara Jawa, akan terpenuhi. Ini adalah jumlah yang menggembirakan untuk ukuran kota besar modern seperti Surabaya, yang menjadi tempat penyelenggaraan lomba menulis aksara tradisional.
Angka itu menjadi bukti nyata bahwa semangat pelestarian budaya tradisional tetap tumbuh subur di tengah hiruk-pikuk modernitas kota Surabaya.
Menyelenggarakan kompetisi aksara tradisional di kota metropolitan menunjukkan bahwa nilai-nilai leluhur mampu bersanding dengan perkembangan zaman.
Penggunaan Bangsal Panca Walika di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya sendiri memberikan atmosfer budaya yang kuat dan representatif bagi para peserta.
Sedangkan kuota yang hampir terpenuhi ini mematahkan asumsi bahwa masyarakat kota besar telah melupakan literasi daerah kuno. Upaya membuat wadah berkiprahnya budaya tradisional ini menjadi contoh dan sekaligus bukti nyata bahwa aksara tradisional ternyata hidup bila digalang dengan baik. Penggalangan ini tentunya harus sinergi yang setidaknya bersifat pentahelix mulai dari unsur pemerintahan, usaha dagang swasta, akademisi, media dan komunitas. Jangan kaget bila unsur pemerintah ini datang dari pemerintah pusat. Yaitu dari Kementerian terkait.

Apalagi lomba menulis aksara Jawa ini adalah potret budaya bangsa, yang akan dihadiri oleh sejumlah tamu dan undangan sertai institusi diplomat dan edukasi asing.

Acara lomba ini bukan saja sekedar lomba, tapi peringatan Bulan Bahasa dan Sastra serta Sumpáh Pemuda yang menjadi agenda nasional.
Maka adalah pantas pihak pihak pendukung pun berdatangan secara nasional dan lokal. Ada yang dari Jakarta, Yogyakarta dan tentunya Surabaya. Ucapan selamat atas penyelenggaraan pun ada yang datang secara internasional. Bahkan sesuai agenda acara ini akan dihadiri oleh seorang profesor Bahasa Sansekerta dari India.
Tentunya ini menjadi kehormatan bagi Surabaya karena dari ajang ini akan dilakukan Ikrar atau Sumpah Budaya (2026) sebagai keberlanjutan Sumpáh Palapa (1336) dan Sumpáh Pemuda (1928) di Kampung Waringin Unggul Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, yang dikenal sebagai kampus yang membawa nilai nilai Kewijayaan (Raden Wijaya, Raja Pertama Majapahit). (PAR/nng)
