Sumpah Budaya Dari Surabaya Untuk Nusantara

Budaya, Aksara

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Estafet pembangunan harus berjalan untuk menjaga api obor semangat tetap menyala dan menerangi. Itulah Suluh.

Sumpah sumpah luhur harus tetap terpatri untuk mengikat dan menyatukan keberagaman di Nusantara. Dari era Sumpah Palapa (1336), Sumpah Pemuda (1928) hingga saatnya Sumpah Budaya (2026).

Sumpah Sumpah Nusantara. Foto: rekayorek

Berikut Teks dengan tiga butir luhur yang menggambarkan: Kesantunan Dalam Tutur; Jembatan Dialog Antar Budaya; dan Merawat Warisan di Ruang Digital dan Nyata.

1. Menjaga Kesantunan dalam Tutur, Menjunjung Tinggi Kearifan dalam Sapa.

Artinya: Kami berkomitmen untuk berkomunikasi dengan asas asor (rendah hati) dan andhap asor (berbudi luhur). Kami menolak segala bentuk tutur kata yang memecah belah, menghina adat, dan merendahkan martabat kemanusiaan. Bagi kami, komunikasi adalah ruang untuk memuliakan sesama manusia.

 

2. Menjadi Jembatan Dialog Antar Budaya, Bukan Tembok Pemisah Perbedaan.

Artinya: Kami berjanji untuk membuka mata, telinga, dan hati dalam memahami setiap perbedaan adat, bahasa, dan keyakinan di seluruh pelosok negeri. Kami akan menggunakan bahasa persatuan dan bahasa daerah sebagai alat untuk saling memperkaya pikiran, menyelesaikan perselisihan, dan merawat toleransi.

 

3. Merawat Warisan Nilai Luhur di Ruang Digital dan Jagat Nyata.

 

Artinya: Kami bertekad untuk tidak membiarkan teknologi mengikis jati diri bangsa. Kami akan memenuhi ruang-ruang komunikasi modern dengan narasi budaya, seni, dan nilai-nilai luhur Nusantara, agar identitas bangsa tetap tegak berdiri dan mewarnai peradaban dunia.

Itulah tiga butir Sumpah Budaya. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *