Budaya
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Lomba Menulis Aksara Jawa dalam rangka memperingati Bulan Bahasa dan Sastra 2026 sebenarnya juga merupakan bagian dari upaya mengingat peradaban klasik di era Majapahit di abad 14-15.
Mengapa? Benang merahnya ada pada aksara yang menjadi objek kebudayaan nya. Memang dalam lomba nanti bukan menulis aksara Jawa Kuna atau Kawi, yang memang aksara yang digunakan pada era Majapahit.
Tetapi Aksara Jawa Baru (Carakan Hanacaraka) merupakan keberlanjutan dari Aksara Jawa Kuna (Kawi) yang pernah menjadi aksara umum di zaman Majapahit.
Aksara Jawa bukan satu satunya yang menjadi keberlanjutan dari era Majapahit, tapi ada nilai nilai luhur lainnya.
Kerajaan Majapahit sungguh mewariskan nilai-nilai luhur dan tatanan sosio kultural yang sangat relevan untuk dinjaga demi kemajuan Indonesia di masa sekarang dan mendatang.
Misalnya semangat Bhinneka Tunggal Ikanya. Frasa dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular ini adalah fondasi utama yang menjaga persatuan di tengah keberagaman suku, agama, dan ras di Indonesia saat ini.
Kesadaran geografis dan geopolitik untuk menyatukan wilayah kepulauan di bawah satu kesatuan visi politik dan ekonomi.
Majapahit menguasai jalur perdagangan laut berkat armada laut yang kuat di bawah pimpinan Laksamana Mpu Nala. Visi ini perlu dilanjutkan untuk memperkuat keamanan dan ekonomi laut Indonesia modern.
Doktrin hubungan diplomatik yang setara dan saling menghormati dengan negara-negara tetangga (sahabat), yang kini tercermin dalam politik luar negeri bebas aktif.
Sosial dan toleransi beragama tercermin secara harmoni. Pengakuan dan ruang hidup yang berdampingan secara damai antara penganut Hindu (Siwa) dan Buddha pada masa itu menjadi cikal bakal sikap toleransi beragama di Indonesia.

Dengan bertempat di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya bukanlah suatu hal yang kebetulan, tetapi alam telah mempertemukan. Wijaya Kusuma adalah kampus yang kental dengan Kemajapahitan. Desain kampusnya mengusung tema tema Majapahit. Bahkan terdapat diorama Sumpah Palapa yang menggambarkan Maha Patih Gajah Mada sedang mengambil sumpah nya.

Dari Sumpah Palapa (1336) itulah menurun ke Sumpah Pemuda (1928), yang dilanjutkan dengan Sumpah Budaya melalui Lomba Menulis Aksara Jawa (2026), sehingga menjadikan generasi yang:
Teguh: Pendirian yang kuat.
Teteg: Mantap dan tabah dalam menghadapi masalah.
Tatag: Berani dan siap mental.
Tanggon / Tangguh: Kuat, ulet, dan tahan uji.
Trapsila: Sopan santun, tahu tata krama, dan rendah hati.
Sebagaimana motto Kampung Waringin Unggul Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. (PAR/nng)
