Budaya Sejarah
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Kejuangan, kepahlawanan, dan kebudayaan, yang bersifat nasional adalah pondasi penting dalam membangun karakter bangsa Indonesia. Nilai-nilai ini menyatukan seluruh rakyat dari berbagai suku dan daerah untuk mencapai serta mempertahankan kedaulatan/kemerdekaan.
Nilai nilai itu (kejuangan, kepahlawanan dan kebudayaan) digali dari sejarah panjang perjuangan bangsa Indonesia, yang kemudian membentuk identitas dan karakter luhur Nusantara dari masa lampau hingga kini.
Misalnya penetapan Hari Pahlawan, yang telah diperingati sejak 10 November 1950 dan pelestarian kebudayaan yang telah ditetapkan berdasarkan Undang Undang 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
Menyadari bahwa bangsa Indonesia ini bukannya bangsa, yang eksis sejak 17 Agustus 1945, tetapi sudah lama ada yang kemudian baru berhasil memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal tersebut.
Bangsa Indonesia sudah ada dan berproses jauh sebelum proklamasi 17 Agustus 1945 melalui akar sejarah kerajaan Nusantara, pergerakan kebangsaan, dan sumpah pemuda. Kemerdekaan pada tahun 1945 adalah puncak atau titik kulminasi dari perjuangan panjang tersebut untuk mendirikan negara merdeka.
Dalam catatan Sejarah kerajaan Nusantara ini, salah satunya tertoreh pada jejak Kerajaan Mataram Islam Ngayogyakarta Hadiningrat. Dalam perjalanan waktu, di sana pernah terjadi peristiwa besar pada 1812, yang dikenal dengan peristiwa Geger Sepehi.
Dalam peristiwa itu ada tonggak kejuangan/kepahlawanan dan kebudayaan. Yaitu ketika Raja Hamengkubuwana II melakukan perlawanan terhadap kedaulatan asing (Belanda dan Inggris) yang merusak kedaulatan bangsa (kerajaan) dan kedaulatan Keraton yang menjadi simbol sosial budaya dan filosofi bangsa (Jawa).

Kini zaman telah berubah, tahun pun berganti dari 1812 ke 2026. Dulu wilayah berdaulat itu berbentuk kerajaan, sekarang berbentuk republik dalam bingkai NKRI. Meski begitu, ada keberlanjutan atau kesinambungan dari sistem kerajaan ke Republik (NKRI).
Terhadap tokoh, yang pernah berjasa di masa lalu dalam lintas sejarah Nusantara, mereka layak mendapatkan penghargaan sebagai upaya mengenang jasa dan nilai Kejuangan dan kepahlawanannya.
Khususnya terhadap Sri Sultan Hamengkubuwana II, Ia ternyata tidak hanya berjasa dalam nilai Kejuangan dan Kepahlawanan, tetapi juga Nilai Kebudayaan karena Ia berupaya melindungi Keraton sebagai simbol Kebudayaan dan spiritual masyarakat jawa.
Sri Sultan Hamengkubuwana II adalah tokoh penting, yang gigih mempertahankan kehormatan keraton dan menentang dominasi kekuasaan asing, baik pada masa kolonial Inggris maupun Belanda, serta berjasa besar dalam melestarikan sastra, tarian, dan tradisi Jawa.
Surabaya Jawa Timur
Pegiat dan komunitas sejarah dan budaya kota Pahlawan memandang sosok Sri Sultan Hamengkubuwono II ini penting dan jejaknya relevan dengan masa kini karena harta benda yang ada keterkaitan peristiwa 1812, masih dimanfaatkan oleh pihak asing untuk kepentingan mereka sekarang seperti atraksi display di the British Library dan the British Museum di Inggris.
Pemajuan nilai kejuangan, kepahlawanan, dan kebudayaan, yang bersifat nasional Indonesia, adalah upaya sadar untuk merawat, mengembangkan, dan mewariskan semangat cinta tanah air, karakter pantang menyerah, serta identitas budaya luhur bangsa guna memperkuat ketahanan dan persatuan Indonesia. (PAR/nng)
