Budaya, Aksara
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Sebelum masuknya aksara Pallawa dari India Selatan ke Nusantara, Aksara belum dikenal. Kala itu baru dikenal zaman Pra Aksara.
Masuknya Aksara Pallawa dari India Selatan itu memang menandai berakhirnya zaman pra aksara dan dimulainya zaman sejarah di Nusantara pada abad ke-4 hingga ke-5 Masehi.

Zaman Pra Aksara adalah periode dalam sejarah manusia di mana masyarakat belum mengenal sistem tulisan. Era ini juga dikenal dengan sebutan masa nirleka (nir = tidak ada, leka = tulisan). Karena tidak ada catatan tertulis, informasi mengenai kehidupan manusia purba dan budayanya dipelajari melalui peninggalan berupa fosil, artefak, dan perkakas.
Trinil dan Sangiran di tepian Bengawan Solo dikenal sebagai tempat dimana manusia purba tinggal. Juga ada di kawasan Mojokerto yang dikenal dengan Mojokertensis dan di Wajak Tulungagung yang dikenal dengan nama Wajakensis.
Mojokertensis atau Pithecanthropus mojokertensis adalah salah satu jenis manusia purba di Indonesia, yang juga dikenal sebagai Anak Mojokerto atau Homo erectus tertua. Fosil ini pertama kali ditemukan di Desa Perning, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.
Sementara, Wajakensis merujuk pada Homo wajakensis (Manusia Wajak), yakni spesies manusia purba dari jenis Homo sapiens (manusia modern) yang fosilnya ditemukan di Desa Gamping, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Mereka hidup sekitar 40.000 hingga 25.000 tahun yang lalu atau 25 abad yang lalu.
Manusia purba berkomunikasi melalui kombinasi bahasa tubuh, isyarat tangan, dan vokalisasi suara seperti geraman. Seiring waktu, mereka mulai menggunakan ekspresi visual berupa lukisan cadas di dinding gua, seperti yang ditemukan di Gua Leang-Leang, Sulawesi Selatan, serta menciptakan bunyi-bunyian dari alat musik purba untuk menyampaikan pesan.
Ketika Bangsa India mulai masuk Nusantara dari jalur perdagangan dan penyebaran agama, maka dikenallah aksara Pallawa. Masuknya Bangsa India ke Nusantara ini membawa pengaruh besar, salah satunya adalah pengenalan aksara Pallawa, bahasa Sanskerta, dan lahirnya Prasasti Yupa di Kutai, Kalimantan Timur.
Prasasti Yupa ini ditulis sekitar abad ke-4 hingga ke-5 Masehi pada masa pemerintahan Raja Mulawarman dari Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Penulisan ini menandai awal mula zaman sejarah atau masa berlakunya tulisan di Nusantara.

Aksara Pallawa
Aksara Pallawa masuk ke Nusantara dibawa oleh para brahmana dari India Selatan, lalu berkembang menjadi akar bagi berbagai aksara lokal seperti aksara Kawi, aksara Jawa, dan aksara Sunda.
Aksara Kawi (Abad ke-7 hingga ke-8)
Bentuk huruf Pallawa mengalami perubahan gaya dan disesuaikan dengan lidah serta kebutuhan lokal.
Maka dikenallah Aksara Kawi (Jawa Kuno). Aksara Jawa Kuna (Kawi) lahir dari perkembangan aksara Pallawa sekitar abad ke-8 M.
Lalu Aksara Kawi banyak dipakai pada masa Kerajaan Mataram Kuno, Singasari, hingga Kediri.
Penurunan Berbagai Aksara Nusantara (Abad ke-9 dan Seterusnya)
Dari akar Kawi dan Pallawa, maka lahirlah ragam aksara daerah seperti aksara Jawa, aksara Bali, aksara Sunda, hingga aksara Batak dan Lontara.
Tulisan ini tidak lagi sekadar milik para raja atau kaum pendeta, melainkan dipakai untuk naskah sastra, perjanjian, dan catatan sehari-hari masyarakat masa itu.
Aksara Jawa Baru
Aksara Jawa baru atau Carakan mulai dikenal dan digunakan secara aktif sejak pertengahan abad ke-15 hingga abad ke-16 Masehi, dan bentuk aslinya mulai tetap pada masa Kesultanan Mataram (abad ke-17).
Silsilah:
Akar Pallawa:
Berasal dari aksara Pallawa dari India yang masuk ke Nusantara.
Aksara Kawi:
Berkembang menjadi aksara Jawa Kuno pada sekitar abad ke-8 M.
Bentuk Carakan:
Mulai menggantikan bentuk kuno pada masa transisi sekitar abad ke-15 dan ke-16 M.
Bentuk Baku:
Bentuk modern yang tetap seperti sekarang mulai matang pada abad ke-17 M di bawah pengaruh Kesultanan Mataram.
Pengaruh Mataram di Surabaya
Pada 1625 Surabaya ditaklukkan Mataram dan sejak itu budaya Mataram (termasuk budaya tulis dalam sistem administrasi) turut mempengaruhi Surabaya.
Memang diakui bahwa masuknya pengaruh Mataram sejak 1625 membawa perubahan besar bagi tatanan lokal di Surabaya, termasuk dalam hal birokrasi, sastra, dan budaya tulis.
Dampak Budaya Mataram di Surabaya
Sistem Administrasi:
Penggunaan bahasa dan format birokrasi ala keraton diperkenalkan dalam tata kelola pemerintahan daerah.
Budaya Tulis:
Tradisi penulisan naskah, silsilah, dan pencatatan administratif mulai mengadaptasi gaya pesisiran yang berpusat ke pedalaman Jawa.
Elit Politik:
Masuknya tokoh-tokoh seperti Pangeran Pekik (keturunan penguasa Surabaya yang diboyong dan diikat dalam kekeluargaan Mataram) mempercepat akulturasi budaya Mataram di Surabaya.
Aksara Jawa Memasyarakat di Surabaya
Karena sistem pemerintahan Mataram diterapkan di Surabaya, maka pengaruh sistem sosial budayanya juga turut mempengaruhi sosial budaya Surabaya.
Diantaranya adalah budaya tulis yang mengikuti Aksara Jawa Carakan hingga zaman modern. Cuma di era modern ini penulisan tradisional semakin terdesak oleh penulisan yang menggunakan aksara Latin sejak kolonialisasi di and 17.
Pengenalan Kembali Aksara Jawa di Abad 21.
Aksara Jawa kini mulai aktif dimasyarakatkan kembali di Surabaya melalui pemasangan papan nama kantor pemerintahan, gedung Balai Kota, serta fasilitas publik agar sejajar dengan aksara Latin. Kebijakan ini didukung oleh komunitas budaya dan pemerintah setempat untuk melestarikan warisan leluhur.
Payung Hukum
Pengenalan aksara Jawa di Surabaya memang membutuhkan payung hukum setingkat Peraturan Daerah (Perda) agar implementasinya lebih kuat, masif, dan berkesinambungan, tidak sekadar berlandaskan pada Surat Edaran (SE) atau kebijakan administratif sesaat. (PAR/nng)
Sumber:
Berbagai sumber.
