Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Tanggal 5 Mei diperingati sebagai Hari Bahasa Portugis Sedunia. Lantas apa kaitannya dengan Indonesia? Secara historis Indonesia memiliki sejarah dengan Portugis. Tercatat bahwa Portugis adalah bangsa Eropa pertama yang pernah menjajah Indonesia. Mereka masuk melalui Malaka pada 1509 yang mana Malaka waktu itu adalah bagian dari teritori Nusantara.
Malaka (Kesultanan Malaka) adalah wilayah, yang sempat menjadi pusat perdagangan penting di Nusantara sebelum akhirnya ditaklukkan oleh Portugis pada tahun 1511.
Meskipun dalam konteks sejarah sering dikaitkan dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara, secara geografis wilayah kesultanan Malaka berpusat di Semenanjung Malaya (sekarang Malaysia).
Namun Portugis fokus di wilayah Maluku, khususnya Ternate, mulai tahun 1512, setelah membantu melawan Kesultanan Tidore. Disanalah Portugis fokus ke rempah rempah sebagai tujuan utamanya.
Rempah rempah adalah Gold, memperluas wilayah adalah Glory dan menyebarkan agama Katolik (Gospel). Mereka memang punya misi 3G (Gold, Glory, Gospel). Penjajahan mereka ditandai dengan pendirian benteng dan monopoli harga.
Malaka, yang secara fisik terletak di Malaya (Malaysia), akhirnya ditukar dengan Bengkulu oleh Belanda melalui Traktat London 1824 (Anglo-Dutch Treaty), yang ditandatangani pada 17 Maret 1824. Dalam perjanjian ini, Belanda menyerahkan wilayah Malaka dan semenanjung Melayu ke Inggris, dan sebaliknya, Inggris menyerahkan Bengkulu kepada Belanda. Karenanya di Bengkulu ada benteng Inggris, Benteng Marlborough (Fort Marlborough), yang dibangun oleh British East India Company (EIC) antara tahun 1714–1719 sebagai pusat pertahanan dan perdagangan lada
Karena ada pergantian kekuasaan dari Portugis ke Belanda, akhirnya eksploitasi rempah rempah pun memang di wilayah Ternate. Peralihan kekuasaan dari Portugis ini terjadi di awal abad 17 oleh VOC. Ini juga yang akhirnya menandai dimulainya era eksploitasi rempah-rempah yang lebih ketat dan terpusat di wilayah Maluku,
Namun demikian sejak tahun 1512 sampai awal abad 17 (1602) ketika Portugis sudah menjejakkan kaki di wilayah Ternate, banyak peninggalan peradaban Portugis di sana.
Peninggalan Portugis di Ternate, Maluku Utara, didominasi oleh benteng pertahanan yang dibangun abad ke-16 untuk menguasai jalur rempah. Di antaranya adalah Benteng Tolukko, Benteng Kastela (São João Baptista), Benteng Kalamata, dan Benteng Kota Janji.

Selain benteng, juga ada peninggalan Gereja. Gereja Portugis di Maluku yang paling terkenal adalah Gereja Tua Imanuel Hila, yang terletak di Negeri Hila, Kecamatan Leihitu, Pulau Ambon. Gereja ini bangun pada tahun 1514 dan ini merupakan gereja tertua di Maluku, yang awalnya bernama Gereja Santo Yakobus sebelum diambil alih Belanda pada 1605.

Peradaban masyarakat nya pun ada yang mewarisi bangsa Portugis. Baik dari nama nama orang hingga keturunan pada orang lokal. Termasuk beberapa kosa katanya. Misalnya Gereja (igreja), Natal (natal), Paskah (pascoa), Rosario (rosario), Minggu (domingo), Meja (mesa), sepatu (sapato), sabun (sabao), bendera (bandeira), mentega (manteiga), boneka (boneca), dan kertas (cartas), termasuk Papalele yang berasal dari kata papalvo, yang merujuk pada pedagang kecil.
Bagaimanapun secara lokal bahasa Portugis menjadi bagian dari bahasa daerah di Maluku, yang sekaligus menjadi kosa kata serapan dalam bahasa Indonesia. Di Surabaya, bukan tidak ada jejak Portugis. Kosa kata pada nama Portugis ini disandang oleh salah satu peserta Sinau Aksara Jawa. Namanya Zoey Dasilva.
Bahasa Portugis adalah jejak sejarah dari bangsa Indonesia yang kosa katanya menjadi kosa kata serapan Bahasa Indonesia. (PAR/nng)
