Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China

Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China” adalah pepatah populer, yang menekankan pentingnya bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu sejauh apapun tempatnya.

Ilmu bukan saja didapat dari jalur formal seperti sekolah atau kampus. Ilmu pengetahuan dapat diperoleh melalui berbagai jalur di luar pendidikan formal (sekolah/kampus), yang sering kali lebih aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut UU No. 20 Tahun 2003, pendidikan di Indonesia dibagi menjadi tiga jalur yang saling melengkapi: Formal, Nonformal, dan Informal.

Ilmu pengetahuan dan keterampilan sesungguhnya tersebar luas dan tidak terbatas pada dinding kelas atau kurikulum formal semata.

Pendidikan Informal (Mandiri & Lingkungan) dapat diperoleh dari pengalaman sehari-hari, keluarga, dan lingkungan.

Pengalaman Kerja/Lapangan yaitu belajar langsung dengan mempraktikkan teori (magang, bekerja, atau berbisnis).

Komunitas Kreatif/Hobi adalah kegiatan yang yang memiliki minat sama dan memungkinkan pertukaran ide dan networking.

Jalur informal inilah yang sedang dijalani oleh Ita Surojoyo dari Puri Aksara Rajapatni, sebuah komunitas aksara Jawa di Surabaya. Saat ini Ita Surojoyo sedang melangkahkan kaki di negeri tirai bambu untuk mencari ilmu secara informal.

Aksara Hanzi di mana mana di penjuru kota. Foto: IS

Yaitu Ita melakukan pengamatan langsung bagaimana bangsa yang maju modern ini masih menghargai tradisi dan peradaban leluhurnya. Salah satu di antara praktik menghargai leluhur itu adalah penggunaan aksara tradisional Hanzi dalam kehidupan sehari hari yang sudah berteknologi.

Ilustrasi kereta cepat di Tiongkok. Foto: ist

Salah satu produk teknologi itu adalah kereta cepat. Penggunaan aksara Hanzi pasti lah melengkapi. Produk kereta cepat yang membanggakan itu menjadi etalase aksara Hanzi. Aksara Hanzi juga tidak lupa digunakan pada produk roti lokal.

Sebuah tiket kereta. Foto: ist
Aksara Hanzi dalam kemasan produk roti. Foto: IS

Bangsa China menghargai budaya aksara Hanzi (汉字) dalam keseharian bukan hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai warisan budaya, seni, dan identitas filosofis yang mendalam. Aksara ini dihargai karena akarnya yang membentang lebih dari 3.000 tahun.

Aksara Hanzi tertulis di dalam kereta..Foto: ist

Bangsa Tiongkok ini tidak hanya sekedar melestarikan tetapi juga sudah turut memajukannya seiring dengan aktivitas sosial – budaya di era teknologi ini. Pastinya mereka bisa menggunakan aksara Hanzi baik secara manual maupun digital. Bahkan dalam produk digital pun, aksara Hanzi menjadi salah satu fitur yang ditawarkan.

Aksara Hanzi dalam fitur fitur teknologi. Foto: ist

Integrasi aksara Hanzi (漢字) dalam produk digital saat ini bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan fitur utama yang krusial. Seiring dengan meningkatnya popularitas bahasa Mandarin dan kemajuan ekonomi Tiongkok, teknologi digital telah berevolusi untuk memudahkan penggunaan ribuan karakter Hanzi yang kompleks.

Dengan begitu, semaju apapun Tiongkok, mereka tetap akan memegang teguh nilai tradisinya. Lihat saja kampung Pecinan di Kembang Jepun, begitu Pemerintah kota Surabaya menghidupkan Kota Lama Surabaya, warga di kawasan Kembang Jepun secara inisiatif meramaikan toko tokonya dengan aksara Hanzi.

Pertokoan di Kembang Jepun Surabaya. Foto: ist

Sementara warga pribumi pemilik aksara Jawa (baik Etnis Jawa dan Madura) seolah tidak ambil pusing, tidak tergerak melestarikan dan memajukan Aksara tradisionalnya. Kalau kita melewati jalan kembang Jepun Surabaya, pemandangan jalannya yang penuh dengan nameboard beraksara Hanzi membuat seolah di sebuah sudut di perkotaan Tiongkok.

Pemerintah negeri Pancasila ini berharap bisa membuat bangsa ini sebagai ibukota kebudayaan dunia. Bagaimana bisa terwujud bila warganya kurang bisa menghargai budayanya sendiri?.

Inilah ilmu yang didapat dari Negeri China yang berupa komparasi menghargai budaya. (PAR/nng).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *