Surabaya: Where Tradisional Meets International.

Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – “Melting pot” itulah ungkapan singkat yang menggambarkan kota Surabaya sejak dulu hingga kini.

Kota Surabaya telah lama menjadi titik temu berbagai budaya, etnis, dan agama serta kebangsaan sejak era kolonial hingga menjadi metropolitan modern saat ini.

Melting pot secara harfiah berarti kuali peleburan atau wadah peleburan. Yaitu meleburnya berbagai keragaman dan perbedaan dalam satu tempat, yaitu Surabaya. Termasuk meleburnya sifat tradisional dan internasional. Peleburan dua sifat ini, salah satunya tersaji dalam karya literasi buku Sketsa Kota Lama Surabaya.

Dalam buku ini bersanding aksara tradisional Jawa dengan aksara modern Latin. Dalam aksara Latinnya tertulis dalam bahasa Indonesia, Inggris dan Belanda. Pun demikian dengan pelaku pelaku di balik penyusunan buku ini. Ada keterlibatan, yang tidak hanya suku bangsa, tapi kebangsaan. Objek potret kota lama, yang divisualkan dalam karya seni sketsa, juga refleksi kebangsaan asing yang pernah tinggal di kota kecil di tepian sungai Kalimas.

Itulah keindahan Surabaya dalam keberagaman. Terlalu sayang jika keindahan ini tidak diabadikan dalam karya seni estetik yang edukatif bagi semua. Maka akan hadirlah sebuah buku yang mengangkat keindahan dan eksotika serta estetika Kota Lama Surabaya.

Keindahan Kota Lama Surabaya mengandung nilai nilai yang universal. Kadang keindahan itu tidak butuh narasi, karena keindahannya sudah bisa bicara dalam banyak bahasa.

Waterfront Surabaya di era Kolonial. Foto: is

Keindahan Kota Lama Surabaya, dengan arsitektur kolonial yang ikonik dan suasana historisnya, membawa nilai universal berupa apresiasi terhadap sejarah dan harmoni estetika masa lalu. Keindahannya mampu dinikmati dan dipahami oleh siapa saja, melintasi batasan bahasa dan budaya, menjadikannya ikon wisata sejarah yang kuat di Surabaya.

Multibahasa dalam kemasan buku sketsa. Foto: nng

Melalui buku Sketsa Kota Lama Surabaya, kawasan ini dibahasakan agar bisa bergerak dan berlari lintas negara serta bernarasi lintas bahasa. Buku Sketsa Kota Lama Surabaya memang dirancang bisa berfungsi sebagai media untuk mengenalkan dan mempromosikan kawasan bersejarah tersebut ke kancah internasional. Melalui visualisasi sketsa dan narasi yang menarik, buku ini melampaui batas bahasa, memungkinkan Kota Lama Surabaya dikenal, diapresiasi, dan bergerak aktif dalam memori kolektif lintas negara serta budaya.

Terlalu sayang pula keindahan Kota Lama Surabaya tidak dimanfaatkan untuk tujuan tujuan kreatif yang inspiratif. Buku Sketsa Kota Lama Surabaya adalah wujudnya. (PAR/nng).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *