Konstelasi Triple 10 di Surabaya Adalah Bentukan Ilahi.

Sejarah

Rajapatni.com: SURABAYA – Triple 10 terjadi dan terkonstalasi tidak kebetulan dalam urusan penelusuran dibongkarnya bangunan cagar budaya Rumah Radio Bung Tomo di jalan Mawar 10 Surabaya, yang terjadi pada 2016 lalu.

Konstelasi tiga bintang. Foto: ist

Triple 10 adalah konstelasi atau tatanan tiga angka 10. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kon·ste·la·si /konstélasi/ adalah 1) kumpulan orang, sifat, atau benda yang berhubungan; 2) keadaan, tatanan: — politik di Eropa; 3) bangun; bentuk; susunan; kaitan; 4) gambaran; keadaan yang dibayangkan.

Di Surabaya, khususnya terkait dengan isu hilangnya Rumah Radio Bung Tomo, baru saja terjadi konstelasi angka 10 (triple 10). Triple Ten (10) adalah tertatanya angka 10, yang terdiri dari alamat jalan Mawar 10, selang waktu 10 tahun antara terjadinya pembongkaran pada 2016 dan pertanyaan Presiden Indonesia Prabowo Subianto pada 2026 serta kedatangan putra Bung Tomo, Bambang Sulistomo, yang ingin mendalami kembali isu hilangnya Rumah Radio Bung Tomo yang datang kembali ke pada tanggal 10 Februari 2026.

Tiga tatanan angka 10 ini hanya terjadi sekali setahun. Adapun secara umum Angka 10 melambangkan kesempurnaan, keutuhan, dan tatanan ilahi, karena merupakan hasil penjumlahan 1 (individu) dan 0 (tak terbatas). Dalam numerologi, 10 mewakili awal baru, kemandirian, dan keseimbangan spiritual, sementara dalam konteks Alkitab, 10 sering dikaitkan dengan hukum, otoritas, dan kelengkapan.

Secara keseluruhan, angka 10 dalam Alkitab sering muncul untuk menyatakan bahwa Tuhan memegang otoritas penuh, menetapkan hukum-Nya, dan menjamin bahwa rencana-Nya lengkap.

Jika dilambangkan dengan bentuk segitiga maka konstelasi ini bersudut tiga, seperti bentuk segitiga. Jika dilambangkan dengan benda tajam terhunus tiga adalah senjata Trisula yang tidak lain adalah senjata Dewa Siwa.

Segitiga konsepsi sakral hadirnya Cakra-Trisula sebagai buah konsepsi bertemunya Lingga-Yoni. Foto: nng

Pada pangkal bawah Monumen Tugu Pahlawan Surabaya, yang berlambang sabuk kesatuan NKRI berbentuk Gunungan, yang berelief pertemuan Lingga-Yoni, yang melahirkan senjata para Dewa. Yaitu senjata Cakra (Dewa Wisnu) dan Trisula (Dewa Siwa). Senjata Trisula menempati posisi paling atas.

Konfigurasi Lingga-Yoni, Cakra dan Trisula ini direliefkan pada pangkal Monumen Tugu Pahlawan, yang menjadi simbol keberanian dan perjuangan rakyat Surabaya dalam mempertahankan kedaulatan pada 1945.

Putra BungTomo, Bambang Sulistomo, berdiri di lokasi Mawar 10, yang menyisakan tembok pagar dengan angka 10. Foto: dok nng

Konstelasi angka 10 pada masa kekinian juga menjadi simbol keberanian dan perjuangan rakyat Surabaya dalam mempertahankan simbol perjuangan arek arek Surabaya dalam menghadapi Sekutu pada 1945.

Presiden bertanya kepada seluruh kepala daerah tepat 10 tahun hilangnya rumah Radio Bung Tomo. Foto: ist

Kedua perjuangan di beda masa ini adalah upaya 1). mempertahankan kedaulatan negara (kemerdekaan) dari upaya pendudukan bangsa asing di tahun 1945 dan 2). mempertahankan kedaulatan bangunan cagar budaya dari upaya penguasaan pihak lain di era sekarang.

Kedatangan Bambang Sulistomo ke Surabaya pada 10 Februari 2026. Foto: nng

Karenanya ketika Presiden Indonesia Prabowo Subianto menyinggung dan mempertanyakan simbol perjuangan bangsa ini sangatlah layak dan patut menjadi perhatian semua kepala daerah se Indonesia akan nilai penting ini.

Atas peristiwa penting ini, pada suatu hari Presiden Indonesia Prabowo Subianto diharapkan bisa menengok situs penting yang bangunannya aslinya telah hilang. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *