Sejarah
Rajapatni.com: SURABAYA – Saat polemik perobohan bangunan Radio Bung Tomo di jalan Mawar 10 Surabaya terjadi, kami keluarga dan kerabat merahasiakan hal itu kepada ibu Sulistina Sutomo. Sepertinya ada juga firasat kuat di hati beliau, karena berulang kali mengajak putra-putri nya mengunjungi Surabaya karena mimpi sang suami : Bung Tomo (keluarga Bung Tomo berdomisili di Cibubur, Jakarta).
Hal itu membuat saya (Dedy Endarto), mbak Titing, mas Bambang, mbak Lista dan mbak Nana semakin merasa bersalah. Sebab bila ibu diberi tahu jelas akan shock batinnya, tapi kalau tidak diberitahu akan lebih parah jika tahu dari pihak lain.

Setiap tahun ibu Sulistina Sutomo dan keluarga diundang oleh pemerintah provinsi Jawa Timur menghadiri acara HARI PAHLAWAN, lokasi wajib yang didatangi bila di Surabaya adalah makam suaminya di kawasan Ngagel dan jalan Mawar 10 lokasi radio Bung Tomo itu. Kami kerabat dan keluarga diajak berdoa bersama di depan pagar bagi para pejuang Surabaya yang gugur saat itu.
Cerita Dari Bung Tomo
Cerita yang senantiasa berulang disampaikan kepada kami di lokasi itu adalah : Bapakmu dulu pidato ngajak rakyat perang membela negeri ini, dan banyak yang akhirnya gugur. Bahkan diujung sana (beliau menunjuk ujung jalan: dulu lokasi RS Bhayangkara) menumpuk jasad para pejuang. Ibu tahu karena beliau adalah laskar wanita PMI yang diperbantukan dari Malang di pertempuran Surabaya.
“Jadi ayo kita doakan arwah pejuang yang gugur demi bangsa ini, dan mohonkan ampunan bagi bapak yang pidatonya di radio menyebabkan para pejuang gugur”, demikian kata Deddy mengenang ucapan Sulistina Sutomo.
Dan selalu ada air mata kami yang jatuh pada momen itu setiap tahunnya.
Nylimur
Saat tahun bencana itu terjadi (2016), selepas acara upacara dan ziarah makam. Ibu mengajak kami ke jalan Mawar. Kami bingung dan beralibi bermacam-macam memalingkan rencana ibu berkunjung kesana.
Saya bilang kalau di Tegalsari sedang ada acara keramaian hari Pahlawan sehingga jalan ditutup. Mobil kita belokkan ke rumah makan dan kami berusaha menghibur ibu yang kecewa karena tidak bisa berkunjung ke jalan Mawar.
Konyolnya saat selesai makan siang itu, ibu minta acara ke Malang ditunda dulu sampai besok. Karena ingin extend di Surabaya dan berdoa besok pagi di Mawar. Mas Bambang kelabakan berdalih bahwa sudah terlanjur janji dengan pejabat dan rekan rekan di Malang, agar sore itu rombongan keluarga bergeser ke Malang menutupi rencana kunjungan Mawar.
“Itu kami lakukan BERULANG KALI, karena pada tahun itu kunjungan ibu ke Surabaya relatif sering karena menghadiri undangan Pemprov Jatim maupun acara Yayasan Soerjo Mojopahit yang beliau pimpin”, kata Deddy.
Kata “Mawar” Membuat Bingung
Setiap ada kosa kata MAWAR dari beliau, setiap kali itu pula kami keluarga dan kerabat kelabakan menyiapkan alibi. Sampai akhirnya kami rapat keluarga dan berkeputusan IBU HARUS TAHU TENTANG BENCANA PEROBOHAN INI.
Pemberitahuan dilakukan lengkap oleh keempat putra-putri beliau, dan saya bersiap di Surabaya bersama mbak Ana (keponakan beliau) mengkonfirmasi lewat telepon bila ada pertanyaan dari ibu. Mas Bambang cerita, pada saat dia bisikkan berita itu ke ibu sambil ditunggu juga ketiga saudara perempuannya : posisi ibu setengah berbaring ditempat tidur, tidak ada reaksi histeris yang sempat kita khawatirkan. Hanya ada tetesan air mata yang semakin deras meluncur ke pipi dan kemudian memiringkan badan menghadap ke dinding sambil memeluk guling. Meminta putra-putrinya keluar dari kamar. Itu momen yang paling kami takuti, karena beberapa tahun ini kesehatan ibu juga naik turun posisinya.
Kami berharap kejadian ini tidak memberikan pukulan fatal pada kondisi beliau. Setelah beliau agak tenang beberapa jam kemudian, saya dan mbak Ana di Surabaya ditelpon. Dan kami pun pelan pelan menjelaskan kondisi lokasi terbaru. Saya jelas mendengar Isak tangis dari seberang sana.
Pesan Sulistina Sutomo

Yang paling ajaib, ibu Sulistina justru bilang agar kami yang di Surabaya kuat menghadapi masalah ini. Bangunan itu memang bukan hak kita, itu hak keluarga mas Amin. Tapi beliau meminta kepada kami untuk tetap berdoa di sana, demi mereka yang gugur dalam perang serta memohonkan ampunan bagi almarhum Bung Tomo. Dan kami pun menyanggupi.
Saya jawab sambil tak terasa air mata bergulir. Maafkan kami Bu Tomo, saya dan kerabat disini tak mampu menjaga lokasi bersejarah yang menjadi kenangan terbesar bagi ibu dan negeri ini.
Waktu berlalu, dan kesempatan itu akhirnya tiba. Ibu berkunjung ke Surabaya pertama kali sejak tahu kehancuran itu. Selepas acara protokoler dan acara Yayasan, kami ziarah ke makam Bung Tomo. Ibu duduk lama di sana, diluar kebiasaannya. Ada air mata bergulir saat itu, tapi bibir beliau terkatup erat.
Wadul Bung Tomo

Yang kami takutkan: Ibu sedang wadul ke bapak tentang perobohan rumah radio itu. Kehancuran bangunan adalah hal yang lumrah dalam perjalanan hidup, tapi kehilangan jejak sejarah memang berat seumur hidup. Saya takut IBU BERDISKUSI DENGAN BAPAK BUKAN SOAL BANGUNAN YANG HANCUR, TAPI SOAL PERJUANGAN YANG TIDAK DIHARGAI DAN DIKHIANATI.
Semoga nanti di alam kelanggengan para pelakunya mampu menanggung dosa pertanggung jawaban sejarah ini.
Salam katur BUNG TOMO dan ibu SULISTINA SUTOMO (dua pejuang penerima medali gelar pahlawan Nasional),
“Ini presiden baru kita, mas Prabowo Subianto menyinggung kenanganmu di jalan Mawar Surabaya. Semoga panjenengan berdua di alam sana diberikan tempat yang mulia disisi Allah SWT.
“Kita ini keluarga hebat, pejuang tangguh yang tak pernah berpaling dari negeri ini sekalipun dikhianati oleh mereka yang mementingkan nasibnya sendiri. MERDEKA ……” Begitulah bunyi suara hening. (PAR/Deddy/nng)
