Menikmati Kota Tua Jakarta Di Lorong Waktu.

Sejarah

Rajapatni.com: SURABAYA – Jakarta memiliki kawasan wisata sejarah Kota Tua. Pusatnya ada di seputaran Museum Sejarah Fatahillah Jakarta.

Suasana cafe di lantai satu. Foto: nng

Museum Sejarah Fatahillah (Museum Sejarah Jakarta) ini adalah ikon Kota Tua yang beralamat di Jl. Taman Fatahillah, Jakarta Barat. Gedung ini dijadikan museum pada 1974, yang sebelumnya dikenal sebagai Balai Kota Batavia (1710) dan memiliki gaya Neo Klasik Belanda.

Suasana di lantai dua. Foto: nng

Kota Tua Jakarta awalnya adalah area pemukiman pertama di Jakarta. Yakni mulai dari pelabuhan Sunda Kelapa hingga Pecinan (China Town). Dengan demikian, daerah ini kaya akan sejarah. Disana masih banyak bangunan indah yang tersisa di Kota Tua Jakarta.

Sebuah klenteng di jalan Kemenangan  Pecinan Pancoran Jakarta. Foto: nng

Setelah ditinggalkan, pemerintah DKI Jakarta revitalisasi daerah ini. Beberapa bangunan yang sudah direnovasi, dikembalikan ke kondisi semula. Enam diantaranya dijadikan museum, yaitu museum sejarah Jakarta Fatahillah, museum seni rupa dan keramik, museum Wayang, museum Bahari, museum Bank Mandiri dan. Museum Bank Indonesia) karenanya, daerah itu dikenal sebagai Museum Distrik.

Museum Sejarah Fatahillah Jakarta di malam hari. Foto: nng

 

Café Batavia

Selain bekas gedung Balai Kota (Stadhuis), juga ada bekas tempat tinggal Gubernur Jenderal yang dibangun pada 1805 yang sekarang menjadi Cafe Batavia.

Café Batavia legendaris di Kota Tua Jakarta. Foto: nng

Cafe Batavia adalah kafe paling legendaris di Kota Tua Jakarta. Interiornya didominasi oleh foto-foto dan furnitur lama yang mengingatkan pada Batavia pada abad ke-19.

Cafe pilihan. Foto: nng

Pada kesempatan Sabtu malam Minggu (31/1/26), Puri Aksara Rajapatni menyempatkan berkunjung ke Café Batavia untuk meneguk secangkir teh panas dan makanan kecil yang harganya besar. Tiga cangkir teh panas, sepiring Tahu goreng isi tiga, sepiring chicken wing isi 8 dan sepiring cempedak goreng isi 7 dengan harga total Rp. 500.000.

Hidangan kolonial berbahan lokal. Foto: nng

Masuk ke dalam Café Batavia tidak hanya makan untuk pengecap lidah tetapi makan untuk perasa hati dan benak. Masuk ke dalam Café Batavia seolah masuk ke dalam suasana dari era kolonial abad 19.

Dekorasi foto foto vintage sambil melengkapi alunan lagu lagu. Foto: nng

Selain menghibur indra pengecap dan perasa, juga menghibur indra pendengaran dengan lantunan lagu lagu tempo dulu live. Belum lagi dekorasi ruangan di lantai satu dan atas yang penuh dengan foto foto klasik nya untuk indra penglihatan. Tidak ketinggalan hiburan untuk indra peraba pada benda benda bertekstur. Misalnya meja marmer, bola dunia antik, hingga tangga kayu jati. Termasuk pemandangan lapangan Taman Fatahillah yang dipandang dari lantai dua Café Batavia dimana lapangan Stadhuis terlihat sepi sebagaimana abad 19, yang bertolak belakang dengan Jakarta abad 21.

Pemandangan Taman Fatahillah dari lantai dua Café Batavia. Foto: nng

Tak terasa nongkrong di lorong waktu ini membawa Puri Aksara Rajapatni hampir menyentuh ke perubahan waktu dari 31 Januari ke 1 Februari 2026. (PAR/nng).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *