Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Museum saat ini aktif bertransformasi menjadi ruang komunitas yang dinamis, menyambut berbagai kegiatan kolaboratif untuk meningkatkan keterlibatan publik dan melestarikan budaya. Melalui pameran bersama, workshop, diskusi, hingga tur komunitas, museum memfasilitasi pertukaran pengetahuan, kreativitas, dan penguatan identitas lokal.
Ini tidak hanya museum museum di Jakarta sebagaimana disampaikan oleh Kepala Museum Bahari Jakarta, tetapi juga oleh Humas Museum Nasional Indonesia, Dwi, ketika menyambut kedatangan A. Hermas Thony (pembina) dan Nanang Purwono (Ketua) Puri Aksara Rajapatni yang berbasis di Surabaya.

Seharusnya juga oleh museum museum di Indonesia. Museum museum di Indonesia perlu kolaborasi dengan pegiat dan komunitas untuk meningkatkan relevansi, daya tarik, serta edukasi di era modern, sehingga tidak sekedar menjadi tempat penyimpanan benda kuno. Kolaborasi ini membantu museum menjadi ruang sosial interaktif, meningkatkan kunjungan melalui kegiatan kreatif, dan melestarikan budaya lokal secara partisipatif.
Ketika perwakilan Puri Aksara Rajapatni (Thony dan Nanang) berkunjung ke Museum Nasional Indonesia (MNI) pada Jumat (29/1/26) dan ditemui Dwi, bagian Humas Museum Nasional Indonesia, Dwi menyambut gagasan komunitas dalam upaya bersama memajukan kebudayaan dan nilai nilai budaya Indonesia.

Disampaikan kepadanya bahwa Puri Aksara Rajapatni sebagai komunitas budaya, khususnya Aksara Jawa, tengah berupaya memajukan budaya Surabaya berdasarkan sumber otentik dan premier prasasti Canggu (1358 M) yang artefaknya disimpan di Museum Nasional Indonesia.
Bahwa dalam prasasti, yang berbentuk lempeng tembaga berukuran kira kira 30 cm x 11 cm itu, secara nyata menuliskan nama Syurabhaya dan dua daerah lain di Surabaya. Yaitu Pagesangan (Gsang) dan Bungkul (Bukul), yang kala itu masih berupa Desa Kecil di tepian sungai (Naditira Pradesa).
Pada saat dikunjungi Raja Hayam, di desa desa itu sudah ada jasa penambangan (Ferry crossing) yang mendukung kegiatan warga seperti perdagangan, keagamaan, kebudayaan dan sosial. Itulah alasan, yang menjadikan Naditira Pradesa dicatat oleh Raja Majapahit Hayam Wuruk dalam sebuah prasasti khusus, yang bernama Canggu atau Trowulan I yang tertanggal 7 Juli 1358 M.

Dalam upaya belajar dari prasasti itu, warga Surabaya utamanya warga setempat dimana Naditira Pradesa itu berada seperti Pagesangan (Gsang), Bungkul (Bukul) dan Syurabhaya (diduga Peneleh) yang sekarang menjadi Kota Surabaya, dapat belajar sejarah kotanya.
Prasasti Canggu adalah bukti otentik sebagai sumber sejarah Surabaya. Karenanya perwakilan Puri Aksara Rajapatni perlunya menyampaikan gagasan replikasi Prasasti Canggu kepada Museum Nasional Indonesia di Jakarta.
Menurut pembina Puri Aksara Rajapatni, A. Hermas Thony, replikasi tidak sekedar untuk mengisi museum Surabaya sebagai khasanah koleksi sejarah tetapi akan ada upaya kajian kajian untuk menguak makna dari Prasasti Canggu.

“Tidak hanya sebagai koleksi museum, tetapi ada beberapa nilai budaya berdasarkan prasasti sejarah Canggu”, kata Thony kepada Dwi, Humas Museum Nasional Indonesia pada Jumat (20/1/25).
Semangat ini sekaligus mendukung warga, yang telah memiliki semangat mandiri dalam nguri uri sejarah dan budaya lokal. Misalnya warga Pagesangan yang secara mandiri dan sadar memelihara sejarah lokalnya. Bahkan warga setempat secara mandiri memperingati hari jadi desanya berdasarkan prasasti Kencana (782 M).
Selain tersebut pada prasasti Kencana (782 M), nama Gsang (Pagesangan) juga tercatat pada Prasasti Canggu (1358 M). Ringkasnya museum harus berkolaborasi dengan komunitas untuk meningkatkan relevansi, partisipasi, dan keberlanjutan.
Kolaborasi ini mengubah museum dari tempat penyimpanan statis menjadi ruang dinamis yang inklusif, membangun kepercayaan publik, serta mempererat hubungan sosial. Melalui kemitraan ini, komunitas membantu melestarikan budaya lokal, sementara museum menjadi lebih hidup dan menarik bagi pengunjung. (PAR/nng)
