Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Sebuah platform digital, yang berkomitmen untuk mengangkat, menghubungkan dan merevitalisasi ekosistem museum dan warisan budaya Indonesia, Musee ID, secara resmi diluncurkan di Museum Bahari, Jakarta pada Rabu, 28 Januari 2026.

Kehadiran Musee ID ini membuka ruang kolaborasi bagi generasi muda, profesional, komunitas, dan institusi untuk mengakses pengetahuan, berbagi cerita, dan membangun masa depan heritage yang inklusif.
Bagi Musee ID, warisan budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu. Warisan Budaya adalah sumber daya hidup, yang mampu menginspirasi inovasi, memperkuat identitas, dan memberdayakan komunitas ketika dikelola dengan cara yang tepat.

Peluncuran Musee ID di eks gudang Rempah rempah di kawasan Kota Tua Jakarta itu dihadiri oleh Kepala Museum Bahari Jakarta, Mis’ari, Kepala Subdinas Museum dan Monumen Dinas Sejarah TNI AL, Kolonel Laut (T) Toedi, Bank Indonesia, Museum Radya Pustaka Surakarta serta mitra mitra perwakilan komunitas budaya dan sejarah Jakarta dan daerah. Ada sekitar 100 undangan termasuk dari perwakilan Puri Aksara Rajapatni Surabaya, A. Hermas Thony.

Pada acara pembukaan Musee ID, Direktur Eksekutif Nova Farida Lestari menyampaikan bahwa Musee ID adalah kelanjutan dari IHHCH (Indonesia Hidden Heritage Creative Hub) yang mengakhiri masa tugasnya pada 2025.
“Jadi Musee ID ini hadir sebagai kelanjutan dari IHHCH, yang mulai beroperasi pada 2021 dan berakhir pada 2025 sebagai organisasi independen yang aktif dengan fokus mempromosikan sejarah dan budaya Indonesia sebagai produk pariwisata”, jelas Direktur Eksekutif Musee ID Nova Farida Lestari.
Kehadiran Musee ID mendapat sambutan dari Kepala Museum Bahari, Mis’ari. Menurutnya kehadiran Musee ID sebagai mitra kolaborasi yang sesuai dengan langkah Museum Bahari yang menjadi sebuah museum kolaboratif.

Museum Bahari di Jakarta Utara memang telah diakui sebagai museum kolaboratif yang aktif, terutama melalui penyelenggaraan pameran. Bahkan museum bahari jakarta telah mendapatkan Penghargaan sebagai museum kolaboratif. Penghargaan ini didasarkan pada kerja sama intensif dengan Kementerian Kebudayaan, Pemprov DKI, kedutaan asing, seniman, serta komunitas lokal untuk mengangkat sejarah maritim dan pesisir Jakarta.
“Kami memiliki sekitar 100 mitra komunitas budaya dan sejarah. Kami memiliki fasilitas pendukung untuk untuk menunjang kegiatan kegiatan komunitas. Silakan berkoordinasi dengan kami untuk itu”, jelas Mis’ari dalam sambutannya sebagai tuan rumah.
Agenda peluncuran Musee ID ini dikemas bersama dengan Museum Bahari Jakarta dalam bingkai “Networking Event” sebagai ruang temu bagi pelaku museum, komunitas kreatif dan pegiat budaya. Kegiatan itu menjadi wadah untuk saling berbagi gagasan, memperluas jejaring, serta merumuskan potensi kolaborasi demi pengembangan yang lebih inklusif, relevan dan berdampak bagi masyarakat.
Kegiatan Musee ID adalah salah satu fakta nyata di Museum Bahari dalam upaya bersama pemajuan kebudayaan sebagaimana diamanatkan oleh undang undang Pemajuan Kebudayaan.
“Jadi sahabat sahabat sekalian, melalui media Musee ID bisa berbagi karya karya tulis, berbagi informasi tentang cafe atau tempat tongkrongan, yang bernuansa memperkenalkan budaya dan sejarah serta karya karya buku yang nantinya bisa dikurasi oleh tim Musee ID“, jelas Nova di sela sela acara.

Pada kesempatan itu Nova Farida Lestari memperkenalkan tim Musee ID yang berdatangan dari lintas disiplin ilmu dan daerah. Selain dari Jakarta, ada pula yang berasal dari Bogor, Sidoarjo dan Surabaya yang berafiliasi dengan Puri Aksara Rajapatni..
Musee ID berkomitmen menjadikan museum tidak hanya sebagai ruang penyimpanan artefak sejarah tetapi juga sebagai ruang dialog, inovasi dan pembelajaran bersama.

Di acara ini juga digelar dialog dengan artis asal Belanda, Vincent Ruijters, yang sedang mempersiapkan untuk produksi Crimson Guilt yang akan digelar pada 7 Februari – 7 Maret 2026.
Vincent akan merekam suara dari lingkungan dan suasana yang bersumber dari lingkungan kapal kapal yang serupa dengan kapal VOC. Di Jakarta sumber suara di kapal kayu di Sunda Kelapa. Sedangkan dari Belanda diambil dari replika kapal VOC di dekat Museum Maritim Belanda di Amsterdam. Dari hasil rekaman suara itu dikemas menjadi bahan pameran instalasi.
Ini bertujuan untuk melihat potret VOC dari sudut pandang Indonesia dan Belanda. Hasilnya akan menjadi masukan bagi Vincent dalam melihat perspektif Indonesia dan Belanda dalam mengenal VOC ketika di Indonesia (d/h Hindia Belanda,)
Acara pembukaan soft launching Musee ID ini dibuka dengan sebuah tarian lokal Betawi dan ditutup dengan hiburan lagu lagu dengan iringan electone. (PAR/nng)
