Mengenang Masa Masa Jaya Bioskop di Surabaya

Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Surabaya memiliki kawasan elit yang menghubungkan Kota Lama (Benedenstad) dan Kota Baru (Bovenstad). Letaknya di ruas jalan Tunjungan. Jalan ini membujur Utara Selatan. Jalan ini adalah pusat hiburan Surabaya. Ada toko toko, restoran, dan bioskop termasuk tempat pertunjukan lainnya. Nama bioskopnya adalah Aurora. Di dekat Aurora ada percetakan terkenal.

Bioskop Aurora menjadi gambar sampul buku asing. Foto: nng

Kawasan hiburan elit ini mulai ada sejak kisaran tahun 1910-an. Hotel terkenal di masanya adalah Oranje Hotel yang berdiri sejak 1910, yang berikutnya dikenal dengan nama LMS (Lukas Martin Sarkies), Yamato, Majapahit Hotel, Mandarin Oriental dan menjadi Hotel Majapahit.

Seiring dengan berkembangnya pusat hiburan di Tunjungan, hadir juga Bioskop yang disebut Aurora. Berikutnya bercokol bioskop bioskop lainnya di kawasan kawasan yang menjadi perkembangan Surabaya. Di setiap kawasan permukiman ada sarana hiburan bioskop atau kala itu juga umum disebut Gambar Hidup.

Pada awal abad ke-20, bioskop memang lebih dikenal masyarakat Surabaya dengan istilah “Gambar Idoep”

Pada masa lalu, bioskop bioskop legendaris di Surabaya bukan hanya tempat menonton, melainkan pusat hiburan utama yang membentuk identitas kota, khususnya era 1950-an hingga 1970-an.

Saking terkenalnya Surabaya sebagai tempat hiburan masal, banyak bioskop, seorang tokoh film terkenal Charlie Chaplin datang ke Surabaya dan menginap di hotel Oranje di jalan Tunjungan. Bahkan ia sempat mempromosikan filmnya di gedung Bioskop Sampoerna, yang kemudian menjadi pabrik rokok Sampoerna.

Pada zamannya setiap gedung bioskop berdiri mandiri dengan gedungnya sendiri. Misalnya Bioskop Sampoerna di Pesarean, Bioskop Alhambra di Pegirian, Bioskop Luxor (Jaya)di jalan Pahlawan, Bioskop Rex (Ria) di jalan Kombespol Duryat, Bioskop New International di jalan Pecindilan, Bioskop Nusantara di jalan Jagalan, Bioskop Indra di persimpangan Simpang, Bioskop Mitra di jalan Yos Sudarso, Bioskop President di jalan Embong Malang, dan masih banyak lagi lainnya.

Bioskop Kranggan. Foto: ist

Namun memasuki tahun 80-an, studio Bioskop mulai memasuki mall mall, misalnya di dalam Mall Tunjungan Plaza di jalan Basuki Rahmat. Disusul kemudian studio Bioskop di Surabaya Plaza di jalan Pemuda. Ada juga studio Oscar di pertokoan di jalan Mayjend Sungkono. Ini merupakan bagian dari perkembangan pusat perbelanjaan di Surabaya yang dilengkapi dengan sarana hiburan Bioskop.

Menurut data, yang sempat dihimpun oleh Love Surabaya bahwa di Surabaya ini pernah ada lebih dari 50 bioskop besar dan kecil.

Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan perubahan perubahan yang menyertai, banyak bangunan bioskop lawas yang kini sudah tidak ada atau beralih fungsi. Bioskop Jaya di Jalan Pahlawan, misalnya, telah berganti wujud. Bioskop Internasional di jalan Pecindilan menjadi Pom Bensin SPBU. Bahkan ada yang tutup seperti Bioskop Indra dan Mitra.

Bioskop Rex atau Ria. Foto: ist

Apalagi pola dan gaya menonton film masyarakat telah tergantikan dengan sarana baru digital, melalui HP. Maka banyak yang mengakses film film dari genggaman. Meski suasananya berbeda dari menonton film di studio Bioskop.

Apalagi harga tiket bioskop relatif mahal mahal bagi sebagian orang. Tetapi sebanding yang suasana yang didapatkan.

Pegiat sejarah Chatib Ismail juga menuliskan sebuah buku, yang berjudul “Mengenang Masa Kejayaan Bioskop di Surabaya”. Bahwa Bioskop adalah gaya hidup pada masanya. Menonton bioskop di studio menjadi gaya pacaran anak muda kala itu.

Bahkan Benyamin S. melantunkan lagu tentang nonton bioskop yang berjudul “Malam Minggu (Nonton Bioskop)”. Lagu ini sangat populer dan sering disebut “Nonton Bioskop” saja, yang menceritakan pengalaman jenaka pergi ke bioskop di malam Minggu, yang menjadi salah satu karya khas Benyamin, yang mengangkat kehidupan sehari-hari di Betawi (Jakarta). (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *