Kuliner Khas Giri Dalam “Pasar Panganan Giri Biyen” Gresik.

Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Sebuah agenda budaya, yang mengetengahkan ragam jajanan dan kuliner tempo dulu di Gresik dengan tema “Pasar Panganan Giri Biyen” digelar di Dusun Kajen, Desa Giri, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik pada Minggu Kliwon pagi (18/1/26). Dusun atau Kampung Kajen ini terletak di bawah/kaki bukit dimana makam Sunan Giri berada.

Dari jalan utama di Sunan Giri ini, pengunjung harus menuruni jalan setapak masuk ke dalam kampung. Jalanan turun berkelok-kelok hingga masuk jalan memanjang di Dusun Kajen dimana terdapat pendopo tradisional yang dibangun sebagai pusat kegiatan budaya Giri.

Mendadak ramai. Foto: nng

Di kampung inilah, Kajen, para penjual jajanan dan makanan khas Giri berjajar di sepanjang jalan dusun. Meriah! Meriah pula jenis jajanannya, lebih dari 100 item jajan dan kuliner tradisional khas Gresik dijajakan dan dipamerkan. Kemeriahan itu didukung pula oleh riuhnya pengunjung dari berbagai daerah.

 

Jajanan Langka

Yang dijajakan umumnya adalah jajanan dan kuliner langka. Salah satunya adalah Kupat Keteg. Kupat Keteg adalah kuliner khas Gresik, Jawa Timur, berupa ketupat dari beras ketan yang dimasak menggunakan air ketheg (endapan minyak mentah dari sumur tua), yang memberikan rasa gurih, asin. Sedangkan warna keemasan, dan aroma khas, disajikan dengan parutan kelapa dan gula merah. Kupat Keteg ini menjadi bagian tradisi malam Selawe (25 Ramadhan) dan Lebaran. Kini Kupat Keteg serta mulai langka karena sumber airnya terbatas.

Kupat Keteg jadi perhatian. Foto: nng

Makanan kupat Keteg ini adalah jajanan Peninggalan dari era Sunan Giri. Demikian kata Arif, salah satu dari Panitia acara. Lebih lanjut Arif mengatakan bahwa Dusun Kajen adalah tempat komunitas pemakmur Masjid dan penjaga makam.

 

Kampung Bersejarah

Kampung Bersejarah. Foto: nng

Kampung Kajen di Desa Giri, Kebomas, Gresik, adalah kampung bersejarah yang terkenal dengan nuansa tempo dulu dan merupakan bagian dari wilayah yang erat kaitannya dengan Sunan Giri, salah satu Wali Songo yang mendirikan kerajaan Giri Kedaton dan menyebarkan Islam di Jawa. Demikian jelas Arif ketika menyambut kedatangan tim dari Jakarta, Musee ID.

“Wilayah ini kaya akan peninggalan sejarah, pusat keagamaan, dan juga mengembangkan ekonomi lokal melalui kerajinan dan pariwisata”, tambah Arief

 

Penunjang Pariwisata

 

Sarana penunjang pariwisata. Foto: nng

Kuliner tempo dulu adalah salah satu penunjang pariwisata di Desa Giri. Karenanya kegiatan budaya ini menarik perhatian lembaga budaya Musee ID. Nova Farida Lestari, Direktur Eksekutif Musee ID, menyambut gembira kegiatan budaya ini.

“Terima kasih buat semua panitia acara dan seluruh peserta acara, yang sudah mau menyajikan aneka kuliner dari Giri ini. Kegiatan ini menjaga warisan lokal dan sekaligus mendukung kepariwisataan di komplek Pemakaman Sunan Giri, salah satu dari sembilan Wali penyebar agama Islam di Jawa”, ujar Nova dalam sambutannya pada pembukaan acara.

Ramai pengunjung. Foto: nng

Berjubelnya pengunjung menjadikan jalan kampung, yang lumayan lebar dari lainnya ini, terasa sesak. Berjalan terasa susah. Tapi memang enak bisa sambil menikmati dan melihat keragaman kuliner. Tidak hanya lidah yang memang harus mengecap, tapi panca indera mata pun harus mihat penampilan setiap jajanan yang memang sudah langka.

Melalui “Pasar Panganan Giri Biyen”, pengunjung, utamanya generasi muda, bisa mengenal kekayaan kuliner dari Desa Giri ini.

 

Lebih Meriah

Menurut panitia Arief, kegiatan ini adalah kali kedua dan tahun ini 3 kali lipat lebih ramai dan meriah. Yang menambah unik adalah media transaksinya adalah menggunakan uang gobog kuno.

Uang gobog sebagai sarana transaksi. Foto: nng

“Kami menyediakan 2000 keping uang gobog kuno yang kami dapatkan dari Trowulan. Dari uang gobog itu ada yang per keping bernilai Rp. 10.000, Rp. 5.000 dan Rp. 2.000. Total nilainya mencapai puluhan juta rupiah, yang ditambah dengan pembayaran langsung tunai. Maklum koin gobognya habis”, demikian jelas Arief.

Kegiatan budaya kuliner ini sangat mendukung potensi wisata Makam Sunan Giri. Minggu Kliwon pagi, yang mendung ini, membuat suasana semakin menyenangkan. Terletak di kawasan perbukitan dengan hawa yang lebih sejuk.

Dapur umum (panitia). Foto: ist

Kemeriahan itu membuat jajanan dan kulineran hampir habis sebelum satu jam sejak dipukulnya kempul sebagai tanda dimulainya acara. (PAR/nng)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *