Bahasa Sansekerta Adalah Warisan Budaya Nusantara? Komparasikan: Nalanda (India) Vs “Dharma Phala” (Nusantara).

Sejarah Bahasa

Rajapatni.com: SURABAYA – Mengejutkan ketika membaca kabar bahwa Bahasa Sansekerta adalah warisan Nusantara yang terlupakan. Selama ini diketahui bahwa Sansekerta adalah warisan budaya India.

Berangkat dari akun Facebook Bumi Pusaka dengan judul: “Menelusuri Asal-Usul Bahasa Sansekerta: Warisan Nusantara yang Terlupakan”, menjadi tertarik membacanya hingga tuntas. Mungkin Anda juga ingin membacanya. Silakan dibuka akun Facebook Bumi Pusaka dengan tag “Menelusuri Asal-Usul Bahasa Sansekerta: Warisan Nusantara yang Terlupakan”.

Menurut unggahan Bumi Pusaka bahwa ada banyak fakta menarik, yang mengarah pada kesimpulan bahwa bahasa Sansekerta memiliki akar yang kuat di Nusantara, bukan di India. Ditambahkan bahwa akibat kolonialisme dan propaganda sejarah, peran Nusantara dalam perkembangan bahasa ini nyaris terhapus.

 

Mengapa Nusantara?

1. Sansekerta bahasa kuno

Sansekerta sudah digunakan sejak lama di Nusantara, yaitusejak ribuan tahun lalu, dimana masyarakat Nusantara sudah menggunakan bahasa Sansekerta dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam keagamaan, sastra, maupun pemerintahan. Kata bhāṣa, yang berarti “logat bicara” dalam Sansekerta sendiri, sudah melekat dalam bahasa kita, menjadi diksi “bahasa”.

2. Pengakuan Ahli

Pengakuan para Ahli Bahasa seperti Sir William Jones, seorang filolog asal Inggris, dalam pidatonya pada tahun 1786 menyebutkan bahwa bahasa Sansekerta memiliki kesempurnaan yang luar biasa dan memiliki keterkaitan erat dengan bahasa Yunani serta Latin. Namun, ia juga menyebutkan bahwa bahasa ini berasal dari sumber, yang “kemungkinan sudah tidak ada lagi.” Bisa jadi, yang dimaksud adalah bahasa Nusantara kuno.

3. Bukti Sejarah: Pusat Pendidikan Nusantara lebih tua dari India:

Sisa-sisa dari perpustakaan Universitas Nalanda India, yang dilaporkan telah dibakar selama tiga bulan setelah serangan Turki, yang dipimpin Bakhtiyar Khilji pada abad 12 dan menghancurkan biara-biara, dan membuat lari para biarawan dari situs tersebut. Foto: ist

• Sebelum Universitas Nalanda di India (427 M) didirikan, Nusantara sudah memiliki pusat pembelajaran besar bernama Dharma Phala (*) di Swarnadvipa (Sumatra).

• Tokoh seperti Dharmapala (670–580 SM), seorang pemikir besar yang lahir di Swarnadvipa, berperan penting dalam menyebarkan ajaran Dharma ke India.

Swarnadwipa (Sumatra). Foto: ist

4. Banyaknya Kata Sansekerta dalam Bahasa Indonesia

Ribuan kata dalam bahasa Indonesia berasal dari Sansekerta, seperti agama (āgama), cinta (cintā), antariksa (antarikṣa), dan banyak lagi. Sementara di India sendiri, bahasa Sansekerta justru tidak digunakan dalam percakapan sehari-hari. Bahasa Jawa, Sunda, dan Bali mengandung banyak kata dari Sansekerta.

Banyaknya kosakata Indonesia dari bahasa sansekerta..Foto: ist

 

Benarkah Sansekerta Berasal dari India?

Sejarah konvensional mengaitkan bahasa Sansekerta dengan Pāṇini, seorang pakar tata bahasa dari wilayah yang kini disebut Pakistan. Pāṇini menulis Aṣṭādhyāyī pada abad ke-5 SM, yang berisi 3.959 aturan tata bahasa Sansekerta. Namun, bukti tertulis yang lebih tua dari itu tidak ditemukan di India.

Aksara yang dianggap sebagai asal-usul Sansekerta, seperti Brahmi dan Devanagari, baru muncul sekitar abad ke-3 SM hingga abad ke-11 M. Jika memang Sansekerta sudah ada sejak ribuan tahun sebelumnya, mengapa bukti tertulis tertua di India baru muncul jauh belakangan?

Sebaliknya, Nusantara telah memiliki aksara sendiri yang lebih tua dan berkembang, seperti aksara Kawi, Pallawa, dan lainnya, yang erat kaitannya dengan Sansekerta.

Itulah data narasi dari akun FB Bumi Pusaka. Lebih lengkapnya, silahkan ikuti “Menelusuri Asal-Usul Bahasa Sansekerta: Warisan Nusantara yang Terlupakan”.

Kini sudah saatnya kita menggali kembali kejayaan nenek moyang dan bangga terhadap warisan budaya yang telah diwariskan. Nusantara bukan hanya penerima pengaruh, tetapi justru sumber dari banyak peradaban dunia!

Beralasan ketika pemerintah Indonesia sebagaimana disampaikan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, ingin menjadikan Indonesia sebagai “Ibukota Budaya Dunia”.

 

Catatan Penulis:

(*) Pusat pembelajaran besar bernama Dharma Phala di Swarnadwipa (Sumatra) tidak dapat ditemukan dalam catatan sejarah atau sumber terpercaya mana pun.

Kemungkinan nama, “Dharma Phala” adalah nama fiktif, yang merujuk pada konsep umum (Dharma yang berarti kebenaran atau ajaran, dan Phala yang berarti buah atau hasil).

Sementara Swarnadwipa adalah nama Sansekerta kuno untuk pulau Sumatra, yang secara harfiah berarti “pulau emas”. Pada masa lalu, Sumatra adalah pusat perdagangan dan pembelajaran Buddha yang penting di Asia Tenggara, terutama Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang.

Swarnadwipa memang memiliki sejarah yang kaya sebagai pusat pembelajaran Buddha kuno, namun belum ada bukti, yang menunjukkan adanya pusat pembelajaran besar spesifik bernama “Dharma Phala” di Nusantara. (PAR/nng/fbbumipusaka)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *